One Piece | Kekuatan Bajak Laut Topi Jerami? #2 – Potensi Hubungan

(<– Baca dulu part 1)

Sudahkah kalian tahu bahwa sekarang ada Armada Besar Bajak Laut Topi Jerami? Kalo lu cuma nonton animenya dan nggak baca manganya..

(SPOILER ALERT!)

Cerita singkatnya, setelah Bajak Laut Topi Jerami berhasil mengalahkan seluruh Bajak Laut Donquixote di Kerajaan Dressrosa, hampir semua teman seperjuangannya memutuskan untuk bergabung dengan Bajak Laut Topi Jerami sebagai anak buahnya. Walaupun ide gabungan itu ditolak oleh Luffy sendiri namun akhirnya mereka memilih untuk tetap berhubungan dan jika ada satu yang kesusahan maka yang lain akan tetap membantu; mereka tidak harus terikat dalam satu wadah Bajak Laut Topi Jerami namun mereka tetap dalam satu hubungan persahabatan *asek.

Lu tau gimana Bajak Laut Topi Jerami hanya mempunyai 9 anggota? Jika seluruhnya ditambah dengan Armada Besar Bajak Laut Topi Jerami ini maka jumlahnya meroket hingga 5649 anggota! Bahkan, Armada Besar Bajak Laut Topi Jerami merupakan grup bajak laut terbesar dalam dunia One Piece (minimal yang baru kita ketahui sekarang dalam manga).

Btw, siapa sajakah mereka? Continue reading

One Piece | Kekuatan Bajak Laut Topi Jerami? #1 – Hubungan

Bajak Laut Topi Jerami (Strawhat Pirates), seperti yang telah diketahui seluruh penggemar One Piece, adalah komplotan bajak laut yang sangat kuat, yang telah melakukan berbagai aksi luar biasa serta kapten dengan keluarga yang nggak biasa. Di sini, gue nggak akan ngebahas satu per satu anggota Bajak Laut Topi Jerami untuk mengukur seberapa jauh kekuatan mereka (karena kalian dah pasti tau juga) namun ternyata, mereka memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Continue reading

One Piece | Ton Ton vs Kilo Kilo

Dalam serial One Piece, Buah Iblis (Devil Fruit) adalah salah satu sumber utama kekuatan super yang dimiliki oleh setiap tokoh. Ada banyak sekali jenis Buah Iblis dan masing-masing Buah Iblis memiliki kekuatannya masing-masing. Jika ada seseorang memakan salah satu Buah Iblis tersebut maka dirinya akan memiliki kekuatan yang ada di dalam Buah Iblis tersebut. Sebagai ganti kekuatan baru tersebut, orang yang telah memakan Buah Iblis tidak dapat berenang dalam semua jenis perairan. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi para bajak laut ataupun angkatan laut jika ingin memakan salah satu Buah Iblis karena efeknya.

Di dalam dunia One Piece, terdapat Buah Iblis yang memiliki keterkaitan atau hubungan dengan Buah Iblis yang lain. Contohnya, Mogu Mogu no Mi (Magma-Magma) milik Akainu yang lebih kuat dibanding dengan Mera Mera no Mi (Api-Api) milik Portgas D. Ace. Salah satu contoh lain, Goro Goro no Mi (Petir-Petir) miliki Enel tidak memiliki efek sama sekali jika digunakan kepada Monkey D. Luffy yang memiliki Gomu Gomu no Mi (Karet-Karet) sebab pada dasarnya, karet memilik sifat tidak bisa menghantarkan listrik dengan baik.

Salah satu hubungan Buah Iblis yang menjadi bahan pembicaraan saya kali ini adalah Ton Ton no Mi (Ton-Ton) milik Machvise, anggota Bajak Laut Donquixote (Donquixote Pirates) dengan Kilo Kilo no Mi (Kilo-Kilo) milik Miss Valentine, anggota Baroque Works.  Continue reading

One Piece | Baby 5 and Feeling Needed

One Piece memiliki segudang cerita latar belakang atau background story dari para tokohnya yang amat menarik. Kita tidak hanya berbicara tentang kisah masing-masing anggota Bajak Laut Topi Jerami (Straw Hat Pirates) namun ada satu kisah latar belakang yang menarik perhatian saya. Tokoh ini bukanlah tokoh protagonis utama, juga bukan tokoh antagonis utama, malah hanya seorang tokoh antagonis sampingan. Seorang mantan anggota dari Bajak Laut Donquixote (Donquixote Pirates), anak buah Donquixote Doflamingo, Baby 5. Continue reading

Syair “Ulangan Fisika”

Ulangan Fisika

Oleh Stanislaus Demokrasi Sandyawan

Apakah hamba harus melakukan ini?
Butir demi butir soal kulewati
Tak satupun yang kumengerti
Hanya hampa yang ada di pikiran ini

Hamba bukan mesin berjalan
Bukan pemuda yang mencari jawaban
Hamba hanyalah mahluk pencari “Tuhan”
Mencari kepastian di waktu depan

Aku rindu satu kali empat
Bukan lima sepertiga kuadrat
Atau massa kalsium karbonat
Bahkan hukum alam sejagat

Angka rumit bagai mencari arti kehidupan
Menghitung koma aku tidak tahan
Kertas hanya sebatas hiasan
Kehadiran-Mu Tuhan kuperlukan

Wahai Fisika yang hamba benci
Mengapa engkau datang menghampiri?
Dentuman jam bagai lagu mati
Mengangkat tangan hingga ajal menanti Continue reading

Satu-Satunya

“Bukankah kehadiran seseorang dapat membuatmu lebih kuat? Apalah arti eksistensi jika tidak pernah diperhatikan. Apalah arti seorang raja singa yang sendirian berada di sebuah kandang. Mahluk hidup membutuhkan mahluk hidup lain, itulah yang telah ditentukan oleh Tuhan sejak alam semesta ini dijadikan oleh-Nya” Sayu menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali dengan teratur. Ia melihat paragraf yang baru saja dibuatnya di buku khususnya. Ia tersenyum, tampak puas terlihat di wajahnya. Buku kecil itupun ditutupnya dan ditaruh di pinggir meja untuk membuat area mejanya lebih luas agar dia dapat tidur sejenak dengan meletakkan kepalanya di atas meja.

Belum sempat ia berhasil tertidur, pundaknya ditepuk oleh sebuah tangan lembut. “Hey Sayu, haruskah kau tidur di waktu seperti ini? Atau lebih tepatnya, bisakah kau tidur dengan suasana ramai seperti ini?” kata seorang perempuan manis yang berdiri di belakang Sayu. Sayu melihat ke belakang dengan perlahan, masih ogah-ogahan untuk mengangkat kepalanya yang telah terasa berat.

“Kau tahu, Farah? Tidur menurutku adalah kegiatan yang paling, paling menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kau seharusnya sudah tahu itu” kata Sayu yang masih ogah-ogahan dengan nada sedikit mengintimidasi. Farah hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban atas apa yang sahabatnya telah katakan. “Ya iya, aku tahu. Kita sudah sahabatan selama 1 tahun, mana mungkin aku akan lupa?” katanya sambil tersenyum kecil. Sayu puas akan jawaban tersebut. Ia mempersilahkan sahabatnya untuk duduk di sampingnya dengan menepuk-nepukkan bangku panjang tempat dia duduk.

“Sudahkan kau memilih ekskul? Sekolah ini memiliki banyak sekali ekskul. Aku saja sampai bingung mau milih yang mana” kata Farah membuka pembicaraan.

Sayu berpikir sejenak. “Mungkin aku akan mengikuti ekskul Klub Bahasa Indonesia lagi, entahlah. Aku ingin memilih eksul berbeda namun aku tidak yakin memiliki bakat di bidang lain selain bahasa” jawab Sayu dengan nada putus asa.

“Hm, kau ingin menulis lagi, ya? Boleh juga, aku dukung kok! Oh iya, tadi ada seseorang menawariku untuk ikut dalam ekskul Modern Dance. Bagaimana menurutmu?” tanya Farah.

“Tentu saja, kamu sudah pernah menari di SMP sebelumnya, kan? Ikuti saja, aku yakin kamu bisa berprestasi!” jawab Sayu dengan penuh semangat. Jujur, Sayu merasa bangga atas Farah. Farah memiliki segudang bakat di dalam dirinya yang membuat Sayu kagum. Sayu sendiri adalah murid yang tidak menonjol dalam bidang akademik, seni maupun olahraga namun ia adalah seorang penulis cerpen yang hebat. Ia bahkan pernah menulis beberapa cerpen yang diterbitkan di majalah sekolah, Harmonia.

“Terima kasih atas dukunganmu, Sayu! Telah kutentukan, aku akan mengikuti ekskul Modern Dance. Aku sekarang akan pergi untuk mendaftar. Semoga mereka belum menutup pendaftarannya. Sampai nanti!” kata Farah sambil beranjak dari tempat duduknya lalu melambaikan tangan kanannya ke arah Sayu seraya pergi berlari kecil. Sayu tersenyum melihat sahabatnya senang seperti itu. Mau bagaimanapun, dialah satu-satunya.

Keesokan harinya, Sayu kembali duduk di tempat yang sama. Ia tetap membawa buku khususnya. “Hal yang baru tidaklah selalu lebih baik dari yang lama. Jika tidak bisa melepaskan yang lama, bagaimana bisa melanjutkan hidup dengan yang baru? Maka seluruh perjuangan yang telah dilakukan akan menjadi sia-sia hanya karena yang baru tidak bisa menggantikan posisi yang lama” Sayu tersenyum kecil melihat coretan pensil yang baru ia buat di buku khususnya.

Ia membalik-balikkan halaman demi halaman buku khususnya tersebut. Buku khusus itu memang juga berfungsi sebagai buku harian. Sejak masuk ke SMA ini, baginya adalah ide yang bagus untuk memiliki sebuah buku harian untuk mencatat setiap kejadian yang ia alami setiap hari di sekolah barunya ini. Namun halaman demi halaman pertama buku hariannya diisi dengan kata-kata sedih. Sayu memang bukanlah anak yang mencolok sehingga kesendirian menjadi santapan sehari-harinya sejak SMP. Pernah ia memutuskan untuk membuang buku hariannya karena hidupnya memang terasa datar, tidak ada yang menarik untuk ditulis.

Sayu merasa sedih ketika ia mengingat saat-saat dimana ia menjadi seorang yang selalu sendiri ketika jam istirahat. Waktunya ia habiskan hanya duduk di meja hijau, di bawah pohon-pohon rindang. Hal itu terus berlanjut sampai Farah menjadi tokoh baru dalam buku hariannya. Sejak mereka bertegur sapa ketika mereka berada di kantin, mereka telah menjadi sahabat baik selama 1 tahun ini. Sekarang mereka duduk di kelas 11 dan Sayu tidak ingin persahabatan mereka berakhir begitu saja.

Lamunannya buyar ketika Farah datang. Sayu mengangkat kepalanya. Saat ini berbeda, Farah datang dengan seorang perempuan lain. “Sayu! Kenalkan ini teman yang mengajakku untuk ikut Modern Dance!” kata Farah amat bersemangat. Sayu dan temannya Farah saling bertatapan sampai akhirnya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Jadi ini sahabat yang kamu ceritakan itu?” tanya perempuan tersebut yang bernama Alisa kepada Farah. Farah mengiyakan dan menceritakan bagaimana dirinya dan Sayu dapat menjadi sahabat. Setelah selesai, Farah berkata kepada Sayu, “Yu, maaf ya, aku harus datang ke pertemuan singkat ekskul Modern Dance sekarang. Kamu tidak apa-apa, kan?” Sebagai seorang sahabat yang baik, Sayu tentu mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Namun agak janggal ia menghabiskan jam istirahat sendirian sejak bersahabat dengan Farah karena ia selalu ditemani olehnya.

Farah dan Alisa pergi meninggalkan Sayu sendirian. Sayu hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia paham betul bahwa sahabatnya ini merasa sangat senang dengan ekskul barunya. Jika ia senang, maka dirinyapun akan ikut senang. Mau bagaimanapun juga, ialah satu-satunya.

Telah seminggu Sayu menghabiskan waktu istirahatnya sendirian. Sejak hari dimana ia berkenalan dengan Alisa, Farah tidak pernah kembali untuk menemani Sayu di meja hijau. Pernah suatu hari, Sayu berjalan menyusuri sekolah untuk mencari Farah. Ia melihat Farah sedang bersama teman-teman barunya di kantin. Karena ia merasa malu untuk menyapanya, ia memutuskan untuk kembali.

“Adaptasi adalah bagian dari alam. Ketika terjadi sebuah perubahan dalam kebiasaan, tradisi maupun siklus hidup pada mahluk hidup maka jalan terbaik adalah untuk beradaptasi dengan perubahan baru. Perubahan tidaklah selalu yang negatif sehingga menerima perubahan adalah satu pilihan yang tepat untuk mengembangkan diri sendiri” Entah mengapa, Sayu menulis kata-kata tersebut dengan perasaan sedih. Ia hanya memikirkan tentang Farah yang akan kembali suatu saat nanti karena bagaimanapun, ialah satu-satunya.

Sayu sudah tidak lagi menghitung berapa hari telah lewat tanpa Farah. Sebenarnya, Sayu selalu melihat Farah setiap saat namun setiap saat itulah, Farah selalu bersama dengan teman-teman barunya. Sayu tetap tidak memiliki keberanian untuk menyapa duluan. Entah apa yang menahannya untuk bertemu dengan sahabatnya.

Sayu bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menulis di buku khususnya lagi. Ia hanya menghabiskan jam istirahat pada hari itu untuk duduk di meja hijau. Ia hanya meletakkan kepalanya di atas meja sambil mengeluarkan air mata.

“Pertemuan dan perpisahan adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial manusia. Manusia hanya bisa berusaha keras untuk mengisi waktu antara pertemuan dan perpisahan itu dengan sebaik mungkin. Apapun yang dipertemukan akan selalu dipisahkan. ‘Mengapa dipertemukan jika nanti akan dipisahkan?’ adalah pertanyaan bodoh. Jika kita dipertemukan dengan seseorang yang nanti akan menjadi seorang teman atau bahkan sahabat maka kita seharusnya beruntung pernah menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya dipisahkan oleh alasan-alasan tertentu yang kadang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan siapapun. Ikatan apapun tidak akan pernah berhasil bahkan janji sekalipun. Hal yang paling menyedihkan dari segala-galanya adalah fakta bahwa hidup akan dipenuhi oleh kesendirian. Tanpa orangtua, tanpa keluarga bahkan tanpa teman sekalipun. Satu-satunya teman telah hilang pada satu-satunya hari dimana seharusnya aku berbahagia. Selamat ulang tahun, diriku”

Dunia Debat Dhanis | Bagian 3: Inilah Kekuatan ‘Jubir Tangsel’!

(Sebelumnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 2: Tantangan Pertama!!)

“Menurut kalian… apakah mereka hebat?” tanya Namira tiba-tiba. Ghozi dan Dhanis yang daritadi mencari informasi dari Internet langsung menghentikan pekerjaan mereka.

“Maksudmu?” tanya Dhanis, memalingkan pandangan kepada Namira.

“Ya lu tau maksud gua. Kalau kita mau ngelawan orang, baik itu aduan nilai, debat atau berantem sekalipun, lebih bagus kalau kita dah tau seberapa besar kemampuan mereka sehingga kita bisa persiapan lebih matang. Ya nggak?” jelas Namira.

Ghozi dan Dhanis bertukar pandangan. “Omongannya Namira ada benernya juga” Begitulah yang ada dipikiran mereka berdua setelah mendengarkan penjelasan Namira.

“Ya kita kan dah tau mereka beberapa kali menang di banyak perlombaan debat, apalagi sampe tingkat provinsi. Menurut gue itu dah hebat banget” kata Ghozi menyampaikan pendapatnya.

“Tapi ada satu yang dari kemaren ngeganggu pikiran gua.. ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’.. apa coba itu? Kok gue nggak pernah denger” komentar Dhanis.

“Ya kan kita dulu masih SMP, mana kita tau. Mungkin itu semacam julukan buat tim-tim debat sekolah di Tangsel yang hebat-hebat. Ngeliat prestasinya tim debat sekolah kita, gue ngerti kenapa kita bisa jadi satu dari empat ‘Jubir Tangsel’ ” kata Namira sambil melanjutkan mengetik di laptopnya.

“Siapa ya tiga lagi?” tanya Ghozi seraya menyendok sesuap nasi dan daging ayam ke mulutnya.

Mereka bertiga langsung terdiam.

“Hey, gimana persiapan kalian?” tanya Diandra yang tiba-tiba udah berdiri di samping Namira.

“Oh, hai kak. Kita tinggal nyari sedikit lagi. Hampir semua argumen dah siap. Ngomong-ngomong, kok kakak di sini?” kata Namira.

“Emang nggak boleh kakak di sini? Kakak kan sekarang bisa dibilang ada di tim kalian juga. Untuk ngalahin tim debat sekolah ini, nggak mudah lhoo… Hehe..” jawab Diandra. Ia lalu duduk bersila di lantai bersama dengan adik-adik kelasnya.

“Kak.. boleh tanya nggak?” tanya Namira, agak ragu.

“Hm? Boleh kok”

“Seberapa kuat sih.. mereka?”

Diandra terlihat sedang berpikir. Ia pun menjawab, “Kalau bukan karena tim debat ‘Jubir Tangsel’ lainnya, kita udah pasti selalu jadi juara 1 di setiap lomba di Tangerang Selatan”

Terkejut, Dhanis refleks bertanya, “SIAPA TIGA LAGI KAK?!” Terlalu bersemangat, ia sampai-sampai berteriak.

Setelah sadar dari efek teriakan Dhanis, Diandra langsung melakukan gestur berbeda. Dia sedang serius.

“Julukan ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’ pertama kali ada satu tahun yang lalu saat Piala Agustusan Walikota. Sekolah kita mengikuti lomba debat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Tangsel untuk memeriahkan perayaan Agustusan. Selain sekolah kita, ada banyak sekolah lain yang ikut. Kita mengalahkan berbagai sekolah lain sampai akhirnya kita berada di Semi Final…”

Dhanis, Ghozi dan Namira menghentikan pekerjaan mereka, mendengar dengan serius apa saja yang dikatakan oleh kakak kelas mereka.

“Dari banyak sekolah yang mengikuti lomba, tersisa 4 yang akan memperebutkan Piala Debat Agustusan Tangsel: SMAN 51 Tangerang Selatan yaitu kita, SMA Generasi Bangsa, SMAN 83 Tangerang Selatan dan SMAN 21 Tangerang Selatan”

Mendengar jawaban tersebut, Dhanis bertanya lagi, “Akhirnya, siapa yang menang, Kak?”

“Yang menang?” kata Diandra, menundukkan kepalanya.

Semuanya terdiam, menunggu jawaban dari Diandra.

“SMA Generasi Bangsa, kedua SMAN 21 Tangerang Selatan, ketiga SMAN 51 Tangerang Selatan dan terakhir… kita, peringkat keempat” jawab Diandra dengan nada sedih.

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Mereka lebih terkejut lagi dengan Diandra yang tadi ceria tiba-tiba jadi sedih.

“Hm, kalian lanjutin aja ya… gue mau liat tim gue dulu…good luck” kata Diandra tersenyum kemudian berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah Diandra sudah hilang dari pandangan, Namira bertanya-tanya, “Kenapa ya.. Kak Diandra?”

***

“Heh…heh…heh….. maaf, kak!…. saya telat.. heh…heh”

“Yaudah nggak pa-pa, lu langsung duduk sana” kata Pram dengan tersenyum.

Dhanis lalu berjalan ke tempat duduk di belakang Ghozi dan Namira. Di depan kelas, tim Diandra dan tim Pram telah mulai beradu debat dengan dimoderatori oleh Timoth.

“Lu ngapain sih telat? Astaga, gue dah takut lu nggak bakal muncul” kata Namira dengan nada pelan.

“Sorry sorry, tadi gue harus BAB dulu di toilet” jawab Dhanis sambil meletakkan tasnya ke bawah meja serta mempersiapkan kertas-kertas debat.

“Yaudahlah Ra, yang penting dia dateng. Kita lihat aja debatnya” kata Ghozi mencoba menenangkan Namira.

“Ngomong-ngomong, gimana debatnya?” tanya Dhanis.

“Masing-masing pembicara pertama udah selesai berargumentasi. Ranira dan Diandra sama-sama hebat lho. Tadi Pram sebagai pembicara kedua juga udah selesai. Sekarang giliran Sefa” jelas Namira dengan mata tetap fokus ke debat yang sedang berlangsung.

“… maka dari itu, apa yang telah diucapkan oleh pembicara kedua dari tim pro adalah hal yang mustahil. Anak-anak remaja apalagi anak-anak SD belum dapat mencerna kurikulum yang baru dengan baik sehingga menyebabkan mereka merasa terbebani oleh banyaknya materi dan tugas yang diberikan oleh guru-”

“Interupsi!”

“-silahkan”

Semua anggota baru terkejut.

“Interupsi apa-apaan itu?! Sefa belum sempat menyelesaikan argumennya namun telah diinterupsi oleh Kak Pram? Ini pelanggaran!” pikir Dhanis seraya mengangkat tangannya untuk berbicara namun langsung ditahan oleh Ghozi.

“Zi, apa-apaan?! Kak Timoth sebagai moderator salah-”

“Sst, diam dulu, Dhan. Gue juga berpikir sama seperti lu tapi inget nggak kata Kak Timoth kalau Kak Pram punya kemampuan khusus?” kata Ghozi mencoba mengingatkan Dhanis.

Dhanis terkejut. “Kemampuan khusus? Apa ini yang dimaksud Kak Timoth minggu lalu?” Pikiran Dhanis langsung kacau balau memikirkan hal tersebut.

“Anda baru saja mengatakan kata ‘terbebani’ namun bukankah ini tujuan dari kurikulum 2013? Mengajarkan kepada murid-murid untuk lebih membagi waktu dengan baik?” tanya Pram dalam interupsinya.

Mendengar interupsi Pram, Sefa hanya terdiam. Telihat dari wajahnya bahwa ia sangatlah tegang. Entah kenapa, ia langsung mematung setelah diinterupsi oleh Pram.

“Mohon untuk pembicara kedua dari tim kontra untuk berbicara kembali” kata Timoth setelah melihat reaksi dari Sefa.

Sefa tersadar dan langsung mencoba mengatakan sesuatu namun selalu tersendat seperti ia tidak bisa mengatakan hal tersebut. Ia melihat teks yang ia bawa namun tetap saja ia tidak bisa mengatakan apapun.

“Sepertinya pembicara kedua tidak dapat melanjutkan argumennya maka debat ini akan dilanjutkan dengan pembicara ketiga dari tim pro” lanjut Timoth.

Sefa kemudian berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Ia duduk namun tetap diam mematung.

“Apa… apaan?! Kenapa kau, Sefa?” pikir Dhanis. Ia kini merasa marah namun juga bingung.

“Apa yang baru saja Kak Pram lakukan?” tanya seluruh anggota baru dalam pikiran mereka.

“..dan karena itulah, saudara-saudari, kurikulum 2013 adalah kurikulum yang tepat untuk menjadi jawaban atas berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Dengan anda mendukung kurikulum 2013 maka anda telah mendukung perubahan generasi bangsa Indonesia yang lebih baik! Terima kasih” Daffa menyelesaikan kata penutupnya sebagai kesimpulan dengan sangat baik, seperti biasanya. Kata penutupnya bahkan seakan-akan sanggup membuat semua orang di kelas untuk setuju atas pernyataannya.

“Jelas sekali, tim debat sekolah ini bukanlah lelucon semata. Mereka benar-benar adalah tim yang sangat hebat!” ucap Dhanis, semakin bersemangat untuk menghadapi mereka.

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 4: Interupsi Kematian)