Doa untuk Mereka yang Celaka

Sudah pukul 5 sore dan saya masih mengendarai mobil tua ini di jalan yang sudah saya kenal 30 tahun lamanya. Agak terasa nostalgia memang, jalan yang dulunya sepi, tidak terjamah malah beberapa tahun terakhir ini dikuasai oleh ‘mesin-mesin berjalan’ akibat banyak pabrik yang dibangun di sana dan sini.

Saya masih ingat betul betapa jalan ini sangatlah sepi sampai-sampai saya dan teman-teman saya bisa duduk di tengah jalan selama 10 menit sambil bermain kartu tanpa satu kendaraan pun membunyikan klakson.

Kiri-kanan ditumbuhi kelapa sawit, udaranya sejuk-sejahtera dan angin memeluk nyaman. Kalau sekarang, jalan yang dahulu jarang orang lewat berubah menjadi jalan lintas provinsi dengan debu yang amat kental di udara. Alhasil, kelilipan adalah hukuman bagi mereka yang membiarkan matanya terbuka bebas sebebas-bebasnya.

Agaknya, perkembangan kota ini selayaknya patut menerima penghargaan namun polusinya, ya Tuhan, juga satu di antara yang terparah.

Entah mengapa saya jadi merenungi sejarah dari jalan ini, mungkin karena merasa bosan. Di kelas mengemudi, saya paham betul kalau sedang mengemudi, kedua mata dilarang keras mengkhianati jalan. Tetapi kalau berhentinya lebih lama daripada bergeraknya ya apa boleh buat.

Saya tidak heran mengapa jalan pada sore hari ini begitu macet tetapi berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun menjadi pelanggan setia jalan ini, seharusnya tidak semacet ini. Sudah lebih dari 5 menit saya berada di posisi yang sama.

“Kok lama banget toh ya…” keluh saya dalam kebosanan yang luar biasa. Dalam keadaan seperti ini lah saya memarahi diri saya sendiri karena tidak segera membetulkan radio mobil yang telah lama rusak.

Selain bosan, saya juga kangen dengan keluarga di rumah. Biasanya jam segini, saya sudah berada di rumah, menonton berita di TV sambil minum teh hangat dan mendengarkan ributnya kedua anak saya yang berisik minta ampun. Lebih baik saya mendengarkan ocehan mereka daripada mendengarkan berisiknya kendaraan lalu-lalang, klakson dan para supir angkot yang mengumpat bersahutan.

Lama-lama berdiam di sini, rasa kesabaran saya juga diam-diam hilang. Tanpa berpikir panjang, saya bunyikan klakson saya, menandakan bahwa saya ikut berpartisipasi dalam pesta klakson yang sudah dimulai dari tadi. Walaupun tidak ada faedahnya sama sekali, paling tidak rasa kekesalan saya bisa diluapkan dengan bunyi klakson itu.

Kemudian saya melihat tiga orang anak SMA berjalan dengan gelisah di trotoar jalan. Saya dari dalam mobil hanya bisa mendengarkan secara samar-samar namun mereka mengatakan sesuatu tentang ‘kecelakaan’.

Oh, kecelakaan. Jadi itu yang menjadi penyebab kemacetan ini. Kecelakaan memang kerap terjadi di jalan ini, kebanyakan kecelakaan motor namun jarang yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin karena sudah bertahun-tahun melewati jalan ini, mendengar kabar bahwa ada kecelakaan yang terjadi tidaklah mengejutkan.

Saya menghembuskan napas panjang lalu meletakkan kepala saya di atas stir mobil, berusaha untuk santai sedikit. Dalam hati, saya hanya berharap agar macetnya cepat selesai, saya bisa sampai di rumah dan beristirahat dengan enak.

Tiba-tiba suara ketukan membangunkan saya. Saya melihat ke arah jendela mobil dan mendapati ada seorang anak berseragam SMA sedang berdiri di samping mobil. Saya menurunkan kaca jendela dan anak itu membungkukkan badannya agar kami bisa bertatap muka.

“Ada apa, Dek?” tanya saya dengan nada agak kesal, mungkin karena saya tiba-tiba dibangunkan olehnya atau macet yang berkepanjangan ini.

“Permisi, Pak, maaf. Saya hanya ingin memberitahu saja bahwa di depan ada kecelakaan, mobil nabrak motor. Seorang bapak yang naik motor itu meninggal di tempat” kata anak itu.

Saya jelas sangat terkejut mendengar penjelasan anak itu. Ternyata kecelakaan tersebut memakan korban jiwa. Saya merasa sedikit bersalah karena saya sudah membunyikan klakson dan kesal karena kemacetan ini, padahal ada seseorang yang meninggal tanpa sepengetahuan saya.

“Mm, mohon maaf, Pak, jika saya bertanya ini tetapi… apakah Bapak seorang Islam?” tanya anak itu dengan hati-hati, mungkin takut menyinggung tetapi tetap saja saya terkejut mendengar pertanyaan pribadi-agak-sensitif seperti itu.

“Oh, bukan, Dek, saya seorang Katolik” jawab saya mantap.

“Oh… Katolik, ya. Sebentar, Pak” katanya lalu berdiri dan celingak-celinguk mencari sesuatu atau seseorang. “Kristo! Kristo! Sini!” teriaknya. Setelah memanggil nama tersebut, ia lalu berkata kepada saya, “Bapak, silahkan berdoa dengan sepenuh hati bersama teman saya ini. Terima kasih, Pak” katanya dengan tersenyum lalu berjalan ke arah mobil di belakang saya.

Setelah ia pergi, seorang anak SMA lain mendatangi saya. “Selamat sore, Pak, nama saya Kristo. Bapak seorang Katolik? Mari, Pak, kita berdoa bersama untuk para korban kecelakaan di depan, khususnya untuk seorang bapak yang meninggal agar jiwanya dapat kembali ke sisi Allah Bapa dan yang ditinggalkan dapat menerima dengan tabah”

Saya amat sangat terkejut mendengar perkataan Kristo. Namun sebelum saya berpikir lebih panjang, Kristo membuat Tanda Salib. Secara spontan, saya pun juga mengikuti dirinya dalam doa dengan membuat Tanda Salib. Kristo memimpin doa dengan hikmat di tengah hiruk-pikuk jalan ini.

Kami memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan hidup yang boleh kami terima sampai sekarang ini serta doa permohonan atas para korban: kesembuhan bagi yang terluka dan keselamatan jiwa bagi yang meninggal lalu menutupnya dengan doa Bapa Kami.

Kekesalan yang saya rasakan lama-kelamaan hilang selama saya berdoa bersama Kristo. Saya terjerumus dalam kekuataan doa yang damai dan menyejukkan. Sekiranya anak-anak SMA ini tidak datang menghampiri saya, mungkin saya akan tetap kesal dan lupa akan kewajiban saya sebagai orang yang beragama untuk mendoakan mereka yang tertimpa musibah. Seakan-akan Tuhan mengingatkan saya dengan mengirim anak-anak ini.

Setelah kami sama-sama mengakhiri doa dengan Tanda Salib, saya memandang Kristo sejenak lalu mengucapkan terima kasih. Saya lalu memuji Kristo dan temannya tadi yang telah berinisiatif untuk mengajak para pengendara yang terjebak macet untuk mendoakan para korban daripada menyimpan kemarahan di dalam hati.

“Terima kasih, Pak, ini sebenarnya inisiatif Rasyid, itu teman saya yang tadi pertama kali mennghampiri Bapak. Kami ada 9 orang, tadinya sedang berjalan pulang dari sekolah lalu kami sadar ada kecelakaan makanya macet. Kami berniat menolong tapi sudah ada banyak orang lain yang menolong. Nah, si Rasyid merasa kesal sendiri karena ada kecelakaan kok orang-orang malah membunyikan klakson lah, yang mengumpat lah. Jadi, dia berinisiatif untuk mengajak para pengendara untuk berdoa bersama sesuai agama masing-masing. Makanya tadi Rasyid memanggil saya karena Bapak dan saya sama-sama beragama Katolik sehingga doanya lebih hikmat. Seperti itu, Pak” jawabnya panjang lebar.

Saya sangat terpukau mendengar penjelasan Kristo, luar biasa bahwa mereka bisa membawa kedamaian di hati para pengendara dengan perbuatan yang suci pula. Setelah itu, Kristo undur diri dan berjalan ke belakang antrian kendaraan.

Kemudian, saya menutup kaca jendela saya dan melihat ke arah mobil yang ada di depan saya. Suara-suara klakson itu sudah mulai berhenti. Rasyid, Kristo dan teman-temannya sungguh melakukan perbuatan yang mulia. Saya membuat Tanda Salib lagi dan berdoa mohon ampun atas kesalahan yang telah saya perbuat di hari ini.

(Cerita ini tidak mengandung unsur SARA dan bukan cerita asli)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s