Dunia Debat Dhanis | Bagian 2: Tantangan Pertama!!”

(Sebelumnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 1: Debat?)

“Yang lain, ayo, jangan takut untuk membuat argumenmu sendiri karena itulah inti dari debat, berargumentasi. Daffa dan Dhanis tadi jelas memiliki argumen yang saling bertentangan namun keduanya berhasil mempertahankan argumen masing-masing. Itulah debat!”

Entah kenapa, semua anggota baru hanya menyimak kata-kata tersebut dengan terkagum-kagum. Mereka semua setuju bahwa kakak laki-laki yang baru saja datang itu memiliki kharisma yang luar biasa, mampu membawa suasana ruangan berubah drastis, dari yang tadi tegang menjadi bersemangat.

“Oke, oke, kita mulai dari perkenalan dulu. Kami akan memperkenalkan diri kami lalu kalian. Oke?” tanya kakak laki-laki itu lagi.

Semua anggota baru mengangguk.

Timoth memberikan gestur agar semua kakak kelas berbaris di depan. Kemudian Timoth membuka sesi perkenalan ekskul debat, “Selamat siang para anggota ekskul debat SMAN 51 Tangerang Selatan tahun pelajaran 2015-2016. Perkenalkan nama saya, Timothy Sagara, panggil saja Timoth. Saya akan memperkenalkan para anggota ekskul debat yang telah masuk ekskul ini satu tahun sebelum kalian masuk…”

“Moderator debat, hm? Jelas sekali kalau dilihat dari tata bahasa, intonasi serta gesturnya, Kak Timoth adalah seorang moderator debat yang cukup handal” pikir Dhanis.

“Kakak laki-laki yang tadi baru saja datang adalah Pramania Nugito. Dia adalah ketua ekskul debat di sekolah ini. Selain itu, ia menjabat sebagai Komisi A MPK. Ia duduk di kelas XI MIPA 7. Ia memiliki kharisma serta kemampuan memimpin yang hebat. Ia mampu meningkatkan moral dan semangat timnya saat dalam situasi sulit dalam suatu kompetisi debat. Tidak hanya itu, ia memiliki kemampuan debat yang luar biasa”

Ada pekenanan di kalimat terakhir, “…memiliki kemampuan debat yang luar biasa” Dengan penekanan itu, semua anggota baru langsung merasakan aura berbeda yang keluar dari tubuh Pram.

“Kakak perempuan yang kalian temui saat kegaiatan promosi ekskul tadi pagi adalah Claudia Diandra. Ia memiliki banyak teman dari sekolah-sekolah lain, menjadikannya anggota yang bertugas mengumpulkan informasi dari berbagai sekolah tentang lawan-lawan  debat yang akan kita hadapi. Karena jaringan pertemanannya yang begitu luaslah, ekskul-ekskul lain berebutan untuk mendapatkan informasi darinya, terutama ekskul-ekskul olahraga. Ia duduk di kelas XI MIPA 6”

“Seorang pengumpul informasi? Keren juga” pikir Dhanis sambil tersenyum melihat Diandra. Betapa tidak, ia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang aduh-gemulai. Siapa yang tak suka?

“Kakak laki-laki yang barusan beradu argumen dengan Dhanis adalah Daffa Sugiyono. Ia memiliki suara yang menggelegar yang cukup membuat orang menjadi ketakutan. Jika ada orang yang hebat dalam menyampaikan kesimpulan debat, dialah orangnya. Dengan kemampuan serta suaranya yang luar biasa, ia menyampaikan argumen terakhir dengan sangat baik. Ia sering menyelamatkan kami dalam perlombaan sebagai pembicara terakhir. Ia duduk di kelas XI IPS 2”

“Pantesan aja gue gugup waktu adu argumen sama dia. Ternyata dia emang jago kalau udah urusan suara” pikir Dhanis sambil mengingat kembali saat dia beradu argumen dengan Daffa… pengalaman buruk.

“Kakak perempuan yang terakhir ini adalah Ranira Putri, dijuluki di sekolah ini sebagai ‘Perpustakaan Berjalan’. Ia memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Kecakapannya dalam bidang apapun seperti ekonomi, politik, kenegaraan, sosial dan lain-lain membuatnya lawan yang tangguh dalam lomba debat. Apapun topiknya, ia siap menghadapinya. Ia adalah orang yang amat penting dalam mempersiapkan argumen-argumen kami sebelum perlombaan dimulai. Ia duduk di kelas XI MIPA 5”

“Astaga, mereka adalah tim debat yang hebat. Mereka benar-benar bukanlah lelucon. Setiap anggota memiliki spesialisasi tersendiri. Moderator debat, pemimpin berkharisma dengan kemampuan istimewa, pengumpul informasi dengan intel di setiap sekolah, penyampai kesimpulan dengan suara dan kemampuan luar biasa serta ‘Perpustakaan Berjalan’. Gue jadi takut kalau gue nggak bisa berbuat seperti mereka” pikir Dhanis setelah perkenalan mereka selesai.

“Baiklah, sekarang giliran kalian, mulai dari laki-laki yang duduk mojok di sebelah sana” kata Timoth sambil menunjuk ke laki-laki tersebut.

“Saya Ghozia Sinaga, panggil aja Ghozi. Saya duduk di kelas X MIPA 3”

“Saya Namira Fahrazi, biasa dipanggil Mira tapi Fahra juga boleh. Saya ada di kelas X MIPA 6”

“Saya Nugroho Yosefa, Sefa, X MIPA 1”

“Haiii, aku Alicia Salsabila, panggil aja Cia. Aku dari kelas X IPS 1, salam kenal!”

“Saya Dhanista Wirasena, dipanggil Dhanis. Saya duduk di kelas X MIPA 2”

“Baiklah, terima kasih atas kerjasama dari semuanya. Sesi perkenalan telah selesai maka sebelum kita mengakhiri pertemuan pada hari ini, saya akan memberitahukan kalian tentang tugas yang harus kalian persiapkan di rumah” kata Pram, tersenyum aneh.

“Yaelah baru masuk aja udah ada tugas” keluh Dhanis sambil mempersiapkan buku dan pulpen untuk menulis.

“Kalian akan saya bagi menjadi dua kelompok. Karena jumlah kalian ganjil maka ada satu dari kami yang akan menjadi anggota kelompok yang kurang. Kelompok pertama, Dhanis, Namira dan Ghozi. Kelompok kedua adalah Sefa, Cia bersama dengan Kak Diandra. Minggu depan, di hari dan tempat yang sama, kelompok kalian akan berdebat dengan kelompok kami yang terdiri atas gue sendiri, Daffa dan Ranira. Timoth akan menjadi moderatornya. Mengerti?”

Setiap anggota baru terkejut. Mereka memiliki satu pertanyaan, “Baru masuk dan kita harus melawan mereka yang udah juara di mana-mana? Gila”

Dhanis, sebaliknya, malah terkesan bersemangat. Melawan tim yang kuat memang menjadi kesenangan tersendiri baginya. Dengan melawan mereka, Dhanis dapat mengetahui kemampuan-kemampuan sesama anggota barunya serta kakak-kakak kelasnya dengan lebih jauh.

“Tema atau mosi debatnya mudah kok, cuma ‘Penggantian Kurikulum 2013’. Saya yakin kalian semu akan memilih ‘Pro’ maka kami akan menjadi ‘Kontra’. Setuju?”

Semua anggota baru mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, pertemuan singkat kita pada hari ini telah selesai. Terima kasih atas kehadiran kalian dan persiapkanlah argumen kalian dengan sebaik mungkin. Cari informasi sebanyak-banyaknya karena kami akan menilai kemampuan berdebat kalian minggu depan. Dan satu lagi…”

Semua pandangan pun menjadi serius tertuju ke arah Pram yang entah kenapa, menghentikan kata-katanya untuk sesaat sebagai efek dramatis.

“Selamat berjuang melawan satu dari empat tim debat sekolah dengan julukan, ‘Juru Bicara Tangerang Selatan’!”

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 3: Inilah Kekuatan ‘Jubir Tangsel’!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s