Syair “Ulangan Fisika”

Ulangan Fisika

Oleh Stanislaus Demokrasi Sandyawan

Apakah hamba harus melakukan ini?
Butir demi butir soal kulewati
Tak satupun yang kumengerti
Hanya hampa yang ada di pikiran ini

Hamba bukan mesin berjalan
Bukan pemuda yang mencari jawaban
Hamba hanyalah mahluk pencari “Tuhan”
Mencari kepastian di waktu depan

Aku rindu satu kali empat
Bukan lima sepertiga kuadrat
Atau massa kalsium karbonat
Bahkan hukum alam sejagat

Angka rumit bagai mencari arti kehidupan
Menghitung koma aku tidak tahan
Kertas hanya sebatas hiasan
Kehadiran-Mu Tuhan kuperlukan

Wahai Fisika yang hamba benci
Mengapa engkau datang menghampiri?
Dentuman jam bagai lagu mati
Mengangkat tangan hingga ajal menanti

Makna dan Arti

Bait pertama menyatakan betapa tokoh ‘hamba’ tidak ingin mengerjakan soal Fisika karena tingkat kesulitan yang tidak dapat dihadapi olehnya.

Bait kedua:

“Hamba bukan mesin berjalan” menyatakan bahwa tokoh ‘hamba’ bukanlah seorang yang tahu akan segala-galanya dan mengerti akan berbagai persoalan. Dia juga mempunyai kelemahan.

“Bukan pemuda yang mencari jawaban” mengungkapkan bahwa tokoh ‘hamba’ mempunyai tujuan sederhana dalam hidup, tidak harus berbelit-belit sampai harus menjawab soal ulangan Fisika yang begitu sulit.

“Hamba hanyalah mahluk pencari ‘Tuhan’, mencari kepastian di waktu depan” mempunyai kerterkaitan dengan baris sebelumnya bahwa tokoh ‘hamba’ mempunyai tujuan sederhana yakni masa depan yang terjamin. Masa depan tersebut bagi tokoh ‘hamba’ tidak memerlukan dirinya untuk mengerjakan soal Fisika sebab dia memiliki jalan lain untuk mencapai keberhasilan di masa depan.

Bait ketiga mengungkapkan kerinduan tokoh ‘hamba’ terhadap soal Fisika yang dulu pernah ia kerjakan dulu di mana materinya masih dapat dipahami oleh tokoh ‘hamba’. Baris pertama menyatakan betapa mudahnya soal tempo dulu sedangkan baris kedua sampai keempat mengungkapkan fakta soal Fisika yang sekarang tokoh ‘hamba’ kerjakan.

Bait keempat:

“Angka rumit bagai mencari arti kehidupan, menghitung koma aku tidak tahan” menyatakan betapa sulitnya soal Fisika yang tokoh ‘hamba’ kerjakan.

“Kertas hanya sebatas hiasan” mempunyai arti bahwa kertas jawaban serta kertas coret-coretan yang tokoh ‘hamba’ gunakan dalam ulangan Fisika tidak ditulis apapun saking tidak mengertinya tokoh ‘hamba’ sehingga hanya bisa disebut sebagai ‘hiasan’ yang fungsinya hanya bisa dilihat saja.

“Kehadiran-Mu Tuhan kuperlukan” mengungkapkan harapan tokoh ‘hamba’ akan datangnya keajaiban dan mukjizat dari Tuhan.

Bait kelima:

“Wahai Fisika yang hamba benci, mengapa engkau datang menghampiri?” mengungkapkan keputusasaan tokoh ‘hamba’ dalam melaksanakan ulangan Fisika yang ia amat benci.

“Dentuman jam bagai lagu mati, mengangkat tangan hingga ajal menanti” juga mengungkapkan keputusasaan tokoh ‘hamba’, hanya bisa mendengarkan suara jam dinding yang terus berbunyi tanpa ia bisa melakukan apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s