Berpikir Positif: Masih vs Tinggal

Bosan.

Walaupun tubuhku berada dalam ruang sempit ini, pikiranku berkelana bebas di dunia lain. Bukan di alam bawah sadar atau dimensi lain yang diceritakan dalam film horor, Insidious namun di sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dan tidak akan pernah aku lihat dengan kedua mataku, yakni Inggris pada tahun 1800-an.

Sedikit misterius memang bahwa 300 lembar kertas yang sangat tipis dan rapuh bisa membawamu ke dunia yang takkan pernah disentuh manusia mana pun. Dunia itu hanya ada dalam pikiran manusia; muncul saat kita membaca kata pertama dan hilang seraya kita berhenti mengucap.

Petualangan duo Sherlock Holmes dan Dr. Watson tidak akan pernah berhenti untuk membuat diriku terus membaca, terkagum dan terheran-heran. Bagaimana Holmes dapat memecahkan kasus-kasus sulit dengan kemampuan nalar serta logika yang di luar batas, dengan ditemani seorang sahabat sekaligus rekan kerja yang setianya bukan main.

Aku memuji diriku karena dapat duduk di bangku paling belakang sehingga bisa bertemu dengan dua orang hebat dari masa lalu tersebut. Persaingan di kelas memang bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan nilai paling bagus atau prestasi terbanyak namun justru persaingan terketat dari semua kompetisi mana pun di dunia adalah mendapatkan bangku sebelakang mungkin dari papan tulis.

Terkesan agak hiperbola tetapi bukanlah omong kosong. Aku harus bersaing dengan 15 teman laki-laki di kelasku setiap pagi hari selama 3 tahun untuk dapat menaruh tasku di bangku paling belakang dan dengan bangga mendeklarasikan, “Ini bangku gue, lu pindah”

Buku mata pelajaran PKN terbuka lebar di atas meja namun perhatianku tetap tertuju pada novel yang secara sembunyi-sembunyi aku buka di bawah meja. Samar-samar aku mendengar 3 orang temanku sedang presentasi di depan kelas, entah kepada siapa. Siapapun pasti sependapat bahwa tidak ada yang memperhatikan.

Malah apa yang mereka lakukan itu tidak layak disebut ‘presentasi’, mereka hanya murni membaca indah slideshow Powerpoint yang diperlihatkan dengan proyektor di depan kelas tanpa bermaksud menjelaskan apapun. Ditambah lagi, materi yang mereka baca hanya copy-paste dari buku paket sehingga apa yang mereka ‘presentasi’-kan sudah lengkap ada di buku.

Ya bagaimana orang  mau memperhatikan kalau begitu.

Aku duduk bersama dengan temanku, Julio, yang juga sedang membaca buku tetapi buku itu berbanding terbalik dengan apa yang aku baca. ‘Avatar: The Last Airbender’ judulnya. Aang dan Holmes berasal dari tempat yang berbeda, umur mereka layaknya seorang kakek dan cucu, kemampuan mereka pun bagaikan pikiran tercerdas melawan hembusan angin terkuat namun petualangan mereka berdua sama-sama dapat menceritakan kisah yang menarik hati sekaligus menggugah jiwa.

Aku dan Julio adalah dua dari korban kebosanan dan ketidakpedulian yang melanda kelas saat ini, menjadikan kami lebih memilih menjelajahi serunya dunia fantasi ketimbang belajar di dunia nyata.

Sherlock Holmes sedang mencari petunjuk di Baskerville ketika bel sekolah berbunyi pendek, menandakan pelajaran telah berjalan selama 45 menit. Bel itu seakan menarik Julio dari Kerajaan Bumi kembali ke ruang kelas XI MIPA 3. Ia melihat jam tangannya lalu kemudian mengeluh kecewa, “Yah, masih satu setengah jam lagi”

Aku menghentikan Holmes yang sedang menjelaskan hasil penyelidikannya dan tanpa berpikir panjang berkata kepada Julio, “Bukan masih satu setengah jam lagi, tinggal satu setengah jam lagi, Jul”

Tanpa menatapnya secara langsung, aku bisa merasakan hawa kebingungannya karena mendengar aku berkata seperti itu. Tentu saja, aku meneruskan, “Kalau kita berkata masih satu setengah jam lagi, waktu akan berjalan lebih lama. Beda kalau kita berkata tinggal satu setengah jam lagi. Waktu itu relatif, Jul. Cepat-lamanya waktu bergantung pada konsep pemikiran kita terhadap waktu itu sendiri.”

“Sebenarnya nggak selalu soal waktu tetapi lebih kepada bagaimana kita berpikir positif. Contohnya kita punya segelas es teh manis lalu kita minum setengahnya. Kalau kita berpikir negatif, kita akan mengatakan, ‘Yah, tinggal setengah’. Tetapi kalau kita berpikir positif, kita harus mengatakan, ‘Yes, masih setengah’. Dengan kita memakai kata ‘masih’, kita mengakui bahwa ada masih ada kesempatan untuk menikmati setengah gelas es teh itu, bukan justru kecewa karena kita telah meminum es teh itu sehingga tinggal setengahnya.”

Aku mengatakan hal itu panjang lebar dan Julio mengangguk, mungkin ia mengerti, mungkin saja malah tidak sama sekali. Kemudian, aku mempersilahkan Holmes untuk melanjutkan penjelasannya. Aku tidak percaya bahwa kata-kata yang baru saja aku ucapkan tadi, yang tidak kupikirkan sebelumnya, justru membuatku dan Julio memahami bagaimana mudahnya berpikir positif terhadap kehidupan.

(Cerita ini merupakan cerita nyata dengan sedikit perubahan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s