Alternative Ending

Gue adalah orang yang hobi nonton film dan menurut gue, film yang baik adalah film yang mempunyai alur yang baik pula. Apalagi memiliki akhir yang mengejutkan (plot twist) atau tak terpikirkan sebelumnya. Itu baru film mantap.

Salah dua contoh unsur intrinsik dari film adalah alur dan tokoh. Tanpa tokoh, alur film tidak akan bisa berjalan namun tanpa alur, tokoh tidak memiliki tujuan atau arahan dalam berakting. Mereka tidak dapat dipisahkan.

Tetapi ketika anda sedang menonton film, pernahkan anda bertanya, “Kalau tokohnya nggak begini, ceritanya bakal gimana ya?” Itulah yang sedang gue tanya-tanyakan beberapa hari ini.

Misalkan dalam sebuah film, ada seorang dipenjara. Ia dipenjara KEBETULAN satu sel dengan bapaknya. Karena itu, bapaknya bisa membantu dia kabur. KEBETULAN ada penjaga yang tidur di suatu malam sehingga mereka bisa melancarkan aksinya. KEBETULAN sekali anak perempuan dari kepala sipir datang mengunjungi penjara tersebut. KEBETULAN sang tokoh melewati perempuan tersebut dan memilih untuk menyandera perempuan tersebut dan blablabla ampe kelar.

Jika kita bayangkan kalau adegan itu terjadi di dunia nyata, apakah bener-bener bisa se-kebetulan itu? Ambil contoh setiap film action, biasanya tokoh utama akan ditembaki beberapa musuh sekaligus tapi nggak ada yang kena. Giliran tokoh utama yang nembak, mati semua.

Namun, kebetulan merupakan aspek tersendiri dalam sebuah film. Kalau tokoh nggak kebetulan satu sel sama bapaknya, pasti dia nggak bisa keluar. Begitulah film. Gua sering bayangin sebuah film kalau adegan-adegan kebetulan itu dibuang, nggak bakal jadi tuh film.

Tapi, hey, ini hanya film. Semuanya dibuat memang untuk menjadi hiburan semata. Semuanya pun sudah diatur. Alur ditulis oleh penulis, tokoh bergerak sesuai arahan sutradara, dll. Namun apakah hal yang sama bisa kita kaitkan dengan dunia nyata?

Kita, manusia, bagaikan tokoh dan kehidupan kita adalah alurnya. Pernah mendengar kata-kata, “Hidup hanya sebuah panggung sandiwara” ? Hidup ini bagaikan panggung dan kita berakting di atasnya.

Kembali ke pertanyaan, “Kalau tokohnya nggak begini, ceritanya bakal gimana ya?”, kita bertanya mengenai sesuatu yang kita nggak tahu karena kita nggak pernah liat. Dalam film, kita melihat sang tokoh utama ditembak oleh senapan. Kalau kita bayangkan bila sang tokoh utama tidak ditembak oleh senapan, ohh pasti sang tokoh utama bakal ngebunuh balik si penembak. Atau… begitu?

Ada banyak skenario yang berbeda jika satu adegan saja dalam film diubah. Kita mungkin nggak akan pernah liat skenario yang berbeda tersebut, kita hanya bisa melihat yang sudah jadi dan sudah tayang. Namun pertanyaan baru yang lebih dalam pun muncul.

Apakah skenario-skenario itu nyata?

Bayangkan saja begini. Sang penulis telah membuat banyak skenario dalam suatu adegan. Pertama, tokoh ditembak lalu mati. Kedua, tokoh ditembak tapi nggak mati. Ketiga, tokoh ditembak tapi meleset. Keempat, tokoh tidak ditembak karena si penembak lupa mengisi peluru. Kelima, tokoh dan penembak bahkan tidak pernah bertemu.

Dari skenario-skenario tersebut, si penulis memilih yang kedua. Tokoh ditembak tapi nggak mati. Nah pertanyaannya, apakah skenario pertama, ketiga sampai kelima itu tidak nyata? Nope, mereka nyata karena mereka telah dibuat oleh si penulis namun si penulis memilih kedua untuk dijadikan kenyataan secara fisik. Skenario lain hanyalah ide, mereka nyata namun mereka tidak ada secara fisik.

Itulah sebabnya kita tidak pernah melihat skenario lain yang dapat terjadi dalam suatu adegan karena yang dijadikan nyata hanyalah satu, yang lain hanyalah ide.

Mari kita kaitkan hal tersebut dengan dunia nyata.

Ada sebuah teori yang diberi nama Multiverse. Intinya, terdapat banyak dimensi yang mungkin dapat terjadi (termasuk yang sekarang kita masuki), bersama-sama meliputi semua yang nyata (sumber: Wikipedia).

Gampangnya begini. Tadi dalam film, ada banyak skenario namun hanya satu yang ditayangkan. Nah, begitu pula dengan dunia nyata. Bedanya kita bukan skenario namun kita sebut sebagai dimensi/universe.

Misalkan kita habis bangun tidur, kita memilih untuk mandi terlebih dahulu. Nah pertanyaan muncul, “Kalau kita nggak begini, ceritanya bakal gimana ya?”. Bagaimana kalo kita makan dulu? Atau nonton TV dulu? Atau ga ngapa-ngapain dulu? Nah “skenario-skenario” itu nyata namun kita mewujudkan yang satu yakni yang mandi terlebih dahulu.

“Skenario-skenario” yang kita sekarang sebut sebagai “dimensi” ini bisa saja terjadi namun itu tergantung kita sendiri apakah kita mau mewujudkannya. Bayangkan seperti ini. Kita berada di sebuah ruangan, ada tiga pintu. Pintu pertama ke kamar mandi, yang kedua ke ruang makan dan yang ketiga ke ruang tamu. Peraturannya begini, kalo udah masuk ke satu ruangan, nggak boleh mundur dan memilih ke ruangan lain.

Okay, gue memilih ke kamar mandi. Nah pas di kamar mandi ada tiga pintu lagi. Kamar tidur, ruang makan atau ruang tamu. Gue milih ke kamar tidur dan seterusnya ampe gue mati.

Ruangan-ruangan tersebut kita anggap sebagai dimensi. Ada tiga dimensi yang bisa gue masuki namun gue hanya memilih satu dan saat gue masuk, gue nggak bisa mundur. Nah saat gue memilih masuk ke kamar mandi (alias mandi) apakah dimensi ruang tamu dan ruang makan masih ada? Masih. Namun kita memilih untuk tidak memasuki ruang tersebut sehingga yang nyata adalah dimensi kamar mandi yang sekarang gue masuki.

Jadi ketika gue di dunia nyata sedang makan pizza. Ada dimensi lain di mana gue sedang nggak makan. Ada dimensi lain di mana gue sedang makan ayam goreng. Ada dimensi lain di mana gue malah minum air putih. Dimensi-dimensi itu nyata namun yang bener-bener nyata buat gue adalah yang gue sedang makan pizza.

Mereka nyata namun kita memilih untuk tidak berada dalam dimensi tersebut.

Gue memberi judul postingan ini, “Alternative Ending” atau dalam bahasa Indonesia, “Alternatif Akhir”. Maksud gue adalah, dalam film, kita akan bisa menonton akhir dalam film itu seperti apa. Namun di sisi lain, film tersebut bisa memiliki akhir-akhir yang lain, tergantung skenario yang ada. Sama seperti hidup kita, lu sekarang ini, di detik ini, sedang membaca postingan gue dan seterusnya gue nggak tau. Apakah ini akhir dari “film” lo? Belum. Kita nggak tau. Dan hanya lo yang bisa menentukan akhir cerita lo.

Pilih dimensi yang tepat.

Satu lagi, jika lo sekarang merasa senang atau merasa bahwa hidup lo penuh keceriaan sekarang dan lo masih menyesal atas tindakan atau peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu lo, gue punya satu kalimat buat lo.

Janganlah menyesal karena setiap tindakan yang lo lakuin, setiap kegiatan yang lo kerjakan dan setiap dimensi yang lo masukin telah membawa lo ke saat ini, detik ini, membaca postingan gue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s