Dunia Debat Dhanis | Bagian 3: Inilah Kekuatan ‘Jubir Tangsel’!

(Sebelumnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 2: Tantangan Pertama!!)

“Menurut kalian… apakah mereka hebat?” tanya Namira tiba-tiba. Ghozi dan Dhanis yang daritadi mencari informasi dari Internet langsung menghentikan pekerjaan mereka.

“Maksudmu?” tanya Dhanis, memalingkan pandangan kepada Namira.

“Ya lu tau maksud gua. Kalau kita mau ngelawan orang, baik itu aduan nilai, debat atau berantem sekalipun, lebih bagus kalau kita dah tau seberapa besar kemampuan mereka sehingga kita bisa persiapan lebih matang. Ya nggak?” jelas Namira.

Ghozi dan Dhanis bertukar pandangan. “Omongannya Namira ada benernya juga” Begitulah yang ada dipikiran mereka berdua setelah mendengarkan penjelasan Namira.

“Ya kita kan dah tau mereka beberapa kali menang di banyak perlombaan debat, apalagi sampe tingkat provinsi. Menurut gue itu dah hebat banget” kata Ghozi menyampaikan pendapatnya.

“Tapi ada satu yang dari kemaren ngeganggu pikiran gua.. ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’.. apa coba itu? Kok gue nggak pernah denger” komentar Dhanis.

“Ya kan kita dulu masih SMP, mana kita tau. Mungkin itu semacam julukan buat tim-tim debat sekolah di Tangsel yang hebat-hebat. Ngeliat prestasinya tim debat sekolah kita, gue ngerti kenapa kita bisa jadi satu dari empat ‘Jubir Tangsel’ ” kata Namira sambil melanjutkan mengetik di laptopnya.

“Siapa ya tiga lagi?” tanya Ghozi seraya menyendok sesuap nasi dan daging ayam ke mulutnya.

Mereka bertiga langsung terdiam.

“Hey, gimana persiapan kalian?” tanya Diandra yang tiba-tiba udah berdiri di samping Namira.

“Oh, hai kak. Kita tinggal nyari sedikit lagi. Hampir semua argumen dah siap. Ngomong-ngomong, kok kakak di sini?” kata Namira.

“Emang nggak boleh kakak di sini? Kakak kan sekarang bisa dibilang ada di tim kalian juga. Untuk ngalahin tim debat sekolah ini, nggak mudah lhoo… Hehe..” jawab Diandra. Ia lalu duduk bersila di lantai bersama dengan adik-adik kelasnya.

“Kak.. boleh tanya nggak?” tanya Namira, agak ragu.

“Hm? Boleh kok”

“Seberapa kuat sih.. mereka?”

Diandra terlihat sedang berpikir. Ia pun menjawab, “Kalau bukan karena tim debat ‘Jubir Tangsel’ lainnya, kita udah pasti selalu jadi juara 1 di setiap lomba di Tangerang Selatan”

Terkejut, Dhanis refleks bertanya, “SIAPA TIGA LAGI KAK?!” Terlalu bersemangat, ia sampai-sampai berteriak.

Setelah sadar dari efek teriakan Dhanis, Diandra langsung melakukan gestur berbeda. Dia sedang serius.

“Julukan ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’ pertama kali ada satu tahun yang lalu saat Piala Agustusan Walikota. Sekolah kita mengikuti lomba debat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Tangsel untuk memeriahkan perayaan Agustusan. Selain sekolah kita, ada banyak sekolah lain yang ikut. Kita mengalahkan berbagai sekolah lain sampai akhirnya kita berada di Semi Final…”

Dhanis, Ghozi dan Namira menghentikan pekerjaan mereka, mendengar dengan serius apa saja yang dikatakan oleh kakak kelas mereka.

“Dari banyak sekolah yang mengikuti lomba, tersisa 4 yang akan memperebutkan Piala Debat Agustusan Tangsel: SMAN 51 Tangerang Selatan yaitu kita, SMA Generasi Bangsa, SMAN 83 Tangerang Selatan dan SMAN 21 Tangerang Selatan”

Mendengar jawaban tersebut, Dhanis bertanya lagi, “Akhirnya, siapa yang menang, Kak?”

“Yang menang?” kata Diandra, menundukkan kepalanya.

Semuanya terdiam, menunggu jawaban dari Diandra.

“SMA Generasi Bangsa, kedua SMAN 21 Tangerang Selatan, ketiga SMAN 51 Tangerang Selatan dan terakhir… kita, peringkat keempat” jawab Diandra dengan nada sedih.

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Mereka lebih terkejut lagi dengan Diandra yang tadi ceria tiba-tiba jadi sedih.

“Hm, kalian lanjutin aja ya… gue mau liat tim gue dulu…good luck” kata Diandra tersenyum kemudian berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah Diandra sudah hilang dari pandangan, Namira bertanya-tanya, “Kenapa ya.. Kak Diandra?”

***

“Heh…heh…heh….. maaf, kak!…. saya telat.. heh…heh”

“Yaudah nggak pa-pa, lu langsung duduk sana” kata Pram dengan tersenyum.

Dhanis lalu berjalan ke tempat duduk di belakang Ghozi dan Namira. Di depan kelas, tim Diandra dan tim Pram telah mulai beradu debat dengan dimoderatori oleh Timoth.

“Lu ngapain sih telat? Astaga, gue dah takut lu nggak bakal muncul” kata Namira dengan nada pelan.

“Sorry sorry, tadi gue harus BAB dulu di toilet” jawab Dhanis sambil meletakkan tasnya ke bawah meja serta mempersiapkan kertas-kertas debat.

“Yaudahlah Ra, yang penting dia dateng. Kita lihat aja debatnya” kata Ghozi mencoba menenangkan Namira.

“Ngomong-ngomong, gimana debatnya?” tanya Dhanis.

“Masing-masing pembicara pertama udah selesai berargumentasi. Ranira dan Diandra sama-sama hebat lho. Tadi Pram sebagai pembicara kedua juga udah selesai. Sekarang giliran Sefa” jelas Namira dengan mata tetap fokus ke debat yang sedang berlangsung.

“… maka dari itu, apa yang telah diucapkan oleh pembicara kedua dari tim pro adalah hal yang mustahil. Anak-anak remaja apalagi anak-anak SD belum dapat mencerna kurikulum yang baru dengan baik sehingga menyebabkan mereka merasa terbebani oleh banyaknya materi dan tugas yang diberikan oleh guru-”

“Interupsi!”

“-silahkan”

Semua anggota baru terkejut.

“Interupsi apa-apaan itu?! Sefa belum sempat menyelesaikan argumennya namun telah diinterupsi oleh Kak Pram? Ini pelanggaran!” pikir Dhanis seraya mengangkat tangannya untuk berbicara namun langsung ditahan oleh Ghozi.

“Zi, apa-apaan?! Kak Timoth sebagai moderator salah-”

“Sst, diam dulu, Dhan. Gue juga berpikir sama seperti lu tapi inget nggak kata Kak Timoth kalau Kak Pram punya kemampuan khusus?” kata Ghozi mencoba mengingatkan Dhanis.

Dhanis terkejut. “Kemampuan khusus? Apa ini yang dimaksud Kak Timoth minggu lalu?” Pikiran Dhanis langsung kacau balau memikirkan hal tersebut.

“Anda baru saja mengatakan kata ‘terbebani’ namun bukankah ini tujuan dari kurikulum 2013? Mengajarkan kepada murid-murid untuk lebih membagi waktu dengan baik?” tanya Pram dalam interupsinya.

Mendengar interupsi Pram, Sefa hanya terdiam. Telihat dari wajahnya bahwa ia sangatlah tegang. Entah kenapa, ia langsung mematung setelah diinterupsi oleh Pram.

“Mohon untuk pembicara kedua dari tim kontra untuk berbicara kembali” kata Timoth setelah melihat reaksi dari Sefa.

Sefa tersadar dan langsung mencoba mengatakan sesuatu namun selalu tersendat seperti ia tidak bisa mengatakan hal tersebut. Ia melihat teks yang ia bawa namun tetap saja ia tidak bisa mengatakan apapun.

“Sepertinya pembicara kedua tidak dapat melanjutkan argumennya maka debat ini akan dilanjutkan dengan pembicara ketiga dari tim pro” lanjut Timoth.

Sefa kemudian berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Ia duduk namun tetap diam mematung.

“Apa… apaan?! Kenapa kau, Sefa?” pikir Dhanis. Ia kini merasa marah namun juga bingung.

“Apa yang baru saja Kak Pram lakukan?” tanya seluruh anggota baru dalam pikiran mereka.

“..dan karena itulah, saudara-saudari, kurikulum 2013 adalah kurikulum yang tepat untuk menjadi jawaban atas berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Dengan anda mendukung kurikulum 2013 maka anda telah mendukung perubahan generasi bangsa Indonesia yang lebih baik! Terima kasih” Daffa menyelesaikan kata penutupnya sebagai kesimpulan dengan sangat baik, seperti biasanya. Kata penutupnya bahkan seakan-akan sanggup membuat semua orang di kelas untuk setuju atas pernyataannya.

“Jelas sekali, tim debat sekolah ini bukanlah lelucon semata. Mereka benar-benar adalah tim yang sangat hebat!” ucap Dhanis, semakin bersemangat untuk menghadapi mereka.

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 4: Interupsi Kematian)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s