Dunia Debat Dhanis | Bagian 1: Debat?

“Ayo, dek! Ayo ikut ekskul atletik! Dijamin badan tambah mantep, cewek jadi banyak yang suka lhoo!”

“Jangan dengerin dia, dek! Ikut futsal aja! Anak futsal pasti banyak yang suka, percaya deh!”

“Halah, prestasi futsal masih kalah dibanding prestasi basket! Ayo ayo ikut basket, tambah tinggi, tambah seksi!”

Begitulah teriakan para perwakilan ekskul yang semuanya adalah murid kelas 11 dan 12. Pada kegiatan seperti MOP inilah, mereka memiliki peluang besar untuk mendapatkan calon peserta baru dalam ekskul mereka. Masing-masing perwakilan berusaha untuk memikat hati para peserta didik baru untuk mengikuti ekskul mereka.

SMAN 51 Tangerang Selatan atau yang biasa disebut dengan ‘Lintang’ memiliki lebih dari 20 ekskul, mulai dari akademik, seni sampai olahraga. Di lapangan, setiap ekskul memiliki stand masing-masing sebagai tempat pendaftaran masuk ke ekskul mereka. Para murid kelas 10 pun sangat antusias dalam mengikuti acara “Promosi Ekskul” ini.

“Halo, dek! Tertarik ikut Teater nggak? Seru kok, banyak banget yang bisa didapet” kata seorang kakak kelas perempuan kepada seorang murid baru yang terlihat berjalan sendirian.

“Hmm, nanti kupikirin deh, kak. Kuambil brosurnya aja ya” jawab laki-laki tersebut dengan kalem.

“Iyaa, nanti ikut ya dek!” kata kakak tersebut dengan semangat sambil menyodorkan sebuah brosur.

“Thanks, kak” kata laki-laki itu sambil menerima brosur yang telah disodorkan kepadanya. Walaupun laki-laki itu sebetulnya sangat tidak tertarik pada Teater namun mau bagaimana lagi, ia tidak ingin menolak kakak tersebut dengan mentah-mentah. Sakit coy.

“Hm, gue udah kayak kolektor brosur. Udah 18 brosur yang gue terima tapi tetep aja gue masih bingung sama yang gue pilih. Hadeh” kata laki-laki itu sambil menghembuskan nafas panjang. Ia melihat tumpukan brosur yang ada di tangannya kemudian memutuskan untuk berjalan sekali lagi.

“Klub Bahasa Inggris, Klub Bahasa Jepang, Jurnalistik.. banyak eksul yang cocok dengan bakat gue tapi semuanya dah gue coba pas di SMP. Di sekolah yang favoritnya udah kayak apaan tau, masa nggak ada ekskul bahasa lain?” Laki-laki itu melihat ke sekeliling, mencari apakah ada ekskul bahasa yang belum ia singgahi. Tak menemukan apa yang ia cari, ia memutuskan untuk kembali ke kelas.

“Mungkin gue ikut Klub Bahasa Jepang aja-“ Tiba-tiba pikirannya terpotong dengan suara teriakan perempuan dari belakang. Ia menoleh ke belakang. Seorang kakak perempuan datang menghampirinya dengan membawa brosur.

“Yo, gue Diandra dari ekskul Debat. Mau ikut nggak? Kalau nggak juga nggak apa-apa kok, gue nggak maksa hehe. Cuman ekskul kita kayaknya bakal dikit banget anggota barunya. Kasian nggak, dek?” kata kakak tersebut dengan nada memelas.

“Debat? Boleh juga. Gue belum pernah ikut debat sebelumnya. Siapa tau gue bisa jadi juara? Hehe” pikir laki-laki itu.

“Boleh deh, kak. Saya mau ikut” kata laki-laki itu yang membuat Diandra bersorak keras.

“YEAYYYY!! AKHIRNYA DAPET!! WOHOOO!! Oke deh. Pertama, siapa nama kamu?” tanya Diandra sambil menyiapkan sebuah kertas kecil dan pulpen.

“Dhanista Wirasena. Panggil aja Dhanis”

***

“Gimana? Dapet berapa?”

“Hmm, nggak banyak sih. Tadi gue berhasil ngerekrut satu anak lagi. Jadi kalo ditambah dia, kita ada 5 anak baru”

“LAH SEGITU DOANG?!”

“Iye, ati-ati makannya. Entar nyangkut aja rotinya, baru tau rasa lu”

“Tenang aja, udah dapet ID Line mereka kan?”

“Udeh, nanti gue kasih tau mereka tentang pertemuan kita”

“Hmm..”

“Kenapa?”

“Coba aja ekskul kita banyak yang ikut..”

“Ya mau gimana lagi. Di sekolah kita banyak banget ekskul dan KEBETULAN aja ekskul kita nggak banyak yang minat walaupun sekolah kita juga terkenal karena tim debatnya. Ya nggak, Ketua? Wkwkwkwk”

“Bisa aja lo, Diandra. Yaudahlah, panggil Timoth, Daffa sama Ranira, kita selesai hari ini. Ohya, sini dah daftar namanya, gue mau liat”

***

“Hm, ternyata ekskul debat di sini udah ada prestasi tinggi. Juara 3 tingkat provinsi.. lumayan lah. Trus ada lomba-lomba antarsekolah, banyak juga yang menang. Keren, keren..” kata Dhanis sambil membaca dengan seksama halaman “Daftar Prestasi SMAN 51 Tangerang Selatan” di majalah sekolah yang dibagikan gratis tadi pagi.

“Dikit juga ya masuk sini. Cuma empat coba. Ekskul lain aja bisa belasan, ampe dua puluhan malah. Gila-“

“Selamat siang, semuanya!” teriak seorang kakak laki-laki yang berjalan ke depan kelas.

“Siang…” jawab anggota baru dengan lesu. Maklum udah siang.

“Halah kurang semangat. Apa-apaan ini. DIANDRA! TIMOTH!” teriak kakak tersebut makin keras.

Diandra dan seorang kakak laki-laki lainnya langsung berjalan menuju ke arah laki-laki-dengan-suara-menggelegar tadi.

“GIMANA SIH! DISURUH CARI ANGGOTA BARU MALAH DAPET YANG BEGINI! YANG BENER LAH!”

“Yang begini? Apa-apaan. Songong amat. Mau kakak kelas juga, nggak harus gini juga. Sial” pikir Dhanis dengan memasang muka marah.

“BAYANGIN! MEREKA LESU COBA JAWAB SALAM GUA! GIMANA NANTI PAS DEBAT HAH-”

“Kak, jangan gitu dong ke Kak Diandra. Dia nggak salah” bela Dhanis dengan suara agak pelan.

“Kok gue nggak dibela..” pikir Timoth, terkejut dengan pembelaan Dhanis.

“Oh gitu ya? Terus salah siapa?” tanya kakak itu tegas sambil berjalan ke arah Dhanis.

“Ka-kalau soal kami yang lesu jawabnya ya….. sa-salah kami!” jawab Dhanis semakin gugup.

“YANG SALAH YA MEREKA LAH! LIAT NOH! MEREKA DIKASIH TUGAS BUAT NGEREKRUT MALAH NGGAK BENER KERJANYA!” Kakak ini makin menjadi rupanya.

“Secara teknis, mereka telah melakukan tugasnya, Kak. Merekrut anggota baru adalah tugas mereka dan… dengan hadirnya kami di sini berarti mereka telah menyelesaikan tugas mereka……….” jawab Dhanis dengan kepala menunduk. Semua pandangan mata hanya tertuju kepada Dhanis.

Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan orang lain, kakak tersebut bertepuk tangan dengan lambat. “Bagus bagus. Diandra, Timoth, kerja bagus” kata kakak itu sambil tersenyum dan berjalan ke arah depan kelas, berdiri di samping Diandra dan Timoth.

Seorang kakak laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam kelas. “Bagaimana? Apakah demo debat singkat tadi benar-benar bagus?” tanyanya.

Semua anggota baru terkejut, khususnya Dhanis. “Um, kak. Maksudnya apa ya?” tanya Dhanis sambil mengangkat tangannya.

“Oh, kamu baru saja berdebat dengan salah satu anggota tim debat sekolah ini, Daffa Sugiyono” jawabnya santai sambil menunjuk kakak laki-laki tadi. “Sorry ya, tadi emang cuma buat ngetes kalian. Panggil gue Daffa” katanya dengan nada yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.

“Kamu punya keberanian yang hebat, Dhanis. Mampu membela saya dan Timoth dengan cukup baik. Argumenmu pun logis. Kamu cocok masuk debat” puji Diandra dengan tersenyum yang berhasil membuat Dhanis tersipu.

“Yang lain, ayo, jangan takut untuk membuat argumenmu sendiri karena itulah inti dari debat, berargumentasi. Daffa dan Dhanis tadi jelas memiliki argumen yang saling bertentangan namun keduanya berhasil mempertahankan argumen masing-masing. Itulah debat!”

(Selanjutnya, Dunia Debat Dhanis – Bagian 2: Tantangan Pertama!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s