Satu-Satunya

“Bukankah kehadiran seseorang dapat membuatmu lebih kuat? Apalah arti eksistensi jika tidak pernah diperhatikan. Apalah arti seorang raja singa yang sendirian berada di sebuah kandang. Mahluk hidup membutuhkan mahluk hidup lain, itulah yang telah ditentukan oleh Tuhan sejak alam semesta ini dijadikan oleh-Nya” Sayu menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali dengan teratur. Ia melihat paragraf yang baru saja dibuatnya di buku khususnya. Ia tersenyum, tampak puas terlihat di wajahnya. Buku kecil itupun ditutupnya dan ditaruh di pinggir meja untuk membuat area mejanya lebih luas agar dia dapat tidur sejenak dengan meletakkan kepalanya di atas meja.

Belum sempat ia berhasil tertidur, pundaknya ditepuk oleh sebuah tangan lembut. “Hey Sayu, haruskah kau tidur di waktu seperti ini? Atau lebih tepatnya, bisakah kau tidur dengan suasana ramai seperti ini?” kata seorang perempuan manis yang berdiri di belakang Sayu. Sayu melihat ke belakang dengan perlahan, masih ogah-ogahan untuk mengangkat kepalanya yang telah terasa berat.

“Kau tahu, Farah? Tidur menurutku adalah kegiatan yang paling, paling menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kau seharusnya sudah tahu itu” kata Sayu yang masih ogah-ogahan dengan nada sedikit mengintimidasi. Farah hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban atas apa yang sahabatnya telah katakan. “Ya iya, aku tahu. Kita sudah sahabatan selama 1 tahun, mana mungkin aku akan lupa?” katanya sambil tersenyum kecil. Sayu puas akan jawaban tersebut. Ia mempersilahkan sahabatnya untuk duduk di sampingnya dengan menepuk-nepukkan bangku panjang tempat dia duduk.

“Sudahkan kau memilih ekskul? Sekolah ini memiliki banyak sekali ekskul. Aku saja sampai bingung mau milih yang mana” kata Farah membuka pembicaraan.

Sayu berpikir sejenak. “Mungkin aku akan mengikuti ekskul Klub Bahasa Indonesia lagi, entahlah. Aku ingin memilih eksul berbeda namun aku tidak yakin memiliki bakat di bidang lain selain bahasa” jawab Sayu dengan nada putus asa.

“Hm, kau ingin menulis lagi, ya? Boleh juga, aku dukung kok! Oh iya, tadi ada seseorang menawariku untuk ikut dalam ekskul Modern Dance. Bagaimana menurutmu?” tanya Farah.

“Tentu saja, kamu sudah pernah menari di SMP sebelumnya, kan? Ikuti saja, aku yakin kamu bisa berprestasi!” jawab Sayu dengan penuh semangat. Jujur, Sayu merasa bangga atas Farah. Farah memiliki segudang bakat di dalam dirinya yang membuat Sayu kagum. Sayu sendiri adalah murid yang tidak menonjol dalam bidang akademik, seni maupun olahraga namun ia adalah seorang penulis cerpen yang hebat. Ia bahkan pernah menulis beberapa cerpen yang diterbitkan di majalah sekolah, Harmonia.

“Terima kasih atas dukunganmu, Sayu! Telah kutentukan, aku akan mengikuti ekskul Modern Dance. Aku sekarang akan pergi untuk mendaftar. Semoga mereka belum menutup pendaftarannya. Sampai nanti!” kata Farah sambil beranjak dari tempat duduknya lalu melambaikan tangan kanannya ke arah Sayu seraya pergi berlari kecil. Sayu tersenyum melihat sahabatnya senang seperti itu. Mau bagaimanapun, dialah satu-satunya.

Keesokan harinya, Sayu kembali duduk di tempat yang sama. Ia tetap membawa buku khususnya. “Hal yang baru tidaklah selalu lebih baik dari yang lama. Jika tidak bisa melepaskan yang lama, bagaimana bisa melanjutkan hidup dengan yang baru? Maka seluruh perjuangan yang telah dilakukan akan menjadi sia-sia hanya karena yang baru tidak bisa menggantikan posisi yang lama” Sayu tersenyum kecil melihat coretan pensil yang baru ia buat di buku khususnya.

Ia membalik-balikkan halaman demi halaman buku khususnya tersebut. Buku khusus itu memang juga berfungsi sebagai buku harian. Sejak masuk ke SMA ini, baginya adalah ide yang bagus untuk memiliki sebuah buku harian untuk mencatat setiap kejadian yang ia alami setiap hari di sekolah barunya ini. Namun halaman demi halaman pertama buku hariannya diisi dengan kata-kata sedih. Sayu memang bukanlah anak yang mencolok sehingga kesendirian menjadi santapan sehari-harinya sejak SMP. Pernah ia memutuskan untuk membuang buku hariannya karena hidupnya memang terasa datar, tidak ada yang menarik untuk ditulis.

Sayu merasa sedih ketika ia mengingat saat-saat dimana ia menjadi seorang yang selalu sendiri ketika jam istirahat. Waktunya ia habiskan hanya duduk di meja hijau, di bawah pohon-pohon rindang. Hal itu terus berlanjut sampai Farah menjadi tokoh baru dalam buku hariannya. Sejak mereka bertegur sapa ketika mereka berada di kantin, mereka telah menjadi sahabat baik selama 1 tahun ini. Sekarang mereka duduk di kelas 11 dan Sayu tidak ingin persahabatan mereka berakhir begitu saja.

Lamunannya buyar ketika Farah datang. Sayu mengangkat kepalanya. Saat ini berbeda, Farah datang dengan seorang perempuan lain. “Sayu! Kenalkan ini teman yang mengajakku untuk ikut Modern Dance!” kata Farah amat bersemangat. Sayu dan temannya Farah saling bertatapan sampai akhirnya memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Jadi ini sahabat yang kamu ceritakan itu?” tanya perempuan tersebut yang bernama Alisa kepada Farah. Farah mengiyakan dan menceritakan bagaimana dirinya dan Sayu dapat menjadi sahabat. Setelah selesai, Farah berkata kepada Sayu, “Yu, maaf ya, aku harus datang ke pertemuan singkat ekskul Modern Dance sekarang. Kamu tidak apa-apa, kan?” Sebagai seorang sahabat yang baik, Sayu tentu mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Namun agak janggal ia menghabiskan jam istirahat sendirian sejak bersahabat dengan Farah karena ia selalu ditemani olehnya.

Farah dan Alisa pergi meninggalkan Sayu sendirian. Sayu hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia paham betul bahwa sahabatnya ini merasa sangat senang dengan ekskul barunya. Jika ia senang, maka dirinyapun akan ikut senang. Mau bagaimanapun juga, ialah satu-satunya.

Telah seminggu Sayu menghabiskan waktu istirahatnya sendirian. Sejak hari dimana ia berkenalan dengan Alisa, Farah tidak pernah kembali untuk menemani Sayu di meja hijau. Pernah suatu hari, Sayu berjalan menyusuri sekolah untuk mencari Farah. Ia melihat Farah sedang bersama teman-teman barunya di kantin. Karena ia merasa malu untuk menyapanya, ia memutuskan untuk kembali.

“Adaptasi adalah bagian dari alam. Ketika terjadi sebuah perubahan dalam kebiasaan, tradisi maupun siklus hidup pada mahluk hidup maka jalan terbaik adalah untuk beradaptasi dengan perubahan baru. Perubahan tidaklah selalu yang negatif sehingga menerima perubahan adalah satu pilihan yang tepat untuk mengembangkan diri sendiri” Entah mengapa, Sayu menulis kata-kata tersebut dengan perasaan sedih. Ia hanya memikirkan tentang Farah yang akan kembali suatu saat nanti karena bagaimanapun, ialah satu-satunya.

Sayu sudah tidak lagi menghitung berapa hari telah lewat tanpa Farah. Sebenarnya, Sayu selalu melihat Farah setiap saat namun setiap saat itulah, Farah selalu bersama dengan teman-teman barunya. Sayu tetap tidak memiliki keberanian untuk menyapa duluan. Entah apa yang menahannya untuk bertemu dengan sahabatnya.

Sayu bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menulis di buku khususnya lagi. Ia hanya menghabiskan jam istirahat pada hari itu untuk duduk di meja hijau. Ia hanya meletakkan kepalanya di atas meja sambil mengeluarkan air mata.

“Pertemuan dan perpisahan adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial manusia. Manusia hanya bisa berusaha keras untuk mengisi waktu antara pertemuan dan perpisahan itu dengan sebaik mungkin. Apapun yang dipertemukan akan selalu dipisahkan. ‘Mengapa dipertemukan jika nanti akan dipisahkan?’ adalah pertanyaan bodoh. Jika kita dipertemukan dengan seseorang yang nanti akan menjadi seorang teman atau bahkan sahabat maka kita seharusnya beruntung pernah menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya dipisahkan oleh alasan-alasan tertentu yang kadang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan siapapun. Ikatan apapun tidak akan pernah berhasil bahkan janji sekalipun. Hal yang paling menyedihkan dari segala-galanya adalah fakta bahwa hidup akan dipenuhi oleh kesendirian. Tanpa orangtua, tanpa keluarga bahkan tanpa teman sekalipun. Satu-satunya teman telah hilang pada satu-satunya hari dimana seharusnya aku berbahagia. Selamat ulang tahun, diriku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s