One Piece | Evaluasi AL #1 – Imigrasi Bajak Laut

Author’s Note: HAPPY NEW YEAR, GUYSSSSS!!!!!!! Agak telat memang tapi yang penting kan ngucapin, ya kan?

Di awal tahun 2016 ini, gue pengen bikin semacam kayak evaluasi untuk hasil kerja Angkatan Laut selama serial One Piece pertama kali dibuat. Angkatan Laut telah menjadi bagian dari kehidupan para tokoh dalam serial One Piece dan telah memiliki warna tersendiri bagi serba-serbi kehidupan perbajak-lautan *duh gaje

Setelah Sengoku mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Laksamana Armada (Fleet Admiral), begitu pula Aokiji dari jabatannya sebagai Laksamana (Admiral), Angkatan Laut telah mengalami kehilangan yang luar biasa karena mereka berdua adalah sosok dengan peran begitu besar serta kekuatan yang bisa membuat bajak laut kelayapan. Namun kita akan mengintip kembali berbagai hasil besar yang telah dicapai Angkatan Laut sebelum mereka berdua mengundurkan diri untuk menghormati mereka.

Author’s Note: Gue tau mereka udah ngundurin diri dari tahun jebot tapi gue baru selesai nonton One Piece jadi masih terngiang di pikiran. Just bear with me.

Sedikit catatan buat kalian semua, Angkatan Laut nggak hanya mengurusi kejahatan bajak laut saja namun semua jenis kejahatan. Memang, sejauh yang kita lihat di One Piece, kerjaan Angkatan Laut cuma ngejar-nangkep-bunuh bajak laut namun ternyata, Angkatan Laut memiliki tanggung jawab yang lebih dari itu.

Thanks to Roger, hal mengenai perbajaklautan menjadi sesuatu yang amat serius karena banyak sekali bajak laut bermunculan setelah Roger mengucapkan kata-kata yang amat menginspirasi dalam detik-detik eksekusi matinya. Masa ini kita kenal dengan nama ‘Great Age of Pirates’ dan sudah berlangsung selama 24 tahun.

Pertanyaannya sekarang: Apakah Angkatan Laut telah melakukan tindakan efektif dalam menangkap/mengatasi para bajak laut itu?

Banyak bajak laut yang berbondong-bondong berlayar menuju Raftel, pulau terakhir di Grand Line di mana Roger meninggalkan harta karunnya, atau One Piece. Ada juga bajak laut yang hanya ingin menguasai lautan di seluruh dunia. Dengan fakta tersebut, bisa dikatakan bahwa hampir semua bajak laut ingin mengarungi Grand Line.

Untuk mencapai Grand Line itu sendiri, para bajak laut yang berasal dari lautan Blue, baik itu South Blue, North Blue, West Blue ataupun East Blue, mereka bisa masuk melalui Reverse Mountain atau melalui Calm Belt walaupun tidak direkomendasikan karena merupakan sarang dari Sea King serta tidak adanya angin di sana. Singkatnya, para bajak laut akan memilih jalur teraman yaitu melalui Reverse Mountain.

Angkatan Laut mengetahui ini (kalau nggak tau ya kebangetan lah) namun apa yang dilakukan mereka? Bukannya menghalang para bajak laut dari lautan Blue untuk masuk ke dalam Grand Line melalui Reverse Mountain, mereka justru memilih untuk menangkap para bajak laut di dalam Grand Line.

Author’s Note: Gue tau ini untuk kepentingan kelanjutan cerita namun namanya evaluasi dari gue, gue bisa nulis apa aja tentang kejanggalan apapun dalam One Piece.

Ada banyak tindakan yang lebih efektif bagi Angkatan Laut untuk mengatasi adanya imigrasi para bajak laut ini.

Reverse Mountain Infobox

Pertama, cegah mereka dari luar. Hantam para bajak laut itu sebelum mereka naik ke arus Reverse Mountain. Mengingat tingginya tingkat imigrasi bajak laut tersebut, perlu dibikin semacam base atau pangkalan. Kalo nggak ya kewalahan.

Tapi kalo diliat-liat.. kondisi alam di pintu masuk Reverse Mountain amat kejam. Arusnya keras banget. Agak susah juga kalo bikin pangkalan Angkatan Laut di tebing kayak gitu, kudu diledakkin dulu lah ato digali lah.

Capek.

Twin Cape

Kedua, hantam mereka di Twin Cape. Kalo nggak bisa cegah mereka masuk ke dalam Grand Line dari luar, Angkatan Laut bisa cegah mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan mereka lebih jauh. Area Twin Cape bisa dibangun pangkalan dan lokasinya yang persis di bawah arus air Reverse Mountain sangatlah cocok untuk mencegah para bajak laut sialan itu.

Angakatan Laut bisa aja bikin tembok yang superkuat di bawah arus sehingga para bajak laut bisa hancur nabrak tembok itu atau dipaksa berhenti dan langsung diserang oleh Angkatan Laut. Cara ini terinspirasi setelah melihat bahwa Laboon, si paus raksasa, juga bertindak sebagai ‘tembok’ di Twin Cape ini.

Masalah terbesar Angkatan Laut untuk membangun pangkalan itu adalah Laboon yang pastinya nggak mau. Ya mengingat para admiral, gue nggak khawatir sama sekali.

Grand Line

Ketiga, serang mereka di pulau paling pertama dalam Grand Line. Seandainya cara kedua nggak bisa atau bajak laut entah gimana berhasil masuk Grand Line dengan selamat (mungkin dengan mengarungi Calm Belta ato pake kekuatan apa tau dah), Angkatan Laut bisa melakukan cara ketiga dan terakhir yakni cegah para bajak laut di pulau pertama.

Setelah masuk ke Grand Line, para bajak laut bisa memilih satu dari ketujuh jalur yang ada untuk akhirnya sampai ke Pulau Duyung (Fishman Island), pulau terakhir di Paradise atau bagian setengah pertama Grand Line. Jalur-jalur ini memiliki pulau pertama di mana bajak laut datang dan berhenti untuk menunggu Log Pose mereka untuk beradaptasi. Angkatan Laut bisa aja bikin pangkalan di setiap pulau ini dan menghantam para bajak laut yang datang.

Mengapa Angkatan Laut tidak menggunakan cara-cara ini yang terbukti efektif dalam mencegah para bajak laut untuk lebih jauh bikin huru-hara di dalam Grand Line?

Mungkin saja, Angkatan Laut nggak mau bikin pangkalan atau menaruh pasukan di sebuah tempat yang amat jauh dari pusat Angkatan Laut, Marineford. Mungkin saja, Angkatan Laut akan kewalahan menghadang banyaknya bajak laut yang datang. Belum lagi, bajak laut tidak hanya datang dari lautan Blue namun juga dari dalam Grand Line itu sendiri.

Alasan-alasan tersebut tidak bisa diterima karena demi keselamatan masyarakat di dalam Grand Line, apapun harus dilakukan. Dari ketiga cara di atas, cara ketiga menurut gue yang paling efektif karena bajak laut dari berbagai jalur masuk bisa dihadang serta frekuensi gelombang bajak laut yang dilawan bisa diminimalisir karena dibagi tujuh jalur sehingga tingkat kerusakan atau kematian personil bisa diturunkan.

Tempatkan satu Vice-Admiral atau personil Angkatan Laut dengan kekuatan hebat di masing-masing pulau pertama apa susahnya sih?

Masalah selanjutnya: Bagaimana dengan bajak laut yang ingin berimigrasi ke New World?

Ketika masalah imigrasi bajak laut dari lautan Blue ke Grand Line sudah bisa diatasi, kita bisa fokus ke bajak laut yang datangnya dari daerah di luar lautan Blue, entah dari Pulau Langit (Sky Island) atau wilayah lain yang berada di dalam Grand Line. Masalah ini juga bisa dihadapkan pada para bajak laut yang bisa masuk Grand Line tanpa harus melalui Calm Belt atau Reverse Mountain yang sampai sekarang belum terlihat (mungkin emang nggak ada caranya) atau para bajak laut yang entah gimana caranya bisa masuk ke dalam Grand Line melalui penjagaan Angkatan Laut yang menggunakan cara-cara di atas.

Bajak-bajak laut di atas memang tidak bisa dicegah di Reverse Mountain atau di pulau-pulau pertama seperti cara di atas namun jika kita mengansumsikan bahwa semua bajak laut ingin pergi ke New World untuk melanjutkan penjelajahannya maka ada berbagai cara yang bisa diambil Angkatan Laut untuk mencegah mereka.

Sabaody Archipelago Infobox

Cara yang menurut gue paling efektif adalah mencegah mereka di Kepulauan Sabaody (Sabaody Archipelago). Telah kita ketahui bersama bahwa sebelum para bajak laut bisa pergi menuju New World, mereka harus terlebih dahulu pergi menuju Kepulauan Sabaody. Mengapa harus? Bajak laut bisa mempersiapkan berbagai bekal atau suplai untuk menghadapi New World dan yang paling penting, untuk menyelimuti kapal mereka dengan gelembung agar bisa masuk ke bawah air.

Kenapa harus diselimuti gelembung? Karena untuk masuk ke dalam New World, entah mereka harus pergi ke jalur resmi yang dikelola Pemerintahan Dunia di Red Line atau masuk melalui Pulau Duyung di bawah air. Karena bajak laut nggak akan milih yang pertama maka mereka, hukumnya wajib, kudu lewat di bawah air.

Ini nih udah kondisi yang amat menguntungkan bagi Angkatan Laut karena para bajak laut, hukumnya amat wajib nggak bisa dilawan atau dibantah, kudu mesti harus wajib dateng ke Kepulauan Sabaody.

Sama seperti di Reverse Mountain, taroh banyak personil Angkatan Laut yang kuat-kuat, beberapa Vice-Admiral dan kalo perlu, Admiralnya aja sekalian (karena bajak laut yang udah nyampe sini kebanyakan besar pasti bajak laut nggak sembarangan) udah cukup.

Ironisnya dalam One Piece, terlihat bahwa Angkatan Laut tidak akan berbuat sesuatu yang besar untuk menangkap para bajak laut yang ada di Kepulauan Sabaody walaupun mereka dah tau kalo para bajak lautnya bukan orang main-main. Contohnya, The Worst Generation. Angkatan Laut baru beraksi setelah Monkey D. Luffy, secara mengejutkan, nampol salah satu Celestial Dragons.

Kalo perlu, bubarin aja usaha-usaha yang melayani jasa penyelimutan gelembung. Pemerintahan Dunia bikin sendiri jasa penyelimutan gelembung resmi di mana bajak laut nggak bisa gunain. Ya nggak?

Betapa b*gonya. Mengobati seperti lebih digunakan daripada mencegah.

Fun Fact: Pusat pangkalan Angkatan Laut yang sebelumnya berada di Red Line, sangat dekat dengan Kepulauan Sabaody, dipindahkan ke pangkalan G-1 di New World karena Kepulauan Sabaody menjadi wilayah yang makin ‘tanpa hukum’. 

Ini lagi.

Fishman Island Infobox

Cara kedua yang nggak gue rekomendasiin sama sekali adalah membuat perjanjian dengan Pulau Duyung agar tidak memperbolehkan bajak laut masuk ke wilayah mereka atau mungkin menaruh personil Angkatan Laut di sana. Namun karena hubungan antara manusia dengan duyung yang lagi ribet serta pulau tersebut dilindungi oleh salah satu Yonko, Big Mom… ya susah.

Cara ketiga adalah cara yang sama dengan apa yang dilakukan oleh kelompok G-5, yaitu membuat serangan kejutan saat para bajak laut telah muncul di permukaan laut setelah mereka pergi dari Pulau Duyung. Ini cara beneran efektif. Bisa dilihat di One Piece, ketika unit pimpinan Vice-Admiral Smoker ini langsung membombardir kapal bajak laut yang tiba-tiba muncul di permukaan.

Good job untuk Smoker.

Jika Angkatan Laut melakukan tindakan pencegahan di dua tempat itu, gue yakin, jumlah bajak laut yang beraksi di Grand Line akan semakin berkurang. 

Satu yang mungkin bisa dilakukan Angkatan Laut namun agak susah untuk benar-benar dieksekusi adalah membuat hukum untuk melarang keras bagi siapapun untuk memberikan/menjual Log Pose atau Eternal Pose kepada bajak laut. 

Log Pose dan Eternal Pose merupakan dua benda terpenting bagi para bajak laut untuk bernavigasi di lautan Grand Line. Jika bajak laut tidak bisa memiliki kedua benda itu maka akan menjadi sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk mengarungi lautan Grand Line dengan selamat. Bajak Laut Topi Jerami bahkan mengetahui eksistensi Log Pose saat baru saja sampai di Grand Line. Selama ini, mereka selalu dikasih oleh teman, seperti Nefertari Vivi, atau nemu atau nyipet.

Yaa tapi pelaksanaan dan penegakkan hukum ini memang agak susah karena ngasih atau ngejualnya bisa diem-diem atau memang para bajak laut ini mendapatkan kedua benda itu dengan cara bajak laut, sejak benda-benda itu memang relatif mudah ditemukan.

Okay, sejauh ini, masalah imigrasi bajak laut merupakan rapor merah sekaligus PR besar bagi Angkatan Laut untuk ke depannya. Tenang, masih ada kok masalah-masalah lain yang akan gue bahas di artikel selanjutnya.

Evaluasi AL #2 | Respon Masalah –>

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s