Berpikir Positif: Masih vs Tinggal

Bosan.

Walaupun tubuhku berada dalam ruang sempit ini, pikiranku berkelana bebas di dunia lain. Bukan di alam bawah sadar atau dimensi lain yang diceritakan dalam film horor, Insidious namun di sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dan tidak akan pernah aku lihat dengan kedua mataku, yakni Inggris pada tahun 1800-an.

Sedikit misterius memang bahwa 300 lembar kertas yang sangat tipis dan rapuh bisa membawamu ke dunia yang takkan pernah disentuh manusia mana pun. Dunia itu hanya ada dalam pikiran manusia; muncul saat kita membaca kata pertama dan hilang seraya kita berhenti mengucap.

Petualangan duo Sherlock Holmes dan Dr. Watson tidak akan pernah berhenti untuk membuat diriku terus membaca, terkagum dan terheran-heran. Bagaimana Holmes dapat memecahkan kasus-kasus sulit dengan kemampuan nalar serta logika yang di luar batas, dengan ditemani seorang sahabat sekaligus rekan kerja yang setianya bukan main.

Aku memuji diriku karena dapat duduk di bangku paling belakang sehingga bisa bertemu dengan dua orang hebat dari masa lalu tersebut. Persaingan di kelas memang bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan nilai paling bagus atau prestasi terbanyak namun justru persaingan terketat dari semua kompetisi mana pun di dunia adalah mendapatkan bangku sebelakang mungkin dari papan tulis.

Terkesan agak hiperbola tetapi bukanlah omong kosong. Aku harus bersaing dengan 15 teman laki-laki di kelasku setiap pagi hari selama 3 tahun untuk dapat menaruh tasku di bangku paling belakang dan dengan bangga mendeklarasikan, “Ini bangku gue, lu pindah”

Buku mata pelajaran PKN terbuka lebar di atas meja namun perhatianku tetap tertuju pada novel yang secara sembunyi-sembunyi aku buka di bawah meja. Samar-samar aku mendengar 3 orang temanku sedang presentasi di depan kelas, entah kepada siapa. Siapapun pasti sependapat bahwa tidak ada yang memperhatikan.

Malah apa yang mereka lakukan itu tidak layak disebut ‘presentasi’, mereka hanya murni membaca indah slideshow Powerpoint yang diperlihatkan dengan proyektor di depan kelas tanpa bermaksud menjelaskan apapun. Ditambah lagi, materi yang mereka baca hanya copy-paste dari buku paket sehingga apa yang mereka ‘presentasi’-kan sudah lengkap ada di buku.

Ya bagaimana orang  mau memperhatikan kalau begitu.

Aku duduk bersama dengan temanku, Julio, yang juga sedang membaca buku tetapi buku itu berbanding terbalik dengan apa yang aku baca. ‘Avatar: The Last Airbender’ judulnya. Aang dan Holmes berasal dari tempat yang berbeda, umur mereka layaknya seorang kakek dan cucu, kemampuan mereka pun bagaikan pikiran tercerdas melawan hembusan angin terkuat namun petualangan mereka berdua sama-sama dapat menceritakan kisah yang menarik hati sekaligus menggugah jiwa.

Aku dan Julio adalah dua dari korban kebosanan dan ketidakpedulian yang melanda kelas saat ini, menjadikan kami lebih memilih menjelajahi serunya dunia fantasi ketimbang belajar di dunia nyata.

Sherlock Holmes sedang mencari petunjuk di Baskerville ketika bel sekolah berbunyi pendek, menandakan pelajaran telah berjalan selama 45 menit. Bel itu seakan menarik Julio dari Kerajaan Bumi kembali ke ruang kelas XI MIPA 3. Ia melihat jam tangannya lalu kemudian mengeluh kecewa, “Yah, masih satu setengah jam lagi”

Aku menghentikan Holmes yang sedang menjelaskan hasil penyelidikannya dan tanpa berpikir panjang berkata kepada Julio, “Bukan masih satu setengah jam lagi, tinggal satu setengah jam lagi, Jul”

Tanpa menatapnya secara langsung, aku bisa merasakan hawa kebingungannya karena mendengar aku berkata seperti itu. Tentu saja, aku meneruskan, “Kalau kita berkata masih satu setengah jam lagi, waktu akan berjalan lebih lama. Beda kalau kita berkata tinggal satu setengah jam lagi. Waktu itu relatif, Jul. Cepat-lamanya waktu bergantung pada konsep pemikiran kita terhadap waktu itu sendiri.”

“Sebenarnya nggak selalu soal waktu tetapi lebih kepada bagaimana kita berpikir positif. Contohnya kita punya segelas es teh manis lalu kita minum setengahnya. Kalau kita berpikir negatif, kita akan mengatakan, ‘Yah, tinggal setengah’. Tetapi kalau kita berpikir positif, kita harus mengatakan, ‘Yes, masih setengah’. Dengan kita memakai kata ‘masih’, kita mengakui bahwa ada masih ada kesempatan untuk menikmati setengah gelas es teh itu, bukan justru kecewa karena kita telah meminum es teh itu sehingga tinggal setengahnya.”

Aku mengatakan hal itu panjang lebar dan Julio mengangguk, mungkin ia mengerti, mungkin saja malah tidak sama sekali. Kemudian, aku mempersilahkan Holmes untuk melanjutkan penjelasannya. Aku tidak percaya bahwa kata-kata yang baru saja aku ucapkan tadi, yang tidak kupikirkan sebelumnya, justru membuatku dan Julio memahami bagaimana mudahnya berpikir positif terhadap kehidupan.

(Cerita ini merupakan cerita nyata dengan sedikit perubahan)

Doa untuk Mereka yang Celaka

Sudah pukul 5 sore dan saya masih mengendarai mobil tua ini di jalan yang sudah saya kenal 30 tahun lamanya. Agak terasa nostalgia memang, jalan yang dulunya sepi, tidak terjamah malah beberapa tahun terakhir ini dikuasai oleh ‘mesin-mesin berjalan’ akibat banyak pabrik yang dibangun di sana dan sini.

Saya masih ingat betul betapa jalan ini sangatlah sepi sampai-sampai saya dan teman-teman saya bisa duduk di tengah jalan selama 10 menit sambil bermain kartu tanpa satu kendaraan pun membunyikan klakson.

Kiri-kanan ditumbuhi kelapa sawit, udaranya sejuk-sejahtera dan angin memeluk nyaman. Kalau sekarang, jalan yang dahulu jarang orang lewat berubah menjadi jalan lintas provinsi dengan debu yang amat kental di udara. Alhasil, kelilipan adalah hukuman bagi mereka yang membiarkan matanya terbuka bebas sebebas-bebasnya.

Agaknya, perkembangan kota ini selayaknya patut menerima penghargaan namun polusinya, ya Tuhan, juga satu di antara yang terparah.

Entah mengapa saya jadi merenungi sejarah dari jalan ini, mungkin karena merasa bosan. Di kelas mengemudi, saya paham betul kalau sedang mengemudi, kedua mata dilarang keras mengkhianati jalan. Tetapi kalau berhentinya lebih lama daripada bergeraknya ya apa boleh buat.

Saya tidak heran mengapa jalan pada sore hari ini begitu macet tetapi berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun menjadi pelanggan setia jalan ini, seharusnya tidak semacet ini. Sudah lebih dari 5 menit saya berada di posisi yang sama.

“Kok lama banget toh ya…” keluh saya dalam kebosanan yang luar biasa. Dalam keadaan seperti ini lah saya memarahi diri saya sendiri karena tidak segera membetulkan radio mobil yang telah lama rusak.

Selain bosan, saya juga kangen dengan keluarga di rumah. Biasanya jam segini, saya sudah berada di rumah, menonton berita di TV sambil minum teh hangat dan mendengarkan ributnya kedua anak saya yang berisik minta ampun. Lebih baik saya mendengarkan ocehan mereka daripada mendengarkan berisiknya kendaraan lalu-lalang, klakson dan para supir angkot yang mengumpat bersahutan.

Lama-lama berdiam di sini, rasa kesabaran saya juga diam-diam hilang. Tanpa berpikir panjang, saya bunyikan klakson saya, menandakan bahwa saya ikut berpartisipasi dalam pesta klakson yang sudah dimulai dari tadi. Walaupun tidak ada faedahnya sama sekali, paling tidak rasa kekesalan saya bisa diluapkan dengan bunyi klakson itu.

Kemudian saya melihat tiga orang anak SMA berjalan dengan gelisah di trotoar jalan. Saya dari dalam mobil hanya bisa mendengarkan secara samar-samar namun mereka mengatakan sesuatu tentang ‘kecelakaan’.

Oh, kecelakaan. Jadi itu yang menjadi penyebab kemacetan ini. Kecelakaan memang kerap terjadi di jalan ini, kebanyakan kecelakaan motor namun jarang yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin karena sudah bertahun-tahun melewati jalan ini, mendengar kabar bahwa ada kecelakaan yang terjadi tidaklah mengejutkan.

Saya menghembuskan napas panjang lalu meletakkan kepala saya di atas stir mobil, berusaha untuk santai sedikit. Dalam hati, saya hanya berharap agar macetnya cepat selesai, saya bisa sampai di rumah dan beristirahat dengan enak.

Tiba-tiba suara ketukan membangunkan saya. Saya melihat ke arah jendela mobil dan mendapati ada seorang anak berseragam SMA sedang berdiri di samping mobil. Saya menurunkan kaca jendela dan anak itu membungkukkan badannya agar kami bisa bertatap muka.

“Ada apa, Dek?” tanya saya dengan nada agak kesal, mungkin karena saya tiba-tiba dibangunkan olehnya atau macet yang berkepanjangan ini.

“Permisi, Pak, maaf. Saya hanya ingin memberitahu saja bahwa di depan ada kecelakaan, mobil nabrak motor. Seorang bapak yang naik motor itu meninggal di tempat” kata anak itu.

Saya jelas sangat terkejut mendengar penjelasan anak itu. Ternyata kecelakaan tersebut memakan korban jiwa. Saya merasa sedikit bersalah karena saya sudah membunyikan klakson dan kesal karena kemacetan ini, padahal ada seseorang yang meninggal tanpa sepengetahuan saya.

“Mm, mohon maaf, Pak, jika saya bertanya ini tetapi… apakah Bapak seorang Islam?” tanya anak itu dengan hati-hati, mungkin takut menyinggung tetapi tetap saja saya terkejut mendengar pertanyaan pribadi-agak-sensitif seperti itu.

“Oh, bukan, Dek, saya seorang Katolik” jawab saya mantap.

“Oh… Katolik, ya. Sebentar, Pak” katanya lalu berdiri dan celingak-celinguk mencari sesuatu atau seseorang. “Kristo! Kristo! Sini!” teriaknya. Setelah memanggil nama tersebut, ia lalu berkata kepada saya, “Bapak, silahkan berdoa dengan sepenuh hati bersama teman saya ini. Terima kasih, Pak” katanya dengan tersenyum lalu berjalan ke arah mobil di belakang saya.

Setelah ia pergi, seorang anak SMA lain mendatangi saya. “Selamat sore, Pak, nama saya Kristo. Bapak seorang Katolik? Mari, Pak, kita berdoa bersama untuk para korban kecelakaan di depan, khususnya untuk seorang bapak yang meninggal agar jiwanya dapat kembali ke sisi Allah Bapa dan yang ditinggalkan dapat menerima dengan tabah”

Saya amat sangat terkejut mendengar perkataan Kristo. Namun sebelum saya berpikir lebih panjang, Kristo membuat Tanda Salib. Secara spontan, saya pun juga mengikuti dirinya dalam doa dengan membuat Tanda Salib. Kristo memimpin doa dengan hikmat di tengah hiruk-pikuk jalan ini.

Kami memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan hidup yang boleh kami terima sampai sekarang ini serta doa permohonan atas para korban: kesembuhan bagi yang terluka dan keselamatan jiwa bagi yang meninggal lalu menutupnya dengan doa Bapa Kami.

Kekesalan yang saya rasakan lama-kelamaan hilang selama saya berdoa bersama Kristo. Saya terjerumus dalam kekuataan doa yang damai dan menyejukkan. Sekiranya anak-anak SMA ini tidak datang menghampiri saya, mungkin saya akan tetap kesal dan lupa akan kewajiban saya sebagai orang yang beragama untuk mendoakan mereka yang tertimpa musibah. Seakan-akan Tuhan mengingatkan saya dengan mengirim anak-anak ini.

Setelah kami sama-sama mengakhiri doa dengan Tanda Salib, saya memandang Kristo sejenak lalu mengucapkan terima kasih. Saya lalu memuji Kristo dan temannya tadi yang telah berinisiatif untuk mengajak para pengendara yang terjebak macet untuk mendoakan para korban daripada menyimpan kemarahan di dalam hati.

“Terima kasih, Pak, ini sebenarnya inisiatif Rasyid, itu teman saya yang tadi pertama kali mennghampiri Bapak. Kami ada 9 orang, tadinya sedang berjalan pulang dari sekolah lalu kami sadar ada kecelakaan makanya macet. Kami berniat menolong tapi sudah ada banyak orang lain yang menolong. Nah, si Rasyid merasa kesal sendiri karena ada kecelakaan kok orang-orang malah membunyikan klakson lah, yang mengumpat lah. Jadi, dia berinisiatif untuk mengajak para pengendara untuk berdoa bersama sesuai agama masing-masing. Makanya tadi Rasyid memanggil saya karena Bapak dan saya sama-sama beragama Katolik sehingga doanya lebih hikmat. Seperti itu, Pak” jawabnya panjang lebar.

Saya sangat terpukau mendengar penjelasan Kristo, luar biasa bahwa mereka bisa membawa kedamaian di hati para pengendara dengan perbuatan yang suci pula. Setelah itu, Kristo undur diri dan berjalan ke belakang antrian kendaraan.

Kemudian, saya menutup kaca jendela saya dan melihat ke arah mobil yang ada di depan saya. Suara-suara klakson itu sudah mulai berhenti. Rasyid, Kristo dan teman-temannya sungguh melakukan perbuatan yang mulia. Saya membuat Tanda Salib lagi dan berdoa mohon ampun atas kesalahan yang telah saya perbuat di hari ini.

(Cerita ini tidak mengandung unsur SARA dan bukan cerita asli)

Syair “Ulangan Fisika”

Ulangan Fisika

Oleh Stanislaus Demokrasi Sandyawan

Apakah hamba harus melakukan ini?
Butir demi butir soal kulewati
Tak satupun yang kumengerti
Hanya hampa yang ada di pikiran ini

Hamba bukan mesin berjalan
Bukan pemuda yang mencari jawaban
Hamba hanyalah mahluk pencari “Tuhan”
Mencari kepastian di waktu depan

Aku rindu satu kali empat
Bukan lima sepertiga kuadrat
Atau massa kalsium karbonat
Bahkan hukum alam sejagat

Angka rumit bagai mencari arti kehidupan
Menghitung koma aku tidak tahan
Kertas hanya sebatas hiasan
Kehadiran-Mu Tuhan kuperlukan

Wahai Fisika yang hamba benci
Mengapa engkau datang menghampiri?
Dentuman jam bagai lagu mati
Mengangkat tangan hingga ajal menanti Continue reading

Satu-Satunya

“Bukankah kehadiran seseorang dapat membuatmu lebih kuat? Apalah arti eksistensi jika tidak pernah diperhatikan. Apalah arti seorang raja singa yang sendirian berada di sebuah kandang. Mahluk hidup membutuhkan mahluk hidup lain, itulah yang telah ditentukan oleh Tuhan sejak alam semesta ini dijadikan oleh-Nya” Sayu menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali dengan teratur. Ia melihat paragraf yang baru saja dibuatnya di buku khususnya. Ia tersenyum, tampak puas terlihat di wajahnya. Buku kecil itupun ditutupnya dan ditaruh di pinggir meja untuk membuat area mejanya lebih luas agar dia dapat tidur sejenak dengan meletakkan kepalanya di atas meja.

Belum sempat ia berhasil tertidur, pundaknya ditepuk oleh sebuah tangan lembut. “Hey Sayu, haruskah kau tidur di waktu seperti ini? Atau lebih tepatnya, bisakah kau tidur dengan suasana ramai seperti ini?” kata seorang perempuan manis yang berdiri di belakang Sayu. Sayu melihat ke belakang dengan perlahan, masih ogah-ogahan untuk mengangkat kepalanya yang telah terasa berat.

“Kau tahu, Farah? Tidur menurutku adalah kegiatan yang paling, paling menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kau seharusnya sudah tahu itu” kata Sayu yang masih ogah-ogahan dengan nada sedikit mengintimidasi. Farah hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban atas apa yang sahabatnya telah katakan. “Ya iya, aku tahu. Kita sudah sahabatan selama 1 tahun, mana mungkin aku akan lupa?” katanya sambil tersenyum kecil. Sayu puas akan jawaban tersebut. Ia mempersilahkan sahabatnya untuk duduk di sampingnya dengan menepuk-nepukkan bangku panjang tempat dia duduk.

“Sudahkan kau memilih ekskul? Sekolah ini memiliki banyak sekali ekskul. Aku saja sampai bingung mau milih yang mana” kata Farah membuka pembicaraan.

Sayu berpikir sejenak. “Mungkin aku akan mengikuti ekskul Klub Bahasa Indonesia lagi, entahlah. Aku ingin memilih eksul berbeda namun aku tidak yakin memiliki bakat di bidang lain selain bahasa” jawab Sayu dengan nada putus asa.

“Hm, kau ingin menulis lagi, ya? Boleh juga, aku dukung kok! Oh iya, tadi ada seseorang menawariku untuk ikut dalam ekskul Modern Dance. Bagaimana menurutmu?” tanya Farah.

“Tentu saja, kamu sudah pernah menari di SMP sebelumnya, kan? Ikuti saja, aku yakin kamu bisa berprestasi!” jawab Sayu dengan penuh semangat. Jujur, Sayu merasa bangga atas Farah. Farah memiliki segudang bakat di dalam dirinya yang membuat Sayu kagum. Sayu sendiri adalah murid yang tidak menonjol dalam bidang akademik, seni maupun olahraga namun ia adalah seorang penulis cerpen yang hebat. Ia bahkan pernah menulis beberapa cerpen yang diterbitkan di majalah sekolah, Harmonia.

“Terima kasih atas dukunganmu, Sayu! Telah kutentukan, aku akan mengikuti ekskul Modern Dance. Aku sekarang akan pergi untuk mendaftar. Semoga mereka belum menutup pendaftarannya. Sampai nanti!” kata Farah sambil beranjak dari tempat duduknya lalu melambaikan tangan kanannya ke arah Sayu seraya pergi berlari kecil. Sayu tersenyum melihat sahabatnya senang seperti itu. Mau bagaimanapun, dialah satu-satunya.

Keesokan harinya, Sayu kembali duduk di tempat yang sama. Ia tetap membawa buku khususnya. “Hal yang baru tidaklah selalu lebih baik dari yang lama. Jika tidak bisa melepaskan yang lama, bagaimana bisa melanjutkan hidup dengan yang baru? Maka seluruh perjuangan yang telah dilakukan akan menjadi sia-sia hanya karena yang baru tidak bisa menggantikan posisi yang lama” Sayu tersenyum kecil melihat coretan pensil yang baru ia buat di buku khususnya.

Ia membalik-balikkan halaman demi halaman buku khususnya tersebut. Buku khusus itu memang juga berfungsi sebagai buku harian. Sejak masuk ke SMA ini, baginya adalah ide yang bagus untuk memiliki sebuah buku harian untuk mencatat setiap kejadian yang ia alami setiap hari di sekolah barunya ini. Namun halaman demi halaman pertama buku hariannya diisi dengan kata-kata sedih. Sayu memang bukanlah anak yang mencolok sehingga kesendirian menjadi santapan sehari-harinya sejak SMP. Pernah ia memutuskan untuk membuang buku hariannya karena hidupnya memang terasa datar, tidak ada yang menarik untuk ditulis.

Sayu merasa sedih ketika ia mengingat saat-saat dimana ia menjadi seorang yang selalu sendiri ketika jam istirahat. Waktunya ia habiskan hanya duduk di meja hijau, di bawah pohon-pohon rindang. Hal itu terus berlanjut sampai Farah menjadi tokoh baru dalam buku hariannya. Sejak mereka bertegur sapa ketika mereka berada di kantin, mereka telah menjadi sahabat baik selama 1 tahun ini. Sekarang mereka duduk di kelas 11 dan Sayu tidak ingin persahabatan mereka berakhir begitu saja.

Lamunannya buyar ketika Farah datang. Sayu mengangkat kepalanya. Saat ini berbeda, Farah datang dengan seorang perempuan lain. “Sayu! Kenalkan ini teman yang mengajakku untuk ikut Modern Dance!” kata Farah amat bersemangat. Sayu dan temannya Farah saling bertatapan sampai akhirnya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Jadi ini sahabat yang kamu ceritakan itu?” tanya perempuan tersebut yang bernama Alisa kepada Farah. Farah mengiyakan dan menceritakan bagaimana dirinya dan Sayu dapat menjadi sahabat. Setelah selesai, Farah berkata kepada Sayu, “Yu, maaf ya, aku harus datang ke pertemuan singkat ekskul Modern Dance sekarang. Kamu tidak apa-apa, kan?” Sebagai seorang sahabat yang baik, Sayu tentu mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Namun agak janggal ia menghabiskan jam istirahat sendirian sejak bersahabat dengan Farah karena ia selalu ditemani olehnya.

Farah dan Alisa pergi meninggalkan Sayu sendirian. Sayu hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia paham betul bahwa sahabatnya ini merasa sangat senang dengan ekskul barunya. Jika ia senang, maka dirinyapun akan ikut senang. Mau bagaimanapun juga, ialah satu-satunya.

Telah seminggu Sayu menghabiskan waktu istirahatnya sendirian. Sejak hari dimana ia berkenalan dengan Alisa, Farah tidak pernah kembali untuk menemani Sayu di meja hijau. Pernah suatu hari, Sayu berjalan menyusuri sekolah untuk mencari Farah. Ia melihat Farah sedang bersama teman-teman barunya di kantin. Karena ia merasa malu untuk menyapanya, ia memutuskan untuk kembali.

“Adaptasi adalah bagian dari alam. Ketika terjadi sebuah perubahan dalam kebiasaan, tradisi maupun siklus hidup pada mahluk hidup maka jalan terbaik adalah untuk beradaptasi dengan perubahan baru. Perubahan tidaklah selalu yang negatif sehingga menerima perubahan adalah satu pilihan yang tepat untuk mengembangkan diri sendiri” Entah mengapa, Sayu menulis kata-kata tersebut dengan perasaan sedih. Ia hanya memikirkan tentang Farah yang akan kembali suatu saat nanti karena bagaimanapun, ialah satu-satunya.

Sayu sudah tidak lagi menghitung berapa hari telah lewat tanpa Farah. Sebenarnya, Sayu selalu melihat Farah setiap saat namun setiap saat itulah, Farah selalu bersama dengan teman-teman barunya. Sayu tetap tidak memiliki keberanian untuk menyapa duluan. Entah apa yang menahannya untuk bertemu dengan sahabatnya.

Sayu bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menulis di buku khususnya lagi. Ia hanya menghabiskan jam istirahat pada hari itu untuk duduk di meja hijau. Ia hanya meletakkan kepalanya di atas meja sambil mengeluarkan air mata.

“Pertemuan dan perpisahan adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial manusia. Manusia hanya bisa berusaha keras untuk mengisi waktu antara pertemuan dan perpisahan itu dengan sebaik mungkin. Apapun yang dipertemukan akan selalu dipisahkan. ‘Mengapa dipertemukan jika nanti akan dipisahkan?’ adalah pertanyaan bodoh. Jika kita dipertemukan dengan seseorang yang nanti akan menjadi seorang teman atau bahkan sahabat maka kita seharusnya beruntung pernah menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya dipisahkan oleh alasan-alasan tertentu yang kadang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan siapapun. Ikatan apapun tidak akan pernah berhasil bahkan janji sekalipun. Hal yang paling menyedihkan dari segala-galanya adalah fakta bahwa hidup akan dipenuhi oleh kesendirian. Tanpa orangtua, tanpa keluarga bahkan tanpa teman sekalipun. Satu-satunya teman telah hilang pada satu-satunya hari dimana seharusnya aku berbahagia. Selamat ulang tahun, diriku”

Dunia Debat Dhanis | Bagian 3: Inilah Kekuatan ‘Jubir Tangsel’!

(Sebelumnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 2: Tantangan Pertama!!)

“Menurut kalian… apakah mereka hebat?” tanya Namira tiba-tiba. Ghozi dan Dhanis yang daritadi mencari informasi dari Internet langsung menghentikan pekerjaan mereka.

“Maksudmu?” tanya Dhanis, memalingkan pandangan kepada Namira.

“Ya lu tau maksud gua. Kalau kita mau ngelawan orang, baik itu aduan nilai, debat atau berantem sekalipun, lebih bagus kalau kita dah tau seberapa besar kemampuan mereka sehingga kita bisa persiapan lebih matang. Ya nggak?” jelas Namira.

Ghozi dan Dhanis bertukar pandangan. “Omongannya Namira ada benernya juga” Begitulah yang ada dipikiran mereka berdua setelah mendengarkan penjelasan Namira.

“Ya kita kan dah tau mereka beberapa kali menang di banyak perlombaan debat, apalagi sampe tingkat provinsi. Menurut gue itu dah hebat banget” kata Ghozi menyampaikan pendapatnya.

“Tapi ada satu yang dari kemaren ngeganggu pikiran gua.. ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’.. apa coba itu? Kok gue nggak pernah denger” komentar Dhanis.

“Ya kan kita dulu masih SMP, mana kita tau. Mungkin itu semacam julukan buat tim-tim debat sekolah di Tangsel yang hebat-hebat. Ngeliat prestasinya tim debat sekolah kita, gue ngerti kenapa kita bisa jadi satu dari empat ‘Jubir Tangsel’ ” kata Namira sambil melanjutkan mengetik di laptopnya.

“Siapa ya tiga lagi?” tanya Ghozi seraya menyendok sesuap nasi dan daging ayam ke mulutnya.

Mereka bertiga langsung terdiam.

“Hey, gimana persiapan kalian?” tanya Diandra yang tiba-tiba udah berdiri di samping Namira.

“Oh, hai kak. Kita tinggal nyari sedikit lagi. Hampir semua argumen dah siap. Ngomong-ngomong, kok kakak di sini?” kata Namira.

“Emang nggak boleh kakak di sini? Kakak kan sekarang bisa dibilang ada di tim kalian juga. Untuk ngalahin tim debat sekolah ini, nggak mudah lhoo… Hehe..” jawab Diandra. Ia lalu duduk bersila di lantai bersama dengan adik-adik kelasnya.

“Kak.. boleh tanya nggak?” tanya Namira, agak ragu.

“Hm? Boleh kok”

“Seberapa kuat sih.. mereka?”

Diandra terlihat sedang berpikir. Ia pun menjawab, “Kalau bukan karena tim debat ‘Jubir Tangsel’ lainnya, kita udah pasti selalu jadi juara 1 di setiap lomba di Tangerang Selatan”

Terkejut, Dhanis refleks bertanya, “SIAPA TIGA LAGI KAK?!” Terlalu bersemangat, ia sampai-sampai berteriak.

Setelah sadar dari efek teriakan Dhanis, Diandra langsung melakukan gestur berbeda. Dia sedang serius.

“Julukan ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’ pertama kali ada satu tahun yang lalu saat Piala Agustusan Walikota. Sekolah kita mengikuti lomba debat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Tangsel untuk memeriahkan perayaan Agustusan. Selain sekolah kita, ada banyak sekolah lain yang ikut. Kita mengalahkan berbagai sekolah lain sampai akhirnya kita berada di Semi Final…”

Dhanis, Ghozi dan Namira menghentikan pekerjaan mereka, mendengar dengan serius apa saja yang dikatakan oleh kakak kelas mereka.

“Dari banyak sekolah yang mengikuti lomba, tersisa 4 yang akan memperebutkan Piala Debat Agustusan Tangsel: SMAN 51 Tangerang Selatan yaitu kita, SMA Generasi Bangsa, SMAN 83 Tangerang Selatan dan SMAN 21 Tangerang Selatan”

Mendengar jawaban tersebut, Dhanis bertanya lagi, “Akhirnya, siapa yang menang, Kak?”

“Yang menang?” kata Diandra, menundukkan kepalanya.

Semuanya terdiam, menunggu jawaban dari Diandra.

“SMA Generasi Bangsa, kedua SMAN 21 Tangerang Selatan, ketiga SMAN 51 Tangerang Selatan dan terakhir… kita, peringkat keempat” jawab Diandra dengan nada sedih.

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Mereka lebih terkejut lagi dengan Diandra yang tadi ceria tiba-tiba jadi sedih.

“Hm, kalian lanjutin aja ya… gue mau liat tim gue dulu…good luck” kata Diandra tersenyum kemudian berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah Diandra sudah hilang dari pandangan, Namira bertanya-tanya, “Kenapa ya.. Kak Diandra?”

***

“Heh…heh…heh….. maaf, kak!…. saya telat.. heh…heh”

“Yaudah nggak pa-pa, lu langsung duduk sana” kata Pram dengan tersenyum.

Dhanis lalu berjalan ke tempat duduk di belakang Ghozi dan Namira. Di depan kelas, tim Diandra dan tim Pram telah mulai beradu debat dengan dimoderatori oleh Timoth.

“Lu ngapain sih telat? Astaga, gue dah takut lu nggak bakal muncul” kata Namira dengan nada pelan.

“Sorry sorry, tadi gue harus BAB dulu di toilet” jawab Dhanis sambil meletakkan tasnya ke bawah meja serta mempersiapkan kertas-kertas debat.

“Yaudahlah Ra, yang penting dia dateng. Kita lihat aja debatnya” kata Ghozi mencoba menenangkan Namira.

“Ngomong-ngomong, gimana debatnya?” tanya Dhanis.

“Masing-masing pembicara pertama udah selesai berargumentasi. Ranira dan Diandra sama-sama hebat lho. Tadi Pram sebagai pembicara kedua juga udah selesai. Sekarang giliran Sefa” jelas Namira dengan mata tetap fokus ke debat yang sedang berlangsung.

“… maka dari itu, apa yang telah diucapkan oleh pembicara kedua dari tim pro adalah hal yang mustahil. Anak-anak remaja apalagi anak-anak SD belum dapat mencerna kurikulum yang baru dengan baik sehingga menyebabkan mereka merasa terbebani oleh banyaknya materi dan tugas yang diberikan oleh guru-”

“Interupsi!”

“-silahkan”

Semua anggota baru terkejut.

“Interupsi apa-apaan itu?! Sefa belum sempat menyelesaikan argumennya namun telah diinterupsi oleh Kak Pram? Ini pelanggaran!” pikir Dhanis seraya mengangkat tangannya untuk berbicara namun langsung ditahan oleh Ghozi.

“Zi, apa-apaan?! Kak Timoth sebagai moderator salah-”

“Sst, diam dulu, Dhan. Gue juga berpikir sama seperti lu tapi inget nggak kata Kak Timoth kalau Kak Pram punya kemampuan khusus?” kata Ghozi mencoba mengingatkan Dhanis.

Dhanis terkejut. “Kemampuan khusus? Apa ini yang dimaksud Kak Timoth minggu lalu?” Pikiran Dhanis langsung kacau balau memikirkan hal tersebut.

“Anda baru saja mengatakan kata ‘terbebani’ namun bukankah ini tujuan dari kurikulum 2013? Mengajarkan kepada murid-murid untuk lebih membagi waktu dengan baik?” tanya Pram dalam interupsinya.

Mendengar interupsi Pram, Sefa hanya terdiam. Telihat dari wajahnya bahwa ia sangatlah tegang. Entah kenapa, ia langsung mematung setelah diinterupsi oleh Pram.

“Mohon untuk pembicara kedua dari tim kontra untuk berbicara kembali” kata Timoth setelah melihat reaksi dari Sefa.

Sefa tersadar dan langsung mencoba mengatakan sesuatu namun selalu tersendat seperti ia tidak bisa mengatakan hal tersebut. Ia melihat teks yang ia bawa namun tetap saja ia tidak bisa mengatakan apapun.

“Sepertinya pembicara kedua tidak dapat melanjutkan argumennya maka debat ini akan dilanjutkan dengan pembicara ketiga dari tim pro” lanjut Timoth.

Sefa kemudian berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Ia duduk namun tetap diam mematung.

“Apa… apaan?! Kenapa kau, Sefa?” pikir Dhanis. Ia kini merasa marah namun juga bingung.

“Apa yang baru saja Kak Pram lakukan?” tanya seluruh anggota baru dalam pikiran mereka.

“..dan karena itulah, saudara-saudari, kurikulum 2013 adalah kurikulum yang tepat untuk menjadi jawaban atas berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Dengan anda mendukung kurikulum 2013 maka anda telah mendukung perubahan generasi bangsa Indonesia yang lebih baik! Terima kasih” Daffa menyelesaikan kata penutupnya sebagai kesimpulan dengan sangat baik, seperti biasanya. Kata penutupnya bahkan seakan-akan sanggup membuat semua orang di kelas untuk setuju atas pernyataannya.

“Jelas sekali, tim debat sekolah ini bukanlah lelucon semata. Mereka benar-benar adalah tim yang sangat hebat!” ucap Dhanis, semakin bersemangat untuk menghadapi mereka.

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 4: Interupsi Kematian)

Dunia Debat Dhanis | Bagian 2: Tantangan Pertama!!”

(Sebelumnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 1: Debat?)

“Yang lain, ayo, jangan takut untuk membuat argumenmu sendiri karena itulah inti dari debat, berargumentasi. Daffa dan Dhanis tadi jelas memiliki argumen yang saling bertentangan namun keduanya berhasil mempertahankan argumen masing-masing. Itulah debat!”

Entah kenapa, semua anggota baru hanya menyimak kata-kata tersebut dengan terkagum-kagum. Mereka semua setuju bahwa kakak laki-laki yang baru saja datang itu memiliki kharisma yang luar biasa, mampu membawa suasana ruangan berubah drastis, dari yang tadi tegang menjadi bersemangat.

“Oke, oke, kita mulai dari perkenalan dulu. Kami akan memperkenalkan diri kami lalu kalian. Oke?” tanya kakak laki-laki itu lagi.

Semua anggota baru mengangguk.

Timoth memberikan gestur agar semua kakak kelas berbaris di depan. Kemudian Timoth membuka sesi perkenalan ekskul debat, “Selamat siang para anggota ekskul debat SMAN 51 Tangerang Selatan tahun pelajaran 2015-2016. Perkenalkan nama saya, Timothy Sagara, panggil saja Timoth. Saya akan memperkenalkan para anggota ekskul debat yang telah masuk ekskul ini satu tahun sebelum kalian masuk…”

“Moderator debat, hm? Jelas sekali kalau dilihat dari tata bahasa, intonasi serta gesturnya, Kak Timoth adalah seorang moderator debat yang cukup handal” pikir Dhanis.

“Kakak laki-laki yang tadi baru saja datang adalah Pramania Nugito. Dia adalah ketua ekskul debat di sekolah ini. Selain itu, ia menjabat sebagai Komisi A MPK. Ia duduk di kelas XI MIPA 7. Ia memiliki kharisma serta kemampuan memimpin yang hebat. Ia mampu meningkatkan moral dan semangat timnya saat dalam situasi sulit dalam suatu kompetisi debat. Tidak hanya itu, ia memiliki kemampuan debat yang luar biasa”

Ada pekenanan di kalimat terakhir, “…memiliki kemampuan debat yang luar biasa” Dengan penekanan itu, semua anggota baru langsung merasakan aura berbeda yang keluar dari tubuh Pram.

“Kakak perempuan yang kalian temui saat kegaiatan promosi ekskul tadi pagi adalah Claudia Diandra. Ia memiliki banyak teman dari sekolah-sekolah lain, menjadikannya anggota yang bertugas mengumpulkan informasi dari berbagai sekolah tentang lawan-lawan  debat yang akan kita hadapi. Karena jaringan pertemanannya yang begitu luaslah, ekskul-ekskul lain berebutan untuk mendapatkan informasi darinya, terutama ekskul-ekskul olahraga. Ia duduk di kelas XI MIPA 6”

“Seorang pengumpul informasi? Keren juga” pikir Dhanis sambil tersenyum melihat Diandra. Betapa tidak, ia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang aduh-gemulai. Siapa yang tak suka?

“Kakak laki-laki yang barusan beradu argumen dengan Dhanis adalah Daffa Sugiyono. Ia memiliki suara yang menggelegar yang cukup membuat orang menjadi ketakutan. Jika ada orang yang hebat dalam menyampaikan kesimpulan debat, dialah orangnya. Dengan kemampuan serta suaranya yang luar biasa, ia menyampaikan argumen terakhir dengan sangat baik. Ia sering menyelamatkan kami dalam perlombaan sebagai pembicara terakhir. Ia duduk di kelas XI IPS 2”

“Pantesan aja gue gugup waktu adu argumen sama dia. Ternyata dia emang jago kalau udah urusan suara” pikir Dhanis sambil mengingat kembali saat dia beradu argumen dengan Daffa… pengalaman buruk.

“Kakak perempuan yang terakhir ini adalah Ranira Putri, dijuluki di sekolah ini sebagai ‘Perpustakaan Berjalan’. Ia memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Kecakapannya dalam bidang apapun seperti ekonomi, politik, kenegaraan, sosial dan lain-lain membuatnya lawan yang tangguh dalam lomba debat. Apapun topiknya, ia siap menghadapinya. Ia adalah orang yang amat penting dalam mempersiapkan argumen-argumen kami sebelum perlombaan dimulai. Ia duduk di kelas XI MIPA 5”

“Astaga, mereka adalah tim debat yang hebat. Mereka benar-benar bukanlah lelucon. Setiap anggota memiliki spesialisasi tersendiri. Moderator debat, pemimpin berkharisma dengan kemampuan istimewa, pengumpul informasi dengan intel di setiap sekolah, penyampai kesimpulan dengan suara dan kemampuan luar biasa serta ‘Perpustakaan Berjalan’. Gue jadi takut kalau gue nggak bisa berbuat seperti mereka” pikir Dhanis setelah perkenalan mereka selesai.

“Baiklah, sekarang giliran kalian, mulai dari laki-laki yang duduk mojok di sebelah sana” kata Timoth sambil menunjuk ke laki-laki tersebut.

“Saya Ghozia Sinaga, panggil aja Ghozi. Saya duduk di kelas X MIPA 3”

“Saya Namira Fahrazi, biasa dipanggil Mira tapi Fahra juga boleh. Saya ada di kelas X MIPA 6”

“Saya Nugroho Yosefa, Sefa, X MIPA 1”

“Haiii, aku Alicia Salsabila, panggil aja Cia. Aku dari kelas X IPS 1, salam kenal!”

“Saya Dhanista Wirasena, dipanggil Dhanis. Saya duduk di kelas X MIPA 2”

“Baiklah, terima kasih atas kerjasama dari semuanya. Sesi perkenalan telah selesai maka sebelum kita mengakhiri pertemuan pada hari ini, saya akan memberitahukan kalian tentang tugas yang harus kalian persiapkan di rumah” kata Pram, tersenyum aneh.

“Yaelah baru masuk aja udah ada tugas” keluh Dhanis sambil mempersiapkan buku dan pulpen untuk menulis.

“Kalian akan saya bagi menjadi dua kelompok. Karena jumlah kalian ganjil maka ada satu dari kami yang akan menjadi anggota kelompok yang kurang. Kelompok pertama, Dhanis, Namira dan Ghozi. Kelompok kedua adalah Sefa, Cia bersama dengan Kak Diandra. Minggu depan, di hari dan tempat yang sama, kelompok kalian akan berdebat dengan kelompok kami yang terdiri atas gue sendiri, Daffa dan Ranira. Timoth akan menjadi moderatornya. Mengerti?”

Setiap anggota baru terkejut. Mereka memiliki satu pertanyaan, “Baru masuk dan kita harus melawan mereka yang udah juara di mana-mana? Gila”

Dhanis, sebaliknya, malah terkesan bersemangat. Melawan tim yang kuat memang menjadi kesenangan tersendiri baginya. Dengan melawan mereka, Dhanis dapat mengetahui kemampuan-kemampuan sesama anggota barunya serta kakak-kakak kelasnya dengan lebih jauh.

“Tema atau mosi debatnya mudah kok, cuma ‘Penggantian Kurikulum 2013’. Saya yakin kalian semu akan memilih ‘Pro’ maka kami akan menjadi ‘Kontra’. Setuju?”

Semua anggota baru mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, pertemuan singkat kita pada hari ini telah selesai. Terima kasih atas kehadiran kalian dan persiapkanlah argumen kalian dengan sebaik mungkin. Cari informasi sebanyak-banyaknya karena kami akan menilai kemampuan berdebat kalian minggu depan. Dan satu lagi…”

Semua pandangan pun menjadi serius tertuju ke arah Pram yang entah kenapa, menghentikan kata-katanya untuk sesaat sebagai efek dramatis.

“Selamat berjuang melawan satu dari empat tim debat sekolah dengan julukan, ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’!”

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 3: Inilah Kekuatan ‘Jubir Tangsel’!)

Dunia Debat Dhanis | Bagian 1: Debat?

“Ayo, dek! Ayo ikut ekskul atletik! Dijamin badan tambah mantep, cewek jadi banyak yang suka lhoo!”

“Jangan dengerin dia, dek! Ikut futsal aja! Anak futsal pasti banyak yang suka, percaya deh!”

“Halah, prestasi futsal masih kalah dibanding prestasi basket! Ayo ayo ikut basket, tambah tinggi, tambah seksi!”

Begitulah teriakan para perwakilan ekskul yang semuanya adalah murid kelas 11 dan 12. Pada kegiatan seperti MOP inilah, mereka memiliki peluang besar untuk mendapatkan calon peserta baru dalam ekskul mereka. Masing-masing perwakilan berusaha untuk memikat hati para peserta didik baru untuk mengikuti ekskul mereka.

SMAN 51 Tangerang Selatan atau yang biasa disebut dengan ‘Lintang’ memiliki lebih dari 20 ekskul, mulai dari akademik, seni sampai olahraga. Di lapangan, setiap ekskul memiliki stand masing-masing sebagai tempat pendaftaran masuk ke ekskul mereka. Para murid kelas 10 pun sangat antusias dalam mengikuti acara “Promosi Ekskul” ini.

“Halo, dek! Tertarik ikut Teater nggak? Seru kok, banyak banget yang bisa didapet” kata seorang kakak kelas perempuan kepada seorang murid baru yang terlihat berjalan sendirian.

“Hmm, nanti kupikirin deh, kak. Kuambil brosurnya aja ya” jawab laki-laki tersebut dengan kalem.

“Iyaa, nanti ikut ya dek!” kata kakak tersebut dengan semangat sambil menyodorkan sebuah brosur.

“Thanks, kak” kata laki-laki itu sambil menerima brosur yang telah disodorkan kepadanya. Walaupun laki-laki itu sebetulnya sangat tidak tertarik pada Teater namun mau bagaimana lagi, ia tidak ingin menolak kakak tersebut dengan mentah-mentah. Sakit coy.

“Hm, gue udah kayak kolektor brosur. Udah 18 brosur yang gue terima tapi tetep aja gue masih bingung sama yang gue pilih. Hadeh” kata laki-laki itu sambil menghembuskan nafas panjang. Ia melihat tumpukan brosur yang ada di tangannya kemudian memutuskan untuk berjalan sekali lagi.

“Klub Bahasa Inggris, Klub Bahasa Jepang, Jurnalistik.. banyak eksul yang cocok dengan bakat gue tapi semuanya dah gue coba pas di SMP. Di sekolah yang favoritnya udah kayak apaan tau, masa nggak ada ekskul bahasa lain?” Laki-laki itu melihat ke sekeliling, mencari apakah ada ekskul bahasa yang belum ia singgahi. Tak menemukan apa yang ia cari, ia memutuskan untuk kembali ke kelas.

“Mungkin gue ikut Klub Bahasa Jepang aja-“ Tiba-tiba pikirannya terpotong dengan suara teriakan perempuan dari belakang. Ia menoleh ke belakang. Seorang kakak perempuan datang menghampirinya dengan membawa brosur.

“Yo, gue Diandra dari ekskul Debat. Mau ikut nggak? Kalau nggak juga nggak apa-apa kok, gue nggak maksa hehe. Cuman ekskul kita kayaknya bakal dikit banget anggota barunya. Kasian nggak, dek?” kata kakak tersebut dengan nada memelas.

“Debat? Boleh juga. Gue belum pernah ikut debat sebelumnya. Siapa tau gue bisa jadi juara? Hehe” pikir laki-laki itu.

“Boleh deh, kak. Saya mau ikut” kata laki-laki itu yang membuat Diandra bersorak keras.

“YEAYYYY!! AKHIRNYA DAPET!! WOHOOO!! Oke deh. Pertama, siapa nama kamu?” tanya Diandra sambil menyiapkan sebuah kertas kecil dan pulpen.

“Dhanista Wirasena. Panggil aja Dhanis”

***

“Gimana? Dapet berapa?”

“Hmm, nggak banyak sih. Tadi gue berhasil ngerekrut satu anak lagi. Jadi kalo ditambah dia, kita ada 5 anak baru”

“LAH SEGITU DOANG?!”

“Iye, ati-ati makannya. Entar nyangkut aja rotinya, baru tau rasa lu”

“Tenang aja, udah dapet ID Line mereka kan?”

“Udeh, nanti gue kasih tau mereka tentang pertemuan kita”

“Hmm..”

“Kenapa?”

“Coba aja ekskul kita banyak yang ikut..”

“Ya mau gimana lagi. Di sekolah kita banyak banget ekskul dan KEBETULAN aja ekskul kita nggak banyak yang minat walaupun sekolah kita juga terkenal karena tim debatnya. Ya nggak, Ketua? Wkwkwkwk”

“Bisa aja lo, Diandra. Yaudahlah, panggil Timoth, Daffa sama Ranira, kita selesai hari ini. Ohya, sini dah daftar namanya, gue mau liat”

***

“Hm, ternyata ekskul debat di sini udah ada prestasi tinggi. Juara 3 tingkat provinsi.. lumayan lah. Trus ada lomba-lomba antarsekolah, banyak juga yang menang. Keren, keren..” kata Dhanis sambil membaca dengan seksama halaman “Daftar Prestasi SMAN 51 Tangerang Selatan” di majalah sekolah yang dibagikan gratis tadi pagi.

“Dikit juga ya masuk sini. Cuma empat coba. Ekskul lain aja bisa belasan, ampe dua puluhan malah. Gila-“

“Selamat siang, semuanya!” teriak seorang kakak laki-laki yang berjalan ke depan kelas.

“Siang…” jawab anggota baru dengan lesu. Maklum udah siang.

“Halah kurang semangat. Apa-apaan ini. DIANDRA! TIMOTH!” teriak kakak tersebut makin keras.

Diandra dan seorang kakak laki-laki lainnya langsung berjalan menuju ke arah laki-laki-dengan-suara-menggelegar tadi.

“GIMANA SIH! DISURUH CARI ANGGOTA BARU MALAH DAPET YANG BEGINI! YANG BENER LAH!”

“Yang begini? Apa-apaan. Songong amat. Mau kakak kelas juga, nggak harus gini juga. Sial” pikir Dhanis dengan memasang muka marah.

“BAYANGIN! MEREKA LESU COBA JAWAB SALAM GUA! GIMANA NANTI PAS DEBAT HAH-”

“Kak, jangan gitu dong ke Kak Diandra. Dia nggak salah” bela Dhanis dengan suara agak pelan.

“Kok gue nggak dibela..” pikir Timoth, terkejut dengan pembelaan Dhanis.

“Oh gitu ya? Terus salah siapa?” tanya kakak itu tegas sambil berjalan ke arah Dhanis.

“Ka-kalau soal kami yang lesu jawabnya ya….. sa-salah kami!” jawab Dhanis semakin gugup.

“YANG SALAH YA MEREKA LAH! LIAT NOH! MEREKA DIKASIH TUGAS BUAT NGEREKRUT MALAH NGGAK BENER KERJANYA!” Kakak ini makin menjadi rupanya.

“Secara teknis, mereka telah melakukan tugasnya, Kak. Merekrut anggota baru adalah tugas mereka dan… dengan hadirnya kami di sini berarti mereka telah menyelesaikan tugas mereka……….” jawab Dhanis dengan kepala menunduk. Semua pandangan mata hanya tertuju kepada Dhanis.

Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan orang lain, kakak tersebut bertepuk tangan dengan lambat. “Bagus bagus. Diandra, Timoth, kerja bagus” kata kakak itu sambil tersenyum dan berjalan ke arah depan kelas, berdiri di samping Diandra dan Timoth.

Seorang kakak laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam kelas. “Bagaimana? Apakah demo debat singkat tadi benar-benar bagus?” tanyanya.

Semua anggota baru terkejut, khususnya Dhanis. “Um, kak. Maksudnya apa ya?” tanya Dhanis sambil mengangkat tangannya.

“Oh, kamu baru saja berdebat dengan salah satu anggota tim debat sekolah ini, Daffa Sugiyono” jawabnya santai sambil menunjuk kakak laki-laki tadi. “Sorry ya, tadi emang cuma buat ngetes kalian. Panggil gue Daffa” katanya dengan nada yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.

“Kamu punya keberanian yang hebat, Dhanis. Mampu membela saya dan Timoth dengan cukup baik. Argumenmu pun logis. Kamu cocok masuk debat” puji Diandra dengan tersenyum yang berhasil membuat Dhanis tersipu.

“Yang lain, ayo, jangan takut untuk membuat argumenmu sendiri karena itulah inti dari debat, berargumentasi. Daffa dan Dhanis tadi jelas memiliki argumen yang saling bertentangan namun keduanya berhasil mempertahankan argumen masing-masing. Itulah debat!”

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 2: Tantangan Pertama!)