Minecraft | PoopCraft and Flashback

Gue mau nyeritain pengalaman pribadi gue tentang game ini… yep, Minecraft. Mungkin kalian pernah ngerasain perasaan sedih, sesek di dada atau bahkan pengen nangis ketika lo nginget pengalaman indah di masa lalu. Gue selalu begitu. Kadang gue menerawang, lalu timbul gambar-gambar yang menceritakan suatu peristiwa seneng yang pernah gue alami di masa lalu. Gue senyum.. tapi habis itu langsung sedih. Why?

Those moments will never happen again in our life.

Walaupun sekarang lu lagi meniti pengalaman baru, nginget pengalaman masa lalu rasanya pengen minjem Mesin Waktunya Doraemon, lalu pergi ke masa itu. Ngerasain sekali lagi perasaan seneng saat itu. Continue reading

What is It Like to Have More Than 1 Family — Part 2

Setelah mengetahui hubungan antar ketiga keluarga maka kita bisa lanjut ke pengalaman liburannya.

Mungkin kalian bertanya, “Kenapa sih musti dijelasin awal perkenalan bla bla bla kalau cuma mau nyeritain pengalaman liburan?” Well, kalo gua nggak jelasin siapa itu Pamali maka cerita mungkin nggak akan seru. Mungkin kalian cuma, “Oh, dia pergi sama Tasya” Padahal kalau kalian tau back story-nya, mungkin impression kalian dapat berbeda 🙂 Continue reading

Topeng dan Mbah Prayit

Saya waktu itu adalah seorang anak kecil yang duduk di bangku kelas 6 SD. Ketika ibu mengajak saya pergi ke Bali, saya senang bukan kepalang. Itulah kali kedua saya pergi ke Bali, setelah setahun sebelumnya pergi ke pulau yang sama. Walaupun tujuan utama kami ke Bali bukan untuk berlibur namun ibu merencanakan untuk pergi ke destinasi wisata yang tahun sebelumnya belum sempat dikunjungi. Yap, saya makin senang bisa mendapatkan kesempatan emas itu dibanding kedua adik perempuan saya yang masih kecil-kecil.

Salah satu destinasi wisata yang belum sempat dikunjungi pada tahun sebelumnya adalah Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma (RTWSD) yang berlokasi Gianyar, dekat dengan Ubud. Setia Darma merupakan objek wisata budaya Bali yang terkenal. Sebelumnya, ibu menjelaskan bahwa kita akan bertemu dengan seseorang yang dulunya adalah guru seni tari ibu saya sewaktu kuliah di Universitas Udayana. Beliau sekaligus adalah pemilik dari Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma ini. Wah wah wah …

Saat kami sampai di Rumah Topeng tersebut, kami mengunjungi sebuah rumah tradisional Bali. Ibu saya berkata bahwa orang tersebut tinggal di dalamnya. Saya melihat sekeliling. Tidak tampak seperti rumah kebanyakan. Malah rumah ini terkesan kosong dan tak berpenghuni. Rumah ini juga kecil, kira-kira hanya muat 1 ruangan dengan 1 kamar mandi. Jelas rumah ini hanya didiami oleh 1 orang saja. “Maaf Ida, tadi baru siap-siap” kata seorang tua keluar dari dalam rumah. Saya melihat sekilas ke dalam rumah. Hanya ada 1 tempat tidur single, 1 buah TV, 1 kursi dan 1 meja. Sederhana sekali. Bapak tua ini kelihatan sehat dan kuat. Masih bisa berdiri tegap, memakai kacamata dan topi “pelukis” serta mempunyai jenggot serta kumis putih yang lumayan lebat. Namun, siapakah sebenarnya bapak tua ini? Beliau adalah Agustinus Prayitno (baca : Prayetno), biasa dipanggil Mbah Prayit. Beliau adalah seorang seniman topeng Bali asal Jawa Timur. Umurnya kira-kira 67 tahun. Beliau terlihat fasih berbahasa Jawa saat berbicara dengan ibu. Kami pun diajak oleh Mbah Prayit untuk melihat-lihat koleksi topeng yang ada di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma. Continue reading