Cerita Anak IPA Diterima Lintas Jurusan di Hukum UI melalui SNMPTN 2018

Suatu siang terik di bulan April 2017 — ruang kelas XI MIPA 3

“Ah! Gue nggak ngerti sama sekali!” gumamku. Aku menundukkan kepala lalu meraih telepon genggamku dari dalam tas. Siang itu terasa panas karena AC di dalam kelas tidak berfungsi. Otakku pun juga rasanya ikut-ikutan panas mendengarkan bagaimana Mr. Smoke (julukan kelas kami untuk guru ini) menjelaskan tentang gaya-gaya yang terjadi ketika kita menyenderkan tongkat ke tembok.

Udah susah, nggak penting lagi.

Aku kemudian browsing informasi mengenai jurusan Teknik Industri yang menarik perhatianku beberapa hari ini. Aku membaca tentang mata kuliah yang akan dipelajari, universitas-universitas mana saja yang menawarkan pendidikan terbaik, dan pilihan karir setelah lulus nanti.

“Ri, have you chosen yet?” tanyaku ke teman semeja sekaligus teman mainku sejak SMP, Rio. Dia juga lagi asik main telepon genggamnya.

I told you, right?” tanyanya balik. “Perfilman UNPAD”

“Yang itu gue juga tau,” kataku sambil melihat ke depan untuk memastikan Mr. Smoke nggak menciduk kami sedang main telepon genggam di sela-sela pelajaran. “Tapi lu kan nggak dibolehin milih itu,”

Well, you help me choose then,” katanya. “Gue nggak tertarik sama sekali dengan apapun ini.”

Aku melihat telepon genggamku sesaat. Artikel yang terpampang di layar adalah mengenai jurusan Teknik Industri yang tidak se-IPA jurusan yang lain karena masih ada mata kuliah manajemen dan ekonomi. Bahkan, Teknik Industri dijuluki sebagai ‘IPS-nya’ jurusan IPA.

Considering your preferenceshow about Teknik Industri?” kataku memberikan saran. Rio mirip denganku: dia tidak ada keterikatan mendalam dengan pelajaran IPA. Dia paling nggak suka biologi sedangkan aku benci fisika. Agaknya kami sedikit menyesal memilih jurusan IPA ketika pertama kali masuk SMA dua tahun yang lalu. Entah kenapa, pelajarannya terasa nggak berguna. Aku tahu itu pemikiran yang sangat kekanak-kanakan, tetapi itu adalah sebuah kejujuran buatku.

Mungkin salah satu faktor diriku merasa jauh dari IPA adalah dunia debat konstitusi yang selama ini aku geluti. Berbicara tentang debat konstitusi berarti membicarakan masalah-masalah yang sedang hangat diperbincangkan di media massa dan tentunya lekat dengan IPS, seperti ekonomi, sosiologi, politik, dsb. Jujur, aku merasa lebih nyaman melakukan case building untuk mosi yang akan aku perdebatkan daripada mengerjakan soal fisika.

Faktor lain adalah aku banyak sekali meninggalkan pelajaran, apalagi sewaktu kelas 10, entah itu karena lomba, urusan OSIS, ikut seminar, dan masih banyak alasan lain. Alhasil, aku harus belajar ekstra keras untuk keep up dengan teman-teman di kelas sehingga tambah stres belajar IPA.

Untungnya, aku banyak mendulang prestasi di masa-masa ‘sering dispensasi’ itu: Juara 3 Lomba Debat Konstitusi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi dan Universitas Pendidikan Indonesia, Peserta Terbaik 1 Workshop Penulisan Skenario Tingkat Nasional yang diselenggarakan Kemendikbud, dan yang lain-lain di bidang Pramuka, Story Telling, dan debat. Aku paling bangga dengan dua penghargaan tingkat nasional itu yang pasti sangat membantu nanti ketika daftar SNMPTN.

Alasan utamaku kenapa aku nggak takut terus-terusan meninggalkan kelas untuk aktif di sana-sini adalah SNMPTN. Aku mau dapat sertifikat biar bisa diterima di SNMPTN, pikirku. Aku sangat mengharapkan SNMPTN karena rasanya pasti enak nggak harus belajar lagi untuk SBMPTN atau ujian mandiri lainnya. Santai.

“Itu pilihan lo juga kan?” tanyanya. Sebenarnya, itu bukan pilihan yang benar-benar aku inginkan. Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin menjadi seorang diplomat, seseorang yang ‘jalan-jalan’ ke luar negeri untuk menjadi prajurit garis depan dalam hubungan internasional dengan negara-negara lain.

Aku pernah melihat sebuah video yang sedang viral tentang aksi seorang diplomat Indonesia menjawab tegas pertanyaan-pertanyaan menjatuhkan yang datang dari perwakilan negara-negara Oseania mengenai Papua. Keren banget, pikirku. Bagaimana tidak takjub? Menjadi seorang diplomat seperti itu rasanya mirip dengan ketika aku berada di dalam lomba debat. Bedanya, lawan debatnya adalah orang penting dari negara lain.

Well, yeah… for now,” kataku ragu. Apa daya, aku hanya bisa mengubur dalam-dalam mimpiku itu. Aku tidak memiliki keberanian untuk pindah jurusan ke soshum ketika ujian SBMPTN nanti. Selama ini aku selalu belajar pelajaran IPA, mana mungkin aku bisa paham seluruh materi IPS dalam waktu yang singkat ini? Apalagi lawanku adalah orang-orang IPS yang sudah belajar IPS dari dua tahun lalu.

Aku nggak mampu.

Sebuah pagi kantuk di bulan September 2017 — ruang kelas XII MIPA 1

“Lu aja lah yang di UI!” katanya memaksa.

“Kenapa nggak lu aja? Gua maunya di ITB,” kataku nggak mau kalah.

“Tapi gue pengen-pengen-pengen banget di ITB. Lu sebenernya nggak apa-apa kan di UI? Kan yang penting Teknik Industri,” balasnya.

“Ya tapi kan Teknik Industri yang paling bagus ya di ITB, gimana dah lu,” jawabku masih berapi-api.

Ini Melissa, teman sekelasku. Perdebatan ini berawal dari guru Bimbingan Konseling yang baru saja datang ke kelas kami. Beliau meminta kami untuk segera memikirkan jurusan yang nantinya akan didaftarkan pada SNMPTN. Beliau juga berpesan untuk tidak memilih jurusan yang sama dengan orang yang nilainya lebih tinggi daripada kita agar peluang masuknya menjadi lebih besar.

Kelasku adalah kelas neraka. Sudah menjadi sistem di sekolahku bahwa di kelas 12, murid-murid akan dikategorikan sesuai dengan nilai dan peringkat kelas di kelas 10 dan 11. Kelas XII MIPA 1 yang aku tempati sekarang ini berisi anak-anak dengan peringkat minimal sepuluh besar di kelas terdahulunya. Entah kenapa, walaupun aku dulu nggak betul-betul paham pelajaran IPA, aku masih berada di peringkat dua sekelas.

Melissa adalah salah satu dari tiga orang di kelasku yang bermaksud untuk memilih jurusan Teknik Industri ITB. Tentu saja, setelah apa yang dikatakan oleh guru BK tadi, kami perlu menyelesaikan masalah ini. Apalagi, dia berada di peringkat tiga besar di kelasnya yang dulu.

“Ya udahlah, nanti kita lihat aja nilai rata-rata dari kelas 10 sampe kelas 12 semester satu ini. Siapa tau gue lebih tinggi hehehe,” katanya dengan nada bercanda.

Aku ikut tertawa. “Tapi seriusan loh, gue beneran pengen masuk Teknik Industri. Gue nggak mau yang lain karena itu satu-satunya jurusan yang IPA-nya nggak kebangetan,” kataku malah jadi curhat.

“EH GUE SAMA KAYAK LU, MO!” balasnya antusias. “Gue juga capek belajar IPA. Susah gila.” Rasanya lega ketika bertemu dengan orang yang satu visi-misi dengan kita.

Perdebatan panas tadi kemudian berubah menjadi curhatan bermakna. Aku dan Melissa memiliki banyak kesamaan: kami capek belajar IPA, kami nggak paham banget tentang IPA, dan akhirnya memutuskan untuk memilih jurusan yang sama di universitas yang sama. Aku dan dia pun juga pernah berniat untuk pindah jurusan namun dengan alasan yang sama juga, kami memutuskan untuk tidak.

Dia lalu berdiri dari kursinya. “Mulai dari sekarang, kita musuh, Mo,” katanya sambil menunjuk ke arahku.

“Iya iya, tenang aja,” jawabku santai. Dia tersenyum lalu berjalan menuju teman-teman segengnya. Rupanya, waktu IMTAQ sudah selesai. Kegiatan IMTAQ di sekolah kami mengharuskan para murid yang beragama Islam untuk membaca Al-Quran di dalam kelas. Bagi yang non-Islam, sepertiku dan Melissa, kami memilih untuk ngobrol diem-diem di belakang kelas.

Obrolan itu membekas sekaligus bermakna. Benar-benar lega sekali ketika kita bisa meluapkan semua yang kita pikirkan dengan orang yang berpikiran sama. Obrolannya menjadi mengalir dengan sendirinya. Dari situ lah, aku menemukan motivasiku untuk makin giat belajar: mendapatkan nilai lebih tinggi dari Melissa. Aku juga lega bahwa perdebatan tentang pilihan jurusan ini tidak mengundang emosi sehingga tidak berujung pada rasa saling bermusuhan.

“Gimana tadi ama si Melissa?” tanya Akbar, teman semejaku yang tadi memimpin kegiatan IMTAQ di depan kelas. “Nggak berantem kan?”

“Ya kaga lah,” jawabku singkat. “Eh, lu enak ya nggak ada yang sama ngambil FTSL ITB?”

“Iya hehehe, beruntung gua,” katanya seraya mengeluarkan buku-buku pelajaran dari dalam tasnya. “Semangat lu, Mo!”

“Siap!” kataku sambil tersenyum.

Aku bisa!

Selasa, 31 Oktober 2017 malam — sebuah hotel di Bandung

Aku berbaring lemas di atas tempat tidurku. Kegiatan Goes to Campus sekolahku sepanjang hari ini cukup menghabiskan sebagian besar energiku. Pagi ini, kami berada di Universitas Indonesia. Setelah itu, kami langsung menuju Bandung untuk mengunjungi UNPAD di siang harinya. Baru saja tadi sore kami melakukan temu alumni dengan para mahasiswa ITB.

“Gua… naif banget ya,” gumamku. Di depanku ada TV yang sedang menayangkan Discovery Channel. Walaupun mataku menatap hewan-hewan itu, pikiranku mengawang ke mana-mana.

“Kenapa, Mo?” tanya Ical, teman sekamarku yang duduk di sampingku. Dia bertanya selagi memainkan jari-jemarinya di papan ketik telepon genggamnya. Mungkin dia lagi nge-chat sama doi-nya, pikirku.

Aku menghela nafas panjang. “Ternyata.. SNMPTN tuh susah ya, nggak buat semua orang,” kataku dengan nada pasrah.

Aku tiba-tiba menyerah. Sore itu, ketika kami sedang berada di sebuah aula untuk bertemu dengan para alumni SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan yang telah menjadi mahasiswa ITB, aku menemukan sebuah kebenaran pahit. Tahun lalu, ada tiga murid sekolah kami yang diterima di FTI ITB jalur SNMPTN. Itu kabar baik, tetapi yang bikin semangat turun adalah ketiga-tiganya dulu murid kelas akselerasi.

Murid kelas akselerasi di sekolahku memang diuntungkan dalam urusan SNMPTN dibanding murid-murid lain. Ketika murid-murid lain mempunyai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sebesar 80, murid akselerasi punya KKM sebesar 89. Artinya, walaupun mereka akan gagal di sebagian besar ujian karena memang KKM-nya sebesar itu, mereka pasti dijamin nilai minimal 89 setelah mereka melakukan ujian remedial. Intinya, nilai rapor mereka pasti nggak ada yang di bawah nilai 89.

Aku tidak merasa sistem itu nggak adil. Toh, mereka harus menyerap materi yang biasanya dipelajari selama tiga tahun dalam waktu dua tahun saja. Jadi, mereka punya masalah tersendiri yang harus mereka hadapi.

Aku menyadari bahwa hampir semua alumni yang diterima melalui jalur SNMPTN di ITB adalah murid akselerasi. Paling hanya ada satu atau dua orang non-akselerasi yang diterima melalui jalur SNMPTN. Ini merupakan pukulan berat bagiku yang sangat mengharapkan SNMPTN. Nilai raporku tidak sebagus itu dan aku belum melakukan persiapan sama sekali untuk menghadapi SBMPTN atau jalur mandiri.

“Ya, bukannya emang gitu?” tanya Ical, kali ini meletakkan telepon genggamnya sejenak. “SNMPTN kan emang untung-untungan, nilai rapor lu bagus pun belum tentu juga diterima SNMPTN”

Aku memalingkan kepalaku ke Ical. “Lu ngga kaget? Lu nggak ngeharepin SNMPTN?” tanyaku penasaran.

“Ngarep sih ngarep, cuma nggak ada di antara kita yang bener-bener mengharapkan SNMPTN, ya nggak? Semuanya pasti udah fokus sama SBMPTN. SNMPTN kalo diterima ya bonus,” jelas Ical.

Ternyata strategiku selama ini salah. Aku betul-betul menyalahi diriku sendiri karena berani-beraninya percaya diri bahwa aku akan diterima SNMPTN dengan nilaiku. Betapa sombongnya. Ditambah, aku belum ada persiapan. Padahal, FTI ITB merupakan salah satu fakultas yang paling ketat peminatnya.

“Santai aja, Mo, nggak usah dibawa stres,” kata Akbar yang duduk bersila di lantai sembari mendengarkan percakapan kami. “Gue juga belum nge-review dari kelas 10, nggak ada lah kata terlambat.”

Akbar benar. Daripada aku lamun-lamunan kayak gini, lebih baik aku bersiap diri untuk menghadapi SBMPTN, mulai dari membeli buku bank soal, rangkuman materi, dan lain sebagainya.

Beberapa hari kemudian, aku baru memahami ungkapan easier said than done. Stigmaku tentang pelajaran IPA yang kubenci benar-benar menghambatku dalam proses belajar. Selain itu, kebiasaanku menunda-nunda sesuatu juga menambah masalah.

Aku ragu, bingung, dan khawatir.

Di sore hari yang hangat pada bulan November 2017 — lapangan basket depan rumah Rio

Aku, Piero, dan Rio melakukan pemanasan ringan di pinggir lapangan. Kami merenggangkan otot-otot tubuh kami agar nanti tidak kaku atau kram saat nanti berolahraga.

“Mau latian kardio bareng dulu nggak? Nanti baru sendiri-sendiri,” kata Rio memimpin. Pertanyaan itu aku dan Piero jawab dengan anggukan kepala.

“Langsung lari kali, Pir?” tanyaku ke Piero yang masih melompat-lompat kecil sedangkan aku sudah selesai pemanasan.

“Ya elah, lari mah gampang. Gue push-up, sit-up, gitu-gitu dulu,” katanya sambil mempersiapkan matras untuk digunakan. “Lu STAN lari doang?”

Aku mengatur stopwatch di telepon genggamku. “Iya, berapa belas putaran gitu lapangan bola dalam waktu dua belas menit.”

“Lu enak, lah gue Akpol? Keras bre,” balasnya.

Rio selesai melakukan pemanasan kemudian menghampiri kami berdua. “Yaudah, Mo, lu fokus endurance. Gue ama si Piero latian otot di sini.”

Aku menunjukkan ibu jari ke arah mereka. Setelah memulai hitungan stopwatch, aku berlari kecil di sepanjang pinggir lapangan basket. Karena itu pertama kalinya aku berolahraga di luar jam olahraga sekolah, aku berusaha mendapatkan paling tidak dua puluh putaran lapangan basket.

Kekhawatiranku terhadap pilihan universitas nanti mengantarku untuk mencoba pendaftaran STAN. Ibuku, seorang konsultan pajak, sudah sering merekomendasikan kepadaku tentang D3 Pajak di STAN. Aku awalnya tidak tertarik, tetapi lama-kelamaan mau juga. Mungkin karena sudah keseringan melihat ibu yang bekerja di rumah. Penghasilannya juga lumayan hehe.

Akhirnya, aku membentuk sebuah tim kecil bersama dengan Rio dan Piero, teman mainku sejak SMP juga seperti Rio. Aku dan Piero meminta Rio, yang memang hobi street workout, untuk membimbing kami dalam latihan fisik demi sekolah kedinasan yang kami inginkan: aku di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) dan Piero di Akpol (Akademi Kepolisian).

Selama beberapa hari, kami rutin workout setelah pulang sekolah. Aku selalu pulang sehabis maghrib dalam keadaan basah kuyup akibat kucuran keringat. Orangtua dan kedua adikku awalnya agak kaget karena aku nampaknya niat sekali untuk masuk ke STAN sampai-sampai olahraga terus tiap hari. Padahal, aku dikenal sebagai orang yang jarang berolahraga.

Aku sebenarnya bukan sekadar mencoba. Aku punya tujuan yang ingin kucapai seandainya diterima di D3 Pajak STAN nanti. Aku akan belajar keras agar aku tidak di-drop out, lulus dengan nilai tinggi, ikatan dinas di Kementerian Keuangan, selesai itu langsung berusaha untuk mendapatkan beasiswa belajar pajak internasional di luar negeri. Aku ingin menjadi seorang konsultan pajak internasional atau atase di kedutaan besar.

Aku merasa puas dengan pilihanku untuk nanti mendaftar di STAN. Paling tidak, aku punya hal-hal yang ingin kucapai nanti setelah aku diterima di STAN sehingga studiku memiliki arah yang jelas. Kalau di Teknik Industri? Aku sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Kalau aku ditanya akan kerja apa setelah lulus dari Teknik Industri, aku akan menjawab bahwa aku tidak tahu. Kalau STAN, aku punya jawaban pasti.

Walaupun aku merasa puas, selama aku berlari dan berlari, aku selalu bertanya kepada diriku sendiri, apakah ini betul-betul yang aku mau? Memang betul, diterima di STAN akan lebih baik ketimbang masuk ke Teknik Industri UI, tetapi mimpiku untuk menjadi seorang diplomat masih terngiang di dalam benakku. Rasanya, aku hanya menggunakan pilihan ke STAN ini sebagai sekadar pelarian karena aku tidak berani membuat langkah berani. Ungkapan ‘kalah sebelum berperang‘ menamparku keras-keras.

Aku masih mau menjadi diplomat…

…namun kutau aku adalah seorang pengecut.

Sebuah pagi pencerahan di hari Senin, 8 Januari 2018 — ruang kelas XII MIPA 1

Liburan berlalu dengan sangat cepat sehingga tidak terasa semester genap sudah dimulai. Tidak ada yang berubah dari wajah-wajah temanku di kelas. Sudah lama tidak bertemu membuatku sedikit kangen terhadap suasana kelas.

“Melissa mau masuk Akuntansi UI,” kata Ical tiba-tiba.

Aku benar-benar shocked sampai-sampai berteriak, “HAH?” sangat keras sampai terdengar di penjuru ruangan kelas. Melissa yang kepengen banget masuk ke ITB tiba-tiba berubah haluan ke jurusan soshum. Akuntansi UI pula yang memang dikenal memiliki passing grade SBMPTN yang tinggi.

Aku dengan cepat berdiri dan menyergap Melissa yang sedang duduk manis bersama dengan teman-temannya. “KOK LU PINDAH JADI AKUNTANSI?” kataku ngegas. Melissa hanya terkekeh-kekeh.

“Gue mendapat pencerahan, Mo, selama liburan,” balasnya tenang. Aku lalu mengambil kursi untuk duduk di sebelahnya. Dia menceritakan bagaimana ia pernah berbicara panjang dan serius dengan seorang mahasiswa jurusan soshum di salah satu universitas ternama. Kenalan itu dulunya juga berasal dari kelas IPA, tetapi baru memutuskan untuk pindah ke jurusan soshum satu bulan sebelum pelaksanaan SBMPTN. Dia akhirnya diterima pilihan pertama melalui jalur SBMPTN. Melissa lalu berpikir bahwa jika kenalannya itu bisa, maka dirinya pun bisa lulus SBMPTN dengan waktu persiapan yang lebih lama. Ia juga mendapat banyak dukungan serta saran dari para anggota keluarganya.

Pilihan Melissa yang mendadak pindah ke jurusan soshum mengejutkan semua murid di kelasku. Bagaimana tidak, Melissa dikenal sebagai anak yang pintar dalam bidang IPA. Teman-teman kami pun juga tidak melihat adanya ‘aura’ anak akuntansi yang muncul dari dalam dirinya. Aku sendiri mengingat Melissa yang tidak pernah serius ketika pelajaran lintas minat ekonomi waktu kelas 10 dan 11.

Keputusan berani Melissa sekaligus ceritanya dalam mengambil keputusan itu seakan-akan melepaskan segala rasa keraguanku untuk memilih jurusan soshum. Pada hari itu, pikiranku sungguh-sungguh terbuka. Kalau Melissa saja berani murtad (sebutan kami untuk anak IPA yang pindah memilih jurusan IPS), kenapa aku nggak?

Saat itu juga, di depan Melissa dan teman-temanku yang lain, aku mengatakan, “Oke, berarti gue mau ngambil Hukum UI.” Reaksi kelasku beragam: kebanyakan kaget, namun mereka akhirnya paham karena mereka tahu bahwa aku dulu aktif di debat konstitusi.

“Jadi, kita bukan musuhan lagi ya, kita sama-sama berjuang buat SBMPTN,” kataku tersenyum sambil bersalaman dengan Melissa. “Iya, kita berdua harus semangat!” balasnya dengan nada yang sangat antusias.

Welcome to the club!” kata Indira, teman sekelasku yang sudah duluan murtad dari semester lalu. Dia ingin masuk ke Akuntansi UGM. “Kalo ada apa-apa, nanya aja santai,” tawar Hanna, teman murtadku yang telah lama berjuang masuk ke Psikologi UI. Total ada tujuh orang di kelasku yang banting stir ke jurusan soshum. Dua di antaranya, peraih medali perunggu OSN Ekonomi 2017, Hosea dan Juki, sudah duluan diterima di Ilmu Ekonomi UI melalui jalur olimpiade.

“Eh, berarti Fakultas Teknologi Industri ITB udah nggak ada yang milih dong?” tanya Ical ikut-ikutan pembicaraan kami. “Momo Hukum UI, Melissa Akuntansi UI, si Royyan udah pindah ke Teknik Mesin UNDIP,” jelasnya lebih lanjut.

Teman-temanku ber-ohya ria sambil tertawa bersama-sama. FTI ITB yang tadinya diperebutkan oleh tiga orang sekaligus di kelasku, malah jadi kosong melompong. Hari itu betul-betul merupakan hari yang menyenangkan bagiku. Akhirnya, aku bisa membuat keputusan bulat untuk masa depanku.

Sampai di rumah, aku langsung membicarakan perihal keputusanku kepada kedua orangtuaku. Puji Tuhan mereka mendukung sepenuhnya. Bapakku berpendapat bahwa lebih baik aku masuk ke Hukum UI yang jelas akan bekerja apa ketimbang di Teknik Industri yang area pembahasannya terlalu luas dan tidak mendalam.

“Aku mau les!” Aku mendeklarasikan kata-kata itu dengan mantap. Permintaan itu sungguh revolusioner berasal dariku karena selama ini, aku tidak pernah mengikuti les pelajaran di manapun. Malas adalah alasan utamaku. Sekarang ini, aku mempunyai motivasi yang cukup kuat untuk ikut les karena perkara masuk-tidaknya ke Hukum UI menentukan masa depanku.

Aku menatap stiker yang kutempel di dinding kamar tidurku bertuliskan ‘FTIITB’. Aku juga melihat sekilas kumpulan buku persiapan SBMPTN Saintek, SIMAK UI, dan STAN yang telah kubeli enam bulan yang lalu. Aku menghela nafas lalu menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur.

Selamat tinggal, IPA.

Pagi lelah di hari Minggu, 4 Februari 2018 — ruang tamu rumahku

Aku duduk di atas sofa sambil menengadah. Tubuhku terasa lemas dan aku berkeringat nggak karuan. Kepalaku terasa sedikit sakit dan mulutku terasa kering. Aku berpaling melihat ibuku yang berjalan menghampiri dengan sebuah gelas berisi minuman di tangan kanannya.

“Kamu nggak usah ikut try out hari ini, istirahat aja di rumah,” kata ibuku dengan lembut. Ia menyerahkan gelas yang tadi ia pegang. “Ini air putih sudah dicampur madu. Minum biar kamu ada energi.”

Kuambil gelas itu lalu kuminum pelan-pelan. Ada rasa kemanis-manisan yang memenuhi mulutku. Dahagaku telah hilang. “Thanks, Mom,” kataku seraya menyerahkan gelas kosong di tanganku.

Hari ini, seharusnya aku mengikuti try out SBMPTN Soshum pertama di Inten Pamulang, sebuah tempat les yang baru aku ikuti sejak tiga minggu yang lalu. Padahal, aku sangat menanti-nantikan hari ini karena aku bisa mengetahui sejauh mana aku telah menguasai materi ujian SBMPTN. Aku malah kena demam setelah seminggu penuh aku terus-terusan belajar hingga malam suntuk. Aku nggak pernah belajar seniat ini sebelumnya sehingga tubuhku nggak terlatih untuk itu.

Aku akui setelah deklarasiku untuk masuk ke Hukum UI, semangat belajarku meningkat drastis. Ketika di sekolah, aku selalu mencuri waktu untuk belajar materi TKD SBMPTN, baik itu saat jam pelajaran kosong, istirahat, atau jam pelajaran yang menurutku nggak penting-penting amat. Sampai di rumah, aku belajar lagi. Begitu seterusnya sebab aku nggak mau waktuku yang singkat ini terbuang sia-sia.

Modalku tidak banyak. Untuk bahan baca, aku hanya mempunyai sebuah buku kecil berisi rangkuman materi berjudul Menguasai IPS – Sistem Kebut Semalam. Pertama kali aku tahu tentang buku ini adalah ketika melihat Hanna dan Indira yang sering membawa buku tersebut ke sekolah. Buku ini sangat populer di kalangan anak-anak murtad yang butuh bahan cepat untuk dipelajari. Ukuran bukunya yang sangat kecil memudahkanku saat ingin diam-diam belajar sewaktu jam pelajaran berlangsung. Orang-orang sering menyebut buku ini dengan sebutan ‘buku kuning’ karena warna cover buku ini yang memang kuning terang.

Aku selalu merekomendasikan buku ini kepada teman-teman seperjuanganku. Kekurangan utama buku ini adalah materinya yang tidak mendalam dan minim penjelasan (namanya juga rangkuman). Maka dari itu, kalau ada materi yang tidak aku mengerti, aku akan bertanya kepada para master yang ada di kelasku.

Aku bersyukur bahwa aku bisa berada di kelas yang super nyaman ini. Selain kegiatan belajarnya yang kondusif, isinya juga anak-anak yang pintar. Sudah kuceritakan, ada Hosea dan Juki, peraih medali perunggu OSN bidang ekonomi. Ekonomi menjadi materi yang paling aku pahami berkat penjelasan mereka yang mudah dicerna dan mendalam. Ada pula Kathy, peraih medali emas OSN bidang geografi serta salah satu wakil Indonesia dalam Olimpiade Geografi Internasional di Serbia tahun lalu. Aku mulai memahami geografi sedikit demi sedikit berkat bantuannya juga. Ngomong-ngomong, mereka bertiga termasuk kelompok murtad kelas kami.

Jika di dalam buku kuning ada materi yang belum aku pahami, tidak segan-segan aku bertanya kepada mereka ketika jam pelajaran kosong atau istirahat. Mempunyai tutor sebaya memang merupakan cara jitu bagi siapa saja yang ingin belajar lebih efektif.

Karena belajarku yang lumayan intensif itu lah, aku ingin sekali ikut try out hari ini. Pertama kali aku masuk ke Inten, terpampang di papan pengumuman adalah daftar peringkat nilai hasil try out SBMPTN yang telah dilaksanakan oleh murid-murid Inten sebelum aku masuk di semester dua ini. Peringkat pertama adalah seseorang yang tidak asing lagi bernama Jose dengan nilai sebesar 59%. Jose adalah teman SMP, sama seperti Rio dan Piero, yang bersekolah di SMA negeri yang berbeda. Kabarnya, dia menduduki peringkat pertama paralel IPS seangkatan di sekolahnya. Melihat teman lama, aku bertekad untuk mengalahkan dia walaupun membutuhkan waktu yang lama.

Aku meraih telepon genggam yang kugeletakkan begitu saja di sampingku. Grup LINE kelasku sedang ramai. Setelah kuperiksa, ternyata pengumuman nilai hasil try out SBMPTN yang diselenggarakan oleh para alumni sekolahku minggu yang lalu telah keluar dan diumumkan di sebuah official accountTry out itu adalah try out SBMPTN pertama buatku sehingga aku tidak berharap banyak. Targetku waktu itu adalah menembus angka 30%.

Tidak disangka, aku berada di peringkat tiga nilai try out SBMPTN Soshum tertinggi seangkatan dengan skor 37%. Peringkat kedua adalah Hanna sedangkan peringkat pertama adalah seseorang dari kelas lain. Aku terkejut bukan kepalang. Aku yang baru saja memulai belajar materi soshum di awal semester dua bisa mendapatkan perolehan semacam ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah peringkat 1-3 diduduki oleh anak-anak IPA.

Grup kelas dipenuhi dengan ungkapan terkejut, ucapan selamat, dan peringatan untuk kami dan Hanna yang bisa saja dimusuhi oleh anak-anak IPS. Aku sangat senang dengan perolehan skor ini. Ini menunjukkan bahwa belajarku selama ini tidaklah sia-sia. Aku juga tidak membiarkan rasa cepat puas dan tinggi hati menguasai diriku karena aku tahu bahwa Kathy dan Hosea tidak mengikuti try out itu. Jika mereka ikut, hasilnya mungkin akan berbeda. Dilihat dari sisi positifnya, semangat belajarku menjadi semakin tinggi dari sebelumnya.

Gas terus!

Malam seru di hari Jumat, 2 Maret 2018 — restoran Pizza Hut BSD

“WEH GUA DITERIMAAA!!” teriak Ryan berbahagia setelah melihat pengumuman di telepon genggamnya. Teriakannya disambut dengan banjiran ucapan selamat dari teman-teman di sekelilingnya, termasuk diriku.

“Wah gila lu Yan, gue kira lu nggak keterima,” kata Josua yang pertama kali mengomentari.

“Padahal jawaban interview lu tuh bego, Yan,” Daffi ikut-ikutan mengomentari. “Masa ditanya rencana bisnis selama sepuluh tahun ke depan, lu jawab ‘I don’t know’. Kan bego.”

Kami tertawa bersama-sama. Pada malam itu, Ryan resmi diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM lewat jalur Kelas Internasional. Sebagai teman sekelas di kelas 10 dan 11, bagaimana kami tidak ikutan bangga?

“Lu gimana, Mo? Diem-diem aja,” tanya Naura yang berada di sampingku. Sama seperti Ryan, aku pun juga mengikuti rangkaian seleksi jalur Kelas Internasional di UGM. Bedanya, aku berusaha masuk di jurusan Hukum-nya.

Aku melihat telepon genggamku. Entah kenapa, sinyal pada malam itu sedang kacau balau. Website tempat di mana pengumuman itu akan diperlihatkan loading-nya bukan main lamanya. Jantungku berdetak cepat.

Dalam penantian panjang itu, tiba-tiba aku mendapatkan pesan Whatsapp dari bapak. Isinya singkat, padat, jelas: “Selamat mas kamu diterima”. Sontak aku meneriakkan hal yang sama dengan apa yang diteriakkan Ryan beberapa menit yang lalu. Teman-temanku langsung mengucapkan selamat kepadaku. Pada malam itu, yang sejatinya kami berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun teman kami, Daffi, bertambah kebahagiaannya setelah aku dan Ryan diterima di Universitas Gadjah Mada.

asdasd

“Enak dah lu berdua udah diterima,” kata Benaya sedikit bersungut sambil menghabiskan slice terakhir pizza yang ada di tengah meja.

“Doain kita-kita ya supaya cepat nyusul,” pinta Alda yang disusul dengan ucapan ‘amin’ dari kami berdua.

“Berarti kita perlu ngadain after-party nih,” saran Daffa yang duduk di paling ujung meja. “Rotbak 88 masih buka nih kayaknya.”

“Yakali nggak kuy,” jawab Abrar sembari meminum chocolate milkshake-nya. Saran Daffa akhirnya disetujui oleh semua peserta yang hadir.

Telepon genggamku berdering. Ibuku ternyata menelepon. Aku pergi sebentar dari teman-temanku yang masih ramai berbicara untuk menjawab teleponnya. “Selamat ya, Mas… kamu diterima di UGM,” kata ibuku terisak-isak. Sepertinya ibuku baru saja menangis. “Ibu sangat khawatir kalau kamu nggak diterima. Ibu bangga sekarang.”

Aku sangat senang mendengar ibuku yang berkata seperti itu. Rasanya, aku telah berhasil menjadi seorang anak yang bisa dibanggakan. “Iya, Bu, makasih ya, perjuanganku ke Jogja sama bapak nggak sia-sia hehehe,” jawabku.

“Kapan pulang mas?” tanya ibuku selanjutnya. “Aku masih mau makan-makan lagi sama temen-temenku,” jawabku jujur. Mungkin ibuku mau cepat-cepat bertemu dengan aku setelah pengumuman ini.

“Jangan pulang malam-malam ya,” perintah ibuku yang sudah sering kudengar tiap kali aku bermain di luar bersama teman-teman. “Besok kita makan-makan.”

Aku mengiyakan rencana itu lalu menutup obrolan kami. Aku merasa beban berat yang telah kupikul selama ini sudah lepas sebagian. Diterima di Hukum UGM berarti aku tidak perlu belajar untuk SBMPTN lagi. Aku membuka aplikasi Whatsapp. Ucapan-ucapan selamat juga datang dari sanak saudaraku melalui grup keluarga besar.

Beberapa minggu yang lalu, aku berdiskusi mengenai jalur masuk PTN bersama dengan kedua orangtuaku. Mereka menasehatiku supaya mengikuti setiap jalur masuk PTN yang ada, mulai dari SNMPTN, SBMPTN, SIMAK UI, UTUL UGM, dan jalur mandiri lainnya. Bahkan, ibuku juga masih menyarankanku untuk ikut USM PKN STAN. Aku siap menghadapi semuanya, toh aku juga nggak mau menjalani satu tahun tanpa berkuliah (gap year) karena nggak diterima di PTN manapun.

Kedua orangtuaku cukup was-was sebab mereka sering mendapat berita atau kabar dari berbagai orangtua yang anaknya tidak diterima di PTN yang mereka inginkan sehingga harus masuk perguruan tinggi swasta. Bapakku malah berkata jika aku amit-amit tidak lolos ke PTN manapun, aku akan dipersiapkan untuk sekolah di Jerman. Walaupun kedengarannya menggiurkan, aku tidak tertarik.

Saat pelaksanaan try out SBMPTN yang diselenggarakan oleh para alumni sekolahku pada tanggal 27 Januari 2018, aku berada satu ruangan tes dengan Ryan. Dari Ryan lah, aku pertama kali mendengar tentang jalur penerimaan Kelas Internasional di UGM karena dia bercerita bahwa dia berencana ikut seleksi jalur tersebut pada tanggal 23-24 Februari 2018 nanti.

Aku cukup tertarik, apalagi aku memang akan mengambil konsentrasi Hukum Internasional pada saat perkuliahan nanti. Kesempatan untuk mendapatkan double degree makin meningkatkan keinginanku untuk ikut. Sepulang dari tes, aku memberitahukan informasi ini kepada orangtuaku dan sebelum aku menyatakan keinginanku untuk ikut, orangtuaku sudah duluan menyarankanku untuk ikut. Coba aja semua tes, kata ibuku.

Long story short, aku berangkat ke Jogjakarta bersama dengan bapakku sehari sebelum pelaksanaan tes di sana. Tidak lupa, sebelum aku berangkat, aku meminta doa restu dari guru wali kelasku, beberapa teman dekatku, dan sanak saudara melalui grup WA. Persiapan belajarku sedikit sekali, tidak seperti persiapan SBMPTN. Mungkin karena niatku untuk diterima tidak sebesar itu. Namanya juga hanya mencoba.

Ketika hari-H pelaksanaan, aku menyadari bahwa seleksinya tidak terlalu ketat. Hanya ada 150 peserta yang mendaftar untuk Kelas Internasional Fakultas Hukum UGM dan yang diterima ada 35 anak. Aku cuma perlu mengalahkan dua orang lainnya untuk mengamankan posisiku di FH UGM. Tidak ingin merasa kepedean duluan, aku tetap berusaha sekuat tenaga dalam mengerjakan tiap-tiap soalnya.

(Cerita tentang seleksi ini akan dilanjutkan di artikel berikutnya)

Di tengah hiruk-pikuknya malam itu, aku merasa ada yang mengganjal. Aku seharusnya merasa lebih senang dari ini. Bagaimana tidak, aku sudah diterima di jurusan yang kuinginkan di salah satu universitas terbaik se-Indonesia. Seharusnya aku melompat-lompat kegirangan, memeluk setiap teman-temanku, atau apalah yang sering dilakukan oleh banyak orang ketika mereka super berbahagia. Namun aku tidak. Aku belum puas dengan hasil ini. Ryan pun begitu. Aku dan Ryan sama-sama senang ketika diterima di UGM, tetapi kami memiliki misi yang lebih besar. Aku mau masuk Ilmu Hukum UI sedangkan Ryan ingin lolos di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.

Perjuanganku belum selesai.

Malam penentuan di hari Selasa, 6 Maret 2018 — ruang tamu rumahku

“Bu, tadi aku dipanggil sama guru BK,” kataku kepada ibuku yang masih sibuk mengerjakan laporan SPT tahunan dari banyak kliennya.

Tanpa menoleh, ibuku menyindir dengan nada bercanda, “Kenapa lagi? Kamu ngerusakin pintu lagi sama temen-temen kamu kayak tahun lalu?” Mendengar itu, aku terkekeh-kekeh. Tahun lalu, aku betul terjerat sebuah kasus pengrusakkan pintu kelasku sampai-sampai ibuku dipanggil guru BK untuk pertama kalinya setelah enam tahun tidak pernah dipanggil karena urusan kenakalan.

“Nggak kok. Tadi aku sama Meme cuma ditanyain kenapa belum finalisasi pendaftaran SNMPTN,” jelasku sembari duduk di sofa ruang tamu. “Terus aku jelasin aja kalau aku emang nggak ngarepin diterima lewat jalur SNMPTN. Kan aku cuma pengen Hukum UI. Peluang anak IPA diterima di jurusan soshum, apalagi yang skala UI gitu loh, keciilllll banget. Malah bisa dibilang ‘bunuh diri’.”

Aku hanya berusaha bersikap realistis. Walaupun aku tidak tahu secara detail bagaimana pihak universitas menentukan siapa-siapa saja yang diterima, aku tahu bahwa nilai raporku bisa dibilang tidak begitu tinggi untuk level SNMPTN. Apalagi karena aku memilih jurusan soshum, maka tentu nilai IPS-ku akan dilirik. Nilai-nilai IPS yang kudapat dari pelajaran lintas minat selama di SMA hampir semua tidak menyentuh angka 90 keatas. Jadi, aku sudah pesimis duluan.

“Yaudah kamu daftar aja sini, siapa tau diterima,” kata ibuku santai. Aku akan berbohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak mengharapkan SNMPTN sama sekali. Masih ada secercah harapan, namun aku tidak membiarkan harapan itu menjadi kepedean. Sakit banget kalau misalkan nggak tercapai.

Ibuku berdiri lalu berjalan ke arah dapur. Aku kemudian duduk di kursi kerja ibuku dan mengetetikkan website pendaftaran SNMPTN 2018. Proses loading-nya cukup lama, mungkin karena sudah beberapa jam sebelum penutupan pendaftaran sehingga banyak yang mengakses. Untungnya, aku mengikuti saran Kathy minggu lalu. Aku sudah duluan mengunggah semua berkas yang diperlukan sehingga ketika aku berubah pikiran untuk mendaftar SNMPTN, tinggal tahap finalisasi saja.

Ibuku mengambil sebuah kursi dan duduk di sampingku. Kami sudah sampai di halaman pemilihan program studi dan universitas. Untuk pilihan pertama, aku langsung memilih Ilmu Hukum UI. “Pilihan kedua kira-kira apa, Bu?” tanyaku bingung. Pikiranku selalu penuh dengan Hukum UI sehingga belum memikirkan pilihan yang lain.

“HI aja, kamu kan mau jadi diplomat,” jawab ibuku seraya meminum teh yang ia ambil dari dapur. Aku mengernyitkan alis. “HI kan lebih susah, Bu, daripada Hukum, masa pilihan keduanya itu,” kataku ragu-ragu. Aku tahu ibuku nggak sembarangan bicara. Dulu aku sempat mengutarakan keinginanku untuk memilih jurusan Hubungan Internasional di UI, namun setelah melihat passing grade SBMPTN yang sangat tinggi, aku akhirnya memutuskan untuk fokus di Hukum UI yang passing grade-nya lebih rendah.

Tapi kalo nggak HI, apa dong pilihan keduanya, pikirku. Dari sekian banyak jurusan yang bisa kupilih, tidak ada yang menarik perhatianku, kecuali dua ini. Aku juga tidak ingin memilih jurusan lain hanya karena passing grade-nya jauh lebih rendah sehingga peluang masuk lewat jalur SNMPTN meningkat. Setelah berpikir panjang, aku lalu mengatakan, “Yaudah, Hukum UI pilihan pertama sama HI UI pilihan kedua, gitu aja ya?” yang disambut dengan anggukan ibuku.

Aku selesai melakukan finalisasi pendaftaran. Melihat kedua pilihanku, aku hanya terkekeh-kekeh. Dua-duanya jurusan soshum dengan tingkat keketatan tinggi di universitas negeri ternama…

mana mungkin aku diterima.

Hari Selasa, 17 April 2018 yang dinanti-nantikan — rumahku

Hari itu adalah hari penantian semua anak SMA kelas 12 di seluruh Indonesia. Pengumuman SNMPTN sudah keluar. Semua orang di tempat lesku sudah deg-degan dari siang tadi, berharap cemas apakah akan diterima atau tidak. Tetapi tidak untukku.

Selesai kami mengikuti jadwal intensif les Inten pada pukul 16.45, aku dan beberapa temanku sepakat untuk lanjut belajar di tempat tongkrongan biasa setelah kami melihat hasil pengumuman SNMPTN kami masing-masing. Aku dan Jose pamit pulang terlebih dahulu agar bisa melihatnya bersama-sama dengan keluarga sedangkan teman-temanku langsung pergi ke tempat tongkrongan.

Sesampainya di rumah, aku telah disambut oleh ibu, bapak, dan adikku yang paling kecil. “Ayo kita cek sama-sama di komputer ibu!” seru ibuku seraya berdiri dari kursinya dan mempersilahkanku untuk duduk. “Nggak, aku mau ngecek dulu di kamarku sendiri,” kataku. Bukannya aku malu kalau dilihat bersama-sama, namun aku lupa nomor pendaftaranku sendiri. Waktu itu, aku lupa mencetak kartu peserta SNMPTN sehingga aku sekarang tidak tahu harus berbuat apa.

Sudah pukul 17.00. Aku masih menatap kosong website pengumuman SNMPTN di depanku. Aku lalu mencoba mencari-cari bagaimana cara mengetahui nomor pendaftaran SNMPTN tanpa harus mencetak kartu peserta. Tidak berhasil, aku menyenderkan tubuhku ke dinding sambil mengembuskan nafas berat.

Aku membuka aplikasi LINE-ku dan menyadari bahwa beberapa grupku sudah ramai dengan pembicaraan. Di grup angkatan SMP, banyak orang mengucapkan selamat kepada salah satu temanku yang ternyata diterima di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Di grup kelas, kabar mengenai empat orang temanku yang diterima di jurusan Pendidikan Kedokteran di universitas yang berbeda mengejutkan seisi kelas. Lewat personal chat, beberapa temanku juga menanyakan bagaimana hasil SNMPTN-ku. Aku jujur mengatakan bahwa aku tidak ingat nomor pendaftaranku sehingga harus menunggu besok ketika ada kesempatan mencetak ulang kartu peserta.

Aku, yang tadinya santai-santai saja dalam menghadapi pengumuman SNMPTN, mulai gugup. Melihat beberapa temanku yang sudah diterima di PTN yang mereka inginkan lewat jalur SNMPTN membuatku merasa sedikit iri. Gue juga mau kayak gitu, pikirku.

“Berapa NISN lu?” tanya salah satu teman lesku, Sarah, melalui personal chat LINE. Entah kenapa, dia pengen banget tahu tentang hasil SNMPTN-ku. Mungkin karena kami berdua sama-sama murtad.

“Emang bisa tau pake NISN?” tanyaku balik. “Bisa,” balasnya singkat. Karena aku juga tidak tahu harus berbuat apa, kuberikan NISN-ku kepadanya.

“EH,” katanya tiba-tiba ngegas. “JOSE DITERIMA DI AKUNTANSI UI! WAAAAA”

Sungguh kabar yang menarik. Siang tadi ketika jam diskusi di Inten, aku menyuruh Jose untuk mentraktir semua anak-anak tongkrongan les jika dirinya diterima lewat jalur SNMPTN. Awalnya dia menolak, namun karena dipaksa secara terus-menerus, dia akhirnya mengiyakan.

“Jangan ampe nggak dateng lu kalo diterima,” kataku mengancam pada waktu itu. “Kudu dateng sekalian bawain makanan!”

“Iya-iya, Mo. Lu juga dateng kali kalo keterima,” balasnya kepadaku dengan nada sindiran.

“Yelah, mana mungkin gue diterima,” jawabku pesimis.

Aku tersenyum membayangkan makanan apa yang akan dibawa Jose ketika kita berkumpul di tempat tongkrongan nanti. Dibalik itu, aku kembali merasa iri. Enak ya Jose, pikirku lagi. Harapanku untuk diterima lama-kelamaan mulai menggelora.

“Nih gue udah tau nomor pendaftaran lu,” pesan Sarah tiba-tiba. Aku deg-degan. “Mau gue yang cek atau gimana HAHAHA”

“NGGAK LAH GUE AJA!” balasku nggak santai. Sarah kemudian mengirimkan nomor pendaftaranku. Sekarang aku bisa melihat hasilku. Jujur, aku merasa nervous. Sembari aku mengetikkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir, aku berandai-andai bagaimana nanti jika yang keluar adalah kotak berwarna hijau. Wah gila bakal seneng banget gua. Walaupun begitu, aku juga mempersiapkan mental jika yang keluar adalah kotak berwarna merah.

Selesai mengisi semua form-nya, aku menekan kotak ‘Lihat Hasil Seleksi’. Aku hanya berpasrah tentang hasilku. Kalau gagal, toh aku sudah mempersiapkan SBMPTN dari jauh-jauh hari.

asdascsc

Aku bersorak kegirangan. Aku melompat dari tempat tidurku dan memukul-mukul dinding. Aku tidak percaya. AKU DITERIMA DI HUKUM UI, teriakku dalam hati. Saking tidak percayanya, aku harus memeriksa kembali apakah itu benar identitasku. Setelah mengkonfirmasi kebenarannya, aku bersorak kembali. Senyumku kubuka sangat lebar.

Aku berlari menuju ruang tamu tempat di mana bapak dan ibuku berada. Aku berlari sangat cepat hingga kehabisan nafas. Sampai di ruang tamu, bapak dan ibuku menatapku heran kenapa aku berlari di dalam rumah.

Aku tersenyum lalu berteriak, “AKU DITERIMA!” dan sontak ibuku menjerit senang. Jeritan itu disusul dengan isak tangis dan air mata yang membasahi kedua pipi ibuku. Aku kemudian memeluk ibuku. “Ya Allah, Mas, ibu tadi pagi sudah berdoa di Goa Maria sama adik meminta hasil yang terbaik,” kata ibuku masih dalam tangisannya.

Setelah aku melepaskan pelukanku, gantian aku memeluk ayahku yang hanya senyum-senyum saja. “Mantap, Mas, setelah ini nggak usah dateng les lagi,” katanya dengan nada bercanda. Aku mengiyakan keras.

Habis bapakku, aku memeluk adikku perempuan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. “Keren, Mas,” komentarnya singkat-padat-jelas. “Sekarang giliran kamu nih bisa diterima di SMPN 115 Jakarta apa nggak hehehe,” kataku menantang adikku.

Momen kebahagiaan ini dilanjutkan dengan obrolan santai antara kami berempat. Topiknya beragam: kesanku diterima di SNMPTN, tahapan daftar ulang, motivasi untuk adikku, apakah bisa menarik uang yang telah dibayarkan ke UGM atau tidak, dan masih banyak lagi. Telepon genggamku juga penuh dengan notifikasi pesan-pesan ucapan selamat yang datang dari sanak saudara, doi, teman dekat, teman les, teman kelas, teman lama, dsb. Ini adalah waktu yang paling menggembirakan dalam hidupku.

Dan sekarang aku bisa menatap masa depanku dengan senyuman.

Advertisements

9 thoughts on “Cerita Anak IPA Diterima Lintas Jurusan di Hukum UI melalui SNMPTN 2018

  1. Ka, mau tanya. Mata pelajaran apa aja yang masuk penilaian untuk SNMPTN kalau lintas jurusan dari IPA ke IPS? Terimakasih kak.

    Like

    1. Halo, Nabila! Kalau ditanya tentang apa2 aja yang masuk penilaian untuk SNMPTN tentu saja nggak ada yang tau pasti karena proses penilaian mereka itu rahasia dan tertutup (ya kecuali panitianya sendiri hehe). Tapi kita masih bisa berspekulasi kok. Boleh nggak saya mengganti pertanyaanmu dengan ‘Bagaimana cara memaksimalkan peluang kita untuk diterima SNMPTN lintas jurusan?’

      *Note: Selanjutnya adalah SPEKULASI saja, sama sekali nggak ada data yang mendukung jawaban saya sehingga tolong tidak dimasukkan ke otak secara mentah2. Cukup jadikan bahan bacaan saja.

      1. Kalau kamu IPA sekaligus mengikuti pelajaran lintas minat IPS maka saya kira kamu punya nilai lebih karena paling tidak, kamu ada nilai IPS di rapormu. Saya sendiri dari kelas 10 sampai 12 selalu mengikuti pelajaran lintas minat. Kelas 10 saya ambil Ekonomi, Geografi, dan Sejarah, kelas 11 dan 12 Sejarah dan Ekonomi.

      2. Pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris juga bisa dijadikan bahan penilaian karena anak IPA dan IPS sama2 pelajari. Namun untuk mengimbangi anak2 IPS yang sudah punya nilai IPS duluan, nilaimu di pelajaran2 ini haruslah tinggi 🙂

      Itu aja ya, jangan lupa ini semua hanya spekulasi pribadi saya. Semoga membantu!

      Like

  2. Ka aku kls 11-12 kan ada pljrn sejarah & geo (aku jurusan ipa), nah aku nanti mau daftar snmptn jurusan arkeologi. Doain semoga keterima dan gk kalah saing sama anak ips ya kak^_^

    Like

  3. Hi kak! cerita nya memotivasi sih dan kurang lebih hampir sama kaya yang aku alami hehehe. tapi disini kakak beruntung bisa ambil soshum lewat snmptn sayang aku gabisa karena ga dibolehin guru bk 😦 kak boleh lihat nilai rapornya gak? buat referensi aja. makasih 🙂

    Like

  4. Halo kak, kan aku dari kelas 10-12 gak ada belajar lintas minat (sosiologi, geografi, ekonomi). Kira-kira ada peluang juga gak? Makasih kak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s