Teka-Teki Lucu Kampret Bareng Temen

Lu tau masa kecil lu kurang bahagia ketika lu udah kelas 12 SMA, SBMPTN bentar lagi, pas pulang sekolah bukannya les, belajar atau pulang ke rumah tapi malah duduk melingkar bareng 8 temen lo, di koridor sekolah, main tebak-tebakan.

SELAMA SATU SETENGAH JAM PENUH!

Ini sebenernya bukan sembarang tebak-tebakan yang kayak:

“Kenapa dinosaurus nggak bisa tepuk tangan?”

“Karna mereka udah mati YHAAAA”

Tebak-tebakannya lebih masuk ke kategori ‘teka-teki’ atau riddle yang lebih bikin mikir, butuh kemampuan analisa yang mumpuni, serta kesiapan untuk dibego-begoin kalo nggak bisa jawab.

Main teka-tekinya gampang. Kami berdelapan duduk melingkar, ada satu orang yang bakal pertama kali mengajukan sebuah teka-teki memiliki dua struktur bagian: petunjuk dan pertanyaan. Teka-tekinya lalu dijawab oleh orang lain (kalo udah tau). Nah buat mereka yang kaga ngerti, temen-temen yang udah tau bakal terus ngasih pertanyaan yang berbeda beserta jawabannya ampe kita berdelapan ngerti semua.

Ada teka-teki yang baru sekali ditanya, udah sebagian besar ngerti. Ada juga yang udah berulang kali ditanya ampe maghrib, masih aja ada satu orang bala yang kaga ngerti-ngerti.

Langsung cek bae dah beberapa teka-tekinya:

1. Bumi itu bulat (Gampang bat)

“Bumi itu bulat nih… satu tambah satu berapa?” tanya Rafi membuka teka-teki.

“NOLLLLLLLLL!” sahut semua orang. “Classic bat classic, susahan dikit lah,” sombong si Daffi.

Salah satu teka-teki terklasik yang pernah ada. Setiap pertanyaan memiliki pola atau pattern yang sama, petunjuknya adalah ‘bumi itu bulat’. Berikut beberapa contohnya:

1 + 2 = 0

2 + 8 = 2

10 – 6 = 0

8 x 8 = 4

0 + 0 = 2 (ini sih udah keliatan banget)

117.320 / 50.703 = 1/2

Apa yang bulat? Tentunya bentuk lingkaran yang ada di setiap angka. 8 punya dua bulatan, 10 ada satu, 6 ada satu, 3 sama 1 nggak punya, dst. Setelah kita tau itu punya berapa bulatan maka tinggal ditambah/kurang/kali/bagi sesuai kebutuhan.

2. Berapa nyamuk? (Masih gampang)

Coba perhatikan beberapa pertanyaan berikut:

“Berapa nyamuk?” Lalu Benaya menepuk tangannya sebanyak 3 kali. Hampir semua langsung bisa menjawab “Dua!” Jawabannya benar.

Tetapi Piero masih kaga ngerti. Dia belum tau nampaknya.

“Nih Pir, coba hitung nyamuknya,” lalu gua menepukkan tangan gua secara cepat sehingga gue pun nggak bisa ngitungnya. Temen-temen gue yang lain menjawab dengan mudahnya, “Lima, lah!”

Piero masih mengernyitkan jidatnya lalu diikuti dengan kata, “Apaan si gua nggak ngerti.”

“Ada berapa nyamuk?” Lalu Rafi mau menepukkan kedua tangannya tapi gajadi. Piero bingung karena nggak ada tepukan sama sekali. “Jawabannya tiga, Pir” kata Rafi sambil menjitak kepalanya Piero.

Dari 3 kasus di atas, sangat kelihatan bahwa kunci jawaban teka-teki ini bukan dari jumlah tepukan yang dilakukan si penanya. Mungkin lu bertanya-tanya seperti Piero, “Terus ngitungnya dari mana?”

Seharusnya sih keliatan jelas. Teka-teki ‘bumi itu bulat’ memiliki petunjuk yang sama setiap pertanyaannya. Teka-teki ini tidak memiliki petunjuk namun kalo lu dikasih pertanyaan yang berbeda secara berulang-ulang, pada akhirnya lu tau bahwa jumlah nyamuk selalu sama dengan jumlah kata dalam kalimat pertanyaan.

Sebenernya sih nggak harus pertanyaan (liat kasus kedua) but you get the point.

3. Pikir dulu sebelum menjawab (Yang gampang banyak ye)

Teka-teki ini kalo ditulis bakal keliatan banget sih jawabannya tapi yasudahlah.

“Pikir dulu sebelum menjawab,” kata Rafi penuh efek dramatik. “Satu tambah satu sama dengan?”

Nggak ada yang menjawab. Ini teka-teki baru buat gue. Lalu Rafi memejamkan matanya dan mengernyitkan jidatnya sambil berkata, “Ummm… lima!”

Spontan gua dan Daffi tertawa terbahak-bahak karena begitu mudahnya kunci jawaban teka-teki ini.

“Udah ngerti, Mo?” tanya Rafi sambil tersenyum. Gue menjawab lantang, “Tanya gue dulu”

“Pikir dulu sebelum menjawab, berapa tiga kali lima?” tanya Rafi.

“Ummm… tiga koma lima pangkat dua logaritma tujuh!” jawab gue yang langsung disambut dengan selebrasi dari Rafi dan Daffi.

“Kayaknya Piero masih bingung tuh,” kata si Daffi. “Nih Pir, berpikir dulu sebelum menjawab, satu kali nol berapa?”

Piero lalu menjawab, “Nol?” yang diikuti dengan celaan dan hujatan dari teman-temannya.

“OOOOOHHHHH!” teriak Wira, Benaya dan Abel bersamaan. Mereka paham bahwa lu literally harus bertingkah seperti orang yang sedang berpikir sebelum menjawab. Apapun jawabannya bakal bener kalo lu BERPIKIR dulu sebelum menjawab.

Lu boleh belaga memejamkan mata sambil mengernyitkan jidat kek atau menjetikkan jari sambil bergumam, “Kalo satu kali nol berarti gue harus memfaktorkan dua dalam tiga lalu tujuh dikorelasikan dengan akar pangkat dua… jawabannya tiga!”

Benar.

4. Berapa pisang? (Level sedikit lebih tinggi tapi masih kategori gampang)

Hampir sama pertanyannya kayak ‘berapa nyamuk?’ tapi kunci jawabannya berbeda.

“Ada berapa pisang nih bray?” Daffi lalu membentuk jari-jari tangan kanannya seperti gambar di bawah dan menepuk lengan kirinya sebanyak dua kali.

u

“Ini riddle dari kelas lu kan,” kata Benaya. “Umm… tiga pisang!”

“Yak, bener lu Ben” kata si Daffi. Temen-temen yang lain masih belum pada ngerti. Benaya kemudian melakukan apa yang Daffi lakukan tadi, menepuk dua kali tapi kali ini slow-motion, “Berapa pisang?”

Abel menjawab, “Tiga?”

Benaya langsung menghardik, “Salah, jawabannya tujuh pisang”

“LAH LAH LAH. Tadi dua tepok juga jawabannya tiga, kok sekarang tujuh?” tanya Piero nggak terima.

“Kan yang terakhir slo-mo, beda jadinya HAHAHAHA” jawab Benaya puas, diikuti dengan Daffi.

“Eh jawaban yang pertama bukan tiga dong Pir,” kata gue ikut nimbrung. “Jawabannya tiga pisang”

Lalu Daffi dan Benaya tertawa terbahak-bahak, diiringi dengan suara Rio, Rafi, Wira, dan Abel yang OHH keras.

Petunjuk gue keras banget kan. Gue emang mau ngasih tau kalo di teka-teki ini satuan harus disebutinBukan masalah berapa tepukan atau berapa kata dalam kalimat tapi selama lu menyebutkan kata ‘pisang’ di akhir jawaban lu, semuanya angka bener.

Kan kalo dijawab cuma ‘tiga’ kita gatau tiga apa. Tiga mengkudu kah? Tiga raja dari timur? Tiga naga dari legenda Targaryen? Tiga gol Barca atas Juventus? Satuan itu penting, sob.

5. Kita mau pergi nih, lu pada bawa apa? (Di antara gampang dan normal tapi masih gampang si)

Teka-teki ini akan bekerja dengan baik kalo ada satu atau dua temen lu yang udah ngerti duluan. Kalo lu doang yang tau ntar garing sendiri.

Gue membuka teka-teki, “Kita mau pergi nih, guys. Ceritanya ke Singepowr naik pesawat. Gue bawa makanan, lu pada bawa apa?”

Gue menatap Rio dan Benaya dengan tatapan tolong-jawab-biar-ga-garing. Benaya yang peka lalu menjawab, “Kalo gitu, Mo, gua bawa bantal dah biar nyaman di pesawat.” Temen-temen lain masih agak kebingungan dengan apa yang mau mereka bawa.

“Kalo gue bawa rantai dah, siapa tau kita perlu” jawab Rio seenaknya. Gue dan Benaya tertawa kecil.

Daffi ikut-ikutan, “Gue bawa dodol dah, sapa tau laper kan lu pada”

“Gua bawa antimo biar ga muntah-muntah,” jawab Abel yang ternyata mabuk udara.

Lalu gue mengarahkan pandangan ke Piero, “Lu bawa apa Pir?”

“Duit kali ya apalagi mau ke luar negeri”

“Yahhhh, gabisa Pir, lu gabisa bawa duit,” jawab gue.

“Lah lu ke Singepowr yakali ga bawa duit, bego dah”

“ET KOK ELU YANG JADI NGOTOT ANJ” teriak Daffi ga nyante.

Ayo bantu Piero lagi! Kan setiap orang jawabnya beda-beda tuh. Nah, apa hubungan antara si penjawab dengan jawabannya yang mereka pilih? Kenapa Piero gabisa bawa duit?

Karena huruf pertama nama penjawab dan nama barang yang dibawa kudu sama.

 

6. KO-OR-DI-NA-SI! (Udah agak-agak gimana gitu)

“KO-OR-DI-NA-SI, teman-teman! Koordinasi,” teriak gue memberikan petunjuk. Semua mata tertuju kepada gua.

“Pertama, gua ke Belanda nih. Habis itu terbang ke Estonia…”

“Masih belum dapet gua, Mo,” kata Rafi. Lalu gua melanjutkan, “…terus gua ke Ghana tuh gatau mau ngapain. Habis itu gua ke?”

“Ke-ke… Oman!” jawab Daffi. “Yak, betul!” kata gue yang disambut dengan ketawaan beberapa orang. Masih ada Abel dan Piero yang belum ngerti.

“Tapi kalo gua ke Oslo, boleh kan?” tanya Benaya tiba-tiba. “Ya boleh lah, Benn!” kata Rafi.

“Nah habis itu gua ke mana?” tanya gue selanjutnya.

“PULANG, HAHAHAHHA” teriak Daffi. Kita semua ketawa.

Oke, ini agak butuh pendalaman lebih lanjut. Gue nggak pilih sembarang tempat buat dikunjungi tapi gue pilih negara dengan huruf awal yang gue mauJadi, lu kudu liat huruf awal setiap negara. Nah, huruf-huruf tersebut akan membentuk sebuah kata sehingga, dari nama teka-tekinya, setiap orang harus berkoordinasi tentang kata apa yang mau gue buat. Si penanya dan penjawab harus satu pikiran.

Gua memberikan klu tentang negara Belanda, Estonia dan Ghana. Nah, susunan huruf itu lalu disambung dengan Oman atau Oslo dan membentuk sebuah kata yang gue mau.

Bego.

7. Keliling dunia (Kasih gampang lagi dah)

“Keliling dunia nih kita,” kata si Wira. “Awalnya ke Finlandia, habis itu ke Gandaria, terus ke?”

“Ya ke Honduras lhaa,” jawab si Rafi.

“Habis itu ke Inggris!” nimbrung Abel.

“Yakali nggak ke Jakarta, syoping-syoping dulu,” kata gue.

“Ke Kalimantan dong bray, mau liat orangtuan, keluarganya Piero,” Benaya ikutan. Kita semua ketawa.

Habis itu ke mana? Kuncinya hampir sama kayak ‘KO-OR-DI-NA-SI’ tapi ini membentuk deret huruf yang jauh lebih familiar. Gampang kan?

8. Jangan lupakan orang ketiga (Masih agak gampang)

Kunci jawabannya mirip-mirip sama teka-teki ‘berapa pisang?’.

“Jangan lupakan orang ketiga,” Abel memulai teka-tekinya. Baru petunjuk yang diucapkan, gue dan beberapa temen gue udah ngerti. Ini salah satu teka-teki klesik di sekolah gue. “Orang pertamanya Ahok, orang keduanya Obama, siapa orang ketiga?”

Rafi menjawab, “Kalo pertama Ahok, kedua Obama, berarti orang ketiganya si Piero!” Gue dan temen-temen gue langsung bersorak kegirangan. Seperti biasa, Piero masih keliatan bingung.

“Gini dah Pir, jangan lupakan orang ketiga nih yang penting,” kata si Rio. “Orang pertamanya bokap lu, orang keduanya Kim Kardashian, orang ketiganya?”

Piero berpikir sebentar kemudian menjawab, “Nyokap gua?”

Kalimat ejekan dan celaan langsung keluar dari mulut kami. “Orang ketiganya Tante Eli!” kata gue.

“Lah Eli kan nama nyokap gua,” kata Piero polos.

Siapapun jawaban lu, lu jangan pernah lupa meletakkan frasa ‘orang ketiganya …’ sebelum nama. Udah dibilang jangan lupain ‘orang ketiga’-nya kan?

“Orang ketiganya nyokap gua” –> jawaban benar

“Nyokap gua” –> jawaban salah

9. Kita sedang ada di gedung elektronik (Walaupun klesik, pertama kali denger pasti agak susah)

Abel melanjutkan teka-teki, “Kita sedang ada di gedung elektronik. Gua ada di lantai delapan, terus naik satu lantai. Gue ada di lantai berapa?”

Sontak gue, Rafi, Daffi, Wira, dan Benaya menjawab, “Lima!”

“Kalo gue ke kiri satu lantai?” tanya Abel lagi. “Ya empat lah!” jawab kami.

“Kalo turun dua lantai?” lanjut gue biar asik. “Ya bintang!” jawab Rafi diikuti gelak tawa dari teman-teman. Kali ini si Piero ngerti.

Keliatan ya petunjuknya udah kata ‘bintang’ wkwkwk. ‘Kita berada di gedung elektronik’ maksudnya adalah kita lagi memperhatikan papan angka di hape. Tau hape-hape jadul yang kalo mau ngetik huruf ‘S’ kudu neken angka tujuh 4 kali? Nah iya, papan angka yang itu.

Jangan salah miskom juga, kadang-kadang ‘Kita berada di gedung elektronik’ juga bisa merujuk pada papan angka di kalkulator. Beda kan tuh susunannya? Makanya kudu baik-baik memperhatikan pertanyaannya.

10. Warna [ini] nyampur sama warna [itu] jadi warna apa? (Sedeng ke susah nih)

Teka-teki ini nggak bisa gue tulis tanpa sekalian menulis kunci jawabannya karena teka-teki ini membutuhkan kemampuan visual. Biasanya, struktur pertanyaannya terdiri dari dua atau lebih warna yang bercampur dan lu harus menebak apa warna yang dihasilkannya. Tentu saja, nggak ada hubungannya sama dunia nyata yang kalo lu nyampur warna merah sama putih jadi pink-pink Patrick.

“Mobil warna merah bertabrakan dengan mobil warna ijo. Warnanya jadi apa?” kata gue.

“Merah nyampur ijo…. ungu kali” jawab Piero agak kebingungan.

“Jawabannya coklat, hehe”

Lu nggak akan pernah tau dari mana gue dapet jawabannya warna coklat sebelum lu liat sendiri kalo gue lagi megang jaket almameter gue yang kebetulan berwarna coklat. Kalo gue lagi nyentuh tembok sekolah yang berwarna abu-abu berarti jawabannya abu-abu dan begitu seterusnya.

Warna-warna yang bercampur nggak penting, yang penting adalah warna benda yang sekarang lagi gue pegang. Itu jawabannya.

11. Harta paling berharga yang semua orang butuh (Ini juga agak susah tapi seru banget)

“Harta yang paling berharga nih,” kata si Wira. “Ungu tambah ungu?”

Gue masih diem. Lalu Rafi menjawab, “Ijo”.

“Lu harus fokus bray, ini harta yang paling berharga” jelas si Wira.

“Harta paling berharga mah keluarga kan” nimbrung si Piero.

Rafi menjelaskan lagi, “Ye kaga, maksudnya ini harta paling berharga, semua orang butuh dah pokoknya. Ungu tambah kuning tambah kuning?”

Gue dan beberapa temen gue yang lain masih kebingungan. “Jawabannya ijo!” kata si Rio cepet. Mereka-yang-tau langsung bersorak girang.

“Yang semua orang butuh berarti udara kan?” kata Piero tiba-tiba.

Ah bego.

Apa harta paling berharga yang semua orang butuh? Secara ekonomis, jawabannya adalah duit. Warna yang ditanya berarti warna uang. Abu-abu berarti 2000, kuning itu 5000, ungu 10.000, ijo 20.000, biru 50.000, dan merah 100.000.

Silahkan kalo mau ditambah, dikurang, atau dibagi, use your imagination!

12. Cekrek cekrek, gua foto siapa? (Nah ini nih)

Sama kayak teka-teki ‘warna nyampur warna’, teka-teki ini berbau visual. Tapi gue jamin, ini lumayan lucu.

“Cekrek cekrek, gue foto siapa?” tanya gue. Beberapa temen gue masih bingung sambil ngeliatin gue tapi Benaya udah nyari jawabannya, ngeliat satu per satu temen gua.

“Si Wira kan,” kata Benaya akhirnya. Semua temen gue langsung ngeliat Wira.

“OHHH ya ya gue tau” kata si Rio.

Kok bisa gua foto Wira? Nggak bakal tau kalo lu belum ngeliat sendiri. Waktu itu, satu-satunya orang yang lagi duduk ngangkang cuma si Wira. Nah pas gue ngasih tau teka-tekinya, gue ngikutin gerakannya Wira jadi gue juga ikut duduk ngangkang.

‘Gue foto siapa?’ itu berarti ‘Gue lagi ngikutin gerakannya siapa?‘ Karna cekrek cekrek kan pake kamera nah kamera itu ngambil gambar dari suatu peristiwa nyata kan. Makanya, gue ngikutin gerakannya Wira sama kayak kamera ngambil gambar Wira lagi ngangkang. Begitoh.

Jadi kalo si penanya ngasih teka-teki sambil ngelipet kedua tangannya berarti cari orang yang juga ngelipet kedua tangannya. Nah, kalo dia ngelakuin sesuatu, misalkan handstand gitu ceritanya (tapi nggak mungkin si) tapi nggak ada satu pun orang yang juga lagi handstand, berarti dia lagi selfie.

13. Seribu itu gratis, gratis itu seribu (SUSAH)

Ini adalah teka-teki terakhir terkampret di mana gua adalah orang terakhir yang nggak bisa jawab. Tinggal gue sendiri yang dibego-begoin.

Sekarang gua tau gimana rasanya jadi Piero.

“Seribu itu gratis, gratis itu seribu. Kalo meja?” mulai si Rafi. Abel lalu menjawab, “Seribu.”

“Cakep, Bel. Kalo kursi?” tanya Rafi lagi.

“Gratis lah” jawab Abel. Jawabannya pun benar.

Gue dan temen-temen gue yang lain bener-bener kebingungan. Teka-tekinya baru nampaknya.

“MIPA satu?” tanya Rafi. “Dua ribu,” jawab Abel.

MIPA dua, juga dua ribu. MIPA tiga, dua ribu. MIPA empat, dua ribu. Nah MIPA tujuh, ternyata cuma seribu.

Lala, dua ribu. Abel, seribu. Momo, gratis. Piero, gratis juga. Barrack Obama, empat ribu.

Gajah, dua ribu. Jerapah, juga dua ribu. Semut, gratis. Kalo gratis? Seribu.

Begitu terus ampe maghrib, tinggal gue yang gabisa jawab. Nggak tau gua emang bala apa gimana, ternyata cuma ngitung huruf ‘A’ dalam setiap kata. ‘Ribu’ itu hanya tipuan, ‘gratis’ berarti nol.

Ah, tai kamu semua.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s