Perbedaan Agama dalam Sekolah dan Keluarga

Saya adalah seorang alumni sebuah SMP Katolik di Tangerang Selatan. SMP ini cukup terkenal bukan hanya karena prestasi ataupun kualitas pengajarnya namun juga karena kedisiplinannya.

Di Indonesia, SMP Katolik dikenal dengan kedisiplinannya. Hal itu dapat dibuktikan. Banyak SMP Katolik yang dikelola oleh yayasan para biarawan-biarawati, atau kami menyebut mereka dengan suster, bruder ataupun frater. Kehidupan para biarawan-biarawati dalam komunitas mereka lah yang menjadikan mereka disiplin, tegas, sederhana dan itulah yang ingin mereka ajarkan kepada murid-murid mereka di sekolah.

Sudah banyak artikel mengenai pluralitas agama dalam lingkungan sekolah dari sisi minoritas (maaf, “minoritas” di sini tidak memiliki makna negatif) namun saya akan melihat dari sisi mayoritas.

Saya adalah seorang Katolik, dibaptis sejak lahir dan telah mengikuti pendidikan di sekolah Katolik selama 12 tahun (dari Playgroup sampai SMP) di sebuah sekolah Katolik yang sama di kota saya. Saya terlahir di keluarga Katolik yang sangat kuat.

Sebenarnya sejak TK sampai SD, sudah ada teman saya yang beragama non-Katolik namun dalam usia segitu, mana mungkin saya telah berpikir luas mengenai agama. Menginjak SMP, setelah pubertas, daya pikir saya mulai berkembang dan saya mulai memahami perbedaan agama di sekolah saya.

Saat memahami hal tersebut pertama kali, saya berpikir bahwa rasanya aneh ada anak beragama non-Katolik yang bersekolah di sekolah ini, yang jelas-jelas memakai kata “Katolik” di belakang kata “SMP”-nya. Saya pun menanyakan alasan mengapa mereka atau orangtua mereka memilih untuk bersekolah di sini.

Saya perlu memberitahu bahwa murid bergama non-Katolik di SMP ini cukup banyak. Di angkatan saya yang terdiri dari lima kelas, rata-rata ada satu sampai dua anak yang beragama Islam. Itu baru yang beragama Islam, belum lagi yang beragama Buddha, Hindu maupun Kong Hu Chu. Jumlah mereka pun tidak sedikit. Di kelas saya, ada dua anak beragama Islam, satu beragama Hindu dan dua beragama Buddha. Banyak atau sedikit menurut anda?

Kembali ke topik paragraf sebelumnya, saya dengan hati-hati menanyakan alasan tersebut ke mereka. Dengan hati-hati karena agama sebenarnya adalah hal pribadi serta sensitif bagi seseorang untuk ditanyakan, apalagi untuk kaum minoritas di sekolah.

Saya bertanya kepada teman saya yang beragama Islam, sebut saja R. Dia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keluarganya adalah penganut agama Islam yang kuat. Orangtuanya telah mempercayakan SMP Katolik ini untuk mendidik kelima anaknya itu. Saat itu, dia duduk di bangku kelas 9, satu kelas dengan saya. Kedua adiknya, kelas 8 dan 7 serta kedua kakaknya, telah menjadi alumni SMP Katolik ini.

Ketika saya tanya mengapa ia tidak memilih bersekolah di sekolah Islam atau negeri, dia hanya menjawab bahwa sekolah Katolik lebih baik dibanding sekolah Islam dalam hal kualitas. Dia juga mengaku tidak suka dengan salah satu sekolah Islam di kota ini karena ia anggap terlalu fanatik (saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin menceritakan yang sebenarnya).

Saya lalu bertanya kepada teman saya yang juga beragama Islam di kelas saya, sebut saja A. Namun berbeda dengan R, si A saya perhatikan tidak begitu rajin beribadah seperti R. Mengapa saya bisa tahu?

Di sekolah kami, setiap Jumat, ada kegiatan yang dinamakan Bina Iman. Dalam kegiatan pembelajaran ini, setiap murid dibina imannya agar semakin kuat. Kegiatan ini berbeda dengan pelajaran agama di sekolah kami. Pelajaran agama di sekolah kami tentu adalah pelajaran agama Katolik dan semua murid diwajibkan ikut apapun agama mereka. Dalam pelajaran Bina Iman, anak-anak dibedakan sesuai dengan agama mereka masing-masing dan dibimbing oleh seorang guru dengan agama yang sama. Kecuali yang beragama Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu, mereka mengikuti kegiatan khusus yaitu Budi Pekerti. Sekolah tidak dapat menyediakan guru yang beragama Hindu atau Buddha atau Kong Hu Chu.

Bagi yang beragama Islam yang laki-laki, mereka diwajibkan untuk mengikuti Shalat Jumat di sebuah Masjid dekat sekolah kami. Bagi yang perempuan, ikut pelajaran Budi Pekerti bersama dengan murid-murid lainnya.

Saat dipanggil melalui speaker agar semua murid laki-laki yang beragama Islam untuk bersiap-siap, A sering keliatan ogah-ogahan. Pernah suatu saat, A pulang dari shalat Jumat duluan padahal R belum pulang. Itu pun baru beberapa menit setelah mereka berangkat ke Masjid.

Namun tak dapat dipungkiri, latar belakang keluarga A dan R memang berbeda. R berasal dari keluarga Islam yang kuat sedangkan A berasal dari keluarga dengan orangtua yang berbeda agama. Ayahnya seorang Protestan sedangkan ibunya seorang Islam. A pernah mengaku bahwa ibunya menginginkan dia untuk tetap memeluk Islam walaupun dirinya ingin masuk Protestan, mengikuti jejak kakaknya. Namun ibunya sendiri tak pernah mengajarkan sedikitpun mengenai agama Islam kepada si A. Shalat pun jarang.

Di sekolah kami, murid dengan orangtua berbeda agama memanglah tidak sedikit. Itulah yang menjadikan SMP Katolik ini terdapat banyak murid non-Katolik. Murid tersebut beragama non-Katolik, mengikuti salah satu orangtuanya namun bersekolah di sekolah Katolik, memenuhi keinginan orangtua yang lain.

Orangtua yang beragama Katolik/Protestan menginginkan anaknya yang beragama non-Kristen untuk belajar di sekolah Katolik agar ia terpengaruh oleh lingkungannya sehingga memilih untuk berpindah agama.

Itu memang terjadi.

Saya ingin menceritakan kisah salah seorang teman saya bernama K. Ia berasal dari keluarga yang orangtuanya berbeda agama. Ayahnya seorang Islam dan ibunya seorang Katolik. Jika ditanya agamanya, ia akan menjawab, “Katolik” namun kenyataannya, sejak kecil ia belum pernah dibaptis secara Katolik walaupun saya tahu bahwa ia telah mengeyam pendidikan di sekolah Katolik sejak SD.

Secara teori, ia belumlah masuk dalam agama Katolik karena ia belum dibaptis. Kalau begitu apakah ia beragama Islam? “Bukan. Bokap gue dulu sering ngajak gue shalat bareng di Masjid ampe gue kelas 3 SD. Habis itu, gue udah nggak diajak lagi” jawabnya. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya beragama Islam. Saya pun tak tahu apakah ia telah mengucapkan dua kali kalimat syahadat atau tidak. Saya tak tahu pastinya namun bukan itu yang ingin saya katakan.

Setelah lulus dari SMP, ia berniat melanjutkan pendidikan SMA di sekolah Katolik yang sama namun ayahnya ingin dia agar melanjutkan pendidikan SMA di sebuah sekolah negeri. Mengingat kemampuannya, saya ragu bahwa dia dapat masuk di SMA Negeri yang diinginkan ayahnya. Saya tahu pasti bahwa ayahnya mengetahui akan kemampuan anaknya tetapi mengapa tetap bersikeras? Alasannya, ayahnya ingin dirinya masuk dalam lingkungan anak-anak beragama Islam agar ia dapat memikirkan kembali niatnya untuk masuk ke agama Katolik.

Saya mengerti tentang masalah yang ia curhatkan kepada saya. Saya pun mengetahui bahwa akhirnya, pada tahun ini ia telah mengikuti pelajaran Katekumen sebagai persiapan untuk dibaptis.

Pernikahan berbeda agama memang menimbulkan persoalan, salah satunya adalah pilihan agama anaknya nanti. Ayah dan ibu saya kedua-duanya dahulu dibesarkan dalam keluarga Islam namun sejak kecil pula, mereka tidak pernah diajarkan mengenai agama Islam. Alhasil, ayah dan ibu saya masuk ke agama Katolik, mengikuti pakde dan budenya.

Bagi murid yang beragama Islam, bersekolah di SMP Katolik di Bulan Ramadhan menjadi tantangan tersendiri. Di kala mereka harus menahan lapar, haus, amarah dsb, teman-temannya dapat makan, minum seperti biasa. Itulah yang harus dirasakan oleh teman-teman saya yang beragama Islam. Seperti yang saya duga, yang memang niat pasti kuat, yang nggak ya nggak. Saya kadang kagum dengan mereka yang kuat, menahan rasa lapar dan haus mereka apalagi setelah pelajaran olahraga. Saya tidak dapat memikirkan betapa hausnya saya jika tidak boleh minum setelah mengikuti pelajaran olahraga di sekolah.

Lalu apa yang mereka lakukan saat istirahat? Jelas, mereka harus menahan godaan ketika teman-teman mereka makan dan minum di lorong, kantin dan setiap sudut sekolah. Kebanyakan mereka juga “selaw-selaw” saja ketika mereka duduk di depan kami yang sedang makan dan minum. Kalau niat, pasti kuat.

Bagaimana mereka mengikuti pelajaran agama Katolik di sekolah? Saya menilai pelajaran agama Katolik di sekolah kami tidak melulu berbicara tentang Yesus atau Gereja secara menyeluruh. Kami belajar mengenai Tuhan secara umum. “Perjuangan Mengembangkan Iman”, ” Beragama”, “Beriman”, “Memelihara dan Memperjuangkan Kehidupan secara Sehat”, “Aku Warga Masyarakat” adalah beberapa contoh judul bab yang kami pelajari dalam pelajaran agama Katolik. Walaupun begitu, kami tetap menyisipkan beberapa ayat dari Alkitab atau kisah orang-orang kudus agar unsur khas ke-Katolik-an masih tampak.

Dalam satu semester terakhir, ada dua kali pengambilan nilai pendidikan agama menurut agama masing-masing. Pertama yaitu Ambil Nilai (AN) penerapan cara berdoa. Para murid diharuskan berdoa di depan kelas menurut agama mereka masing-masing dan dinilai oleh seorang guru beragama Katolik. Guru tersebut tidak menilai anak secara subyektif atau secara agama namun secara keseluruhan seperti isi doa, cara serta sikap berdoa.

Ada yang lucu saat pengambilan nilai tersebut. Temen yang saya tadi ceritakan, si A, mengaku tidak mengerti cara berdoa dengan tata cara Islam. Dia malah memilih untuk berdoa dalam tata cara Kristen. Ada teman lain yang beragama Buddha yang juga tidak mengerti dengan cara berdoa agama mereka. Janggal bukan?

Kedua adalah saat Ujian Praktek Agama yakni para murid diharuskan untuk berkhotbah menurut agama masing-masing. Guru memberikan topik yang akan dikhotbahkan, para murid harus mengambil sebuah ayat dari kitab suci agama masing-masing dan menggunakan ayat tersebut sebagai pedoman untuk berkhotbah. Khotbah diawali dan diakhiri dengan doa serta dinilai oleh dua guru yang beragama Katolik. Nilai yang diberikan pun tidak boleh dibeda-bedakan antara satu agama dengan yang lain.

Saat persiapan di dalam kelas sebelum masuk ke ruang pengujian, saya berkesempatan melihat berbagai materi teman-teman saya yang berbeda agama. Ada yang membawa Al-Quran, Tripitaka ataupun Weda. Materi khotbah serta doa-doa mereka pun beragam, saya menjadi tertarik. Sebelumnya saya hanya tahu bagaimana berdoa serta berkhotbah menurut agama Kristen tetapi sekarang saya belajar hal-hal baru mengenai agama-agama lain.

Perbedaan agama di sekolah tak pernah menjadi masalah. Kami sebagai sesama murid tidak pernah merendahkan atau menghina salah satu agama yang berbeda. Walaupun mereka yang beragama non-Kristen harus mengikuti unsur ke-Katolik-an kami, mereka seperti tidak ada halangan. Bahkan ada teman-teman yang beragama non-Kristen yang turut berdoa “Bapa Kami”, “Salam Maria” serta “Malaikat Tuhan” bersama-sama dengan kami.

Ibu saya pernah mengatakan bahwa dalam keluarga, apalagi dalam keluarga beda agama, orangtua berperan penting dalam mengembangkan kehidupan kerohanian anak. Orangtua sesekali jangan memaksakan kehendak mereka sendiri ke anaknya, apalagi masalah agama. Sebaliknya, orangtua harus bersikap dan menjadi teladan yang baik, sebagai saksi agama mereka masing-masing sehingga anak mengerti, agama mana yang ingin dia masuki.

Jangan pernah memaksakan, berilah teladan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s