Minecraft | Is He Still in There?

Matahari perlahan muncul dari antara dua bukit yang berada tak jauh dari sini. Menyinari dunia ini sekali lagi dengan cahayanya yang membuat para Zombie dan Skeleton mampus kebakar. Di sinilah aku berada di sampingnya. Sstt, dia masih tidur! Oh hai, nama aku Rudolf, nama yang diberikan oleh pemilikku, seorang player bernama ArtaBio. Ya sudah terlihat dari namaku bahwa aku adalah seekor Wolf.

Aku diambil dari sebuah hutan taiga yang jauh dari sini. Waktu itu aku terpisah dari teman-temanku dan aku tidak bisa menemukan mereka. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang (atau semahluk) berjalan ke arahku. Aku sangat ketakutan. Zombie, Skeleton dan Spider mungkin kau pikir namun aku tak takut dengan mereka. Aku tidak pernah punya masalah dengan mereka. Mereka ataupun aku tak pernah mencoba untuk saling menyakiti.

Satu-satunya yang kutakutkan adalah Creeper. Sudah sifat alami mereka untuk meledak. Aku nggak suka dengan mereka. Pernah saat aku dan teman-temanku sedang mencari makanan, semahluk Creeper mendatangi kami. Kami berpura-pura tidak mempedulikannya sampai akhirnya ia meledak dan membunuh salah satu temanku.

Kami sangat sedih melihatnya mati gara-gara mahluk ijo kampret itu. Kami sangat marah dengan mereka sampai-sampai kami bawa temen-temen kami yang lain untuk ngajak ribut dengan mereka. Tindakan yang sangat salah. Creeper-creeper itu membombardir kami seperti bom atom. Kami tidak punya kesempatan untuk menyerang mereka. Saat kami mau menerjang mereka, mereka udah duluan meledak. Banyak teman-temanku yang mati karena kejadian itu.

Et, tunggu, kok aku jadi cerita? Intinya, ternyata mahluk itu bukan Creeper, Zombie, Skeleton, Spider atau mob lainnya. Dia adalah ArtaBio. Saat dia melihatku, aku berlari menghindar, takut diapa-apakan. Namun ia berlari mengejarku. Tentu saja aku bisa berlari lebih cepat darinya sampai-sampai ia berhenti sejenak untuk memakan roti yang ia bawa.

Akhirnya dia mengeluarkan sesuatu yang nggak bisa aku tahan. Tulang. Enak. Ohya, aku lupa mengatakan bahwa kami, Wolf, memburu Skeleton untuk dijadikan makanan. Aku suka melihat wajah mereka ketika mereka melihat kami.. ya, sama aja sih. Tapi mereka langung kabur! Aku suka melihat cara mereka berlari. Bego bener kelihatannya. Aku mendekatinya perlahan-lahan lalu PUFF…. aku langsung menjadi miliknya.

Tulang itu merupakan awal persahabatanku dengannya. Sejak saat itu, aku selalu berada di sampingnya, menjaganya dari bahaya yang dapat membunuhnya. Sejak saat itu pula aku melihat Zombie, Creeper, Spider atau hostile mob lain sebagai musuhku. Aku tak ingin mereka menyakiti dia. Dia mengambilku dari kesendirian di tengah hutan itu. Kadang aku kangen dengan teman-temanku di hutan. Bagaimana ya kabar mereka? Aku harap aku dapat bertemu lagi dengan mereka. Tapi hutan itu terlalu jauh dari tempat ini. Mungkin hal ini hanya bisa menjadi mimpi.

Eh, dia sudah bangun! ArtaBio sudah bangun! Dia bangun dari tempat tidurnya, melihat ke arahku. Aku juga melihat ke arahnya sambil menggoyang-goyangkan ekorku. Aku senang ketika melihat dia bangun setiap hari. Itu berarti, aku bisa berpetualang bersama dia lagi! Dia membuka Chestnya lalu mengambil sebuah Steak. Ia melihat ke arahku lagi. Ia melihatku dengan tatapan mengejek. Aku sebel deh kalo dia udah gitu. Dia tau bahwa aku lapar dan ingin makan Steak yang enak itu tapi memilih untuk diam. Dia sedang mencobaiku. Aku perlahan-lahan berjalan menuju ke arahnya. Aku mengibas-ibaskan ekorku untuk merayunya agar cepat memberikan Steak itu kepadaku.

Nggak berhasil.

Akhirnya aku mengeluarkan teknik terbaikku. Aku memberikannya tatapan lucu, aku berusaha terlihat imut di depannya. Dia hanya diam selama beberapa detik. Tiba-tiba dia memberikannya kepadaku! Yeay, menang lagi! Skor 52-0 untukku! Dia memang tidak bisa tahan melihatku seperti itu. Dasar ArtaBio, berusaha menantangku. Betapa bodohnya dia.

Dia lalu ke luar kamar. Aku kemudian mengikutinya. Ia membuka sebuah Chest dan mengambil sebuah cangkul. Hari ini adalah hari bertani! Aku senang bertani! Sebenarnya, aku senang melakukan apapun kalau bersama ArtaBio. Dia adalah teman terbaikku. Aku dan dia ke luar rumah. Tempat ini sungguh indah. Dulunya, tempat ini adalah sebuah padang rumput yang kosong, dikelilingi oleh hutan Oak. Suatu hari, sekelompok player datang dan membuat rumah di sini. Akhirnya, tempat ini menjadi penuh dengan bangunan dan hal lain.

Rumah ArtaBio berada tepat di tengah komplek, dikelilingi oleh lahan pertaniannya. Ada padi, labu, tebu, coklat, semangka dan masih banyak lagi. Saat kami berjalan di tengah-tengah lahan pertanian, kami melihat Rio. Dia sedang berjalan menuju ke luar komplek dengan memegang beliung. Mungkin dia mau pergi menambang, entahlah. Rio adalah salah satu teman ArtaBio. Ia juga memiliki rumah di sini. Teman yang lain ada Muname, MomoTheFarmer dan Jeremi. Mereka semua baik orangnya. Mereka kadang pergi mengunjungi rumah kami untuk mengambil sesuatu. Yap, mereka adalah orang-orang yang nggak pelit. Mereka selalu berbagi dengan apa yang mereka punya. Aku senang berada di tengah-tengah mereka.

ArtaBio kemudian melakukan apa yang ia harus lakukan. Memanen beberapa padi, semangka dan lebu yang sudah selesai tumbuh. Dan aku, hanya memandangnya dari jalan. Aku tak bisa ikut dengannya. Ia tidak memperbolehkanku. Dia takut memukulku dengan cangkul secara tidak sengaja. Ia begitu perhatian dan peduli.

***

Hari ini gila aku banyak bersenang-senang dengannya! Kami berdua pergi ke pantai karena ia butuh pasir, lalu kita berlomba mendaki sebuah gunung yang lumayan tinggi kemudian berjalan-jalan di tengah-tengah hutan bunga. Seru sekali hari ini! Dia selalu memberiku Steak selama perjalanan. Kalau dia kehabisan Steak, dia akan membunuh Chicken atau Cow yang terlihat lalu memberikan dagingnya kepadaku. Aku ingat dia hampir mati karena mengejar seekor Chicken sampai ke pinggir jurang! Aku sangat ketakutan. Aku tak ingin dia mati.

Saat dia sedang menyiapkan makan malam di rumah, Rio mengetuk pintu. Dia lalu ke luar dari Ruang Furnace-nya lalu membukakan pintu untuk Rio. Kelihatannya dia sudah pulang dari perjalanan menambangnya. Rio lalu mengeluarkan beberapa Obsidian. Wow. Dia menambang sampai ke yang paling dalam. Saat sedang bercakap-cakap dengannya, ArtaBio melihat ke arahku. Ia terlihat khawatir. Lalu Rio ke luar dan pergi. Mengapa ia memberikan tatapan itu?

ArtaBio lalu kembali ke Ruang Furnace-nya. Dalam waktu singkat, ia membawa beberapa Steak untukku dan Mushroom Stew untuknya. Waktunya makann!

***

Pagi ini adalah pagi yang cerah. Aku bangun dan melihat ArtaBio- DIMANA DIA?! AKU TIDAK MELIHATNYA DI ATAS TEMPAT TIDUR! Aku berdiri lalu menyalak sekuat tenaga. Aku langsung berlari ke luar kamar ke ruang utama. DIA JUGA TIDAK ADA DI SINI! Aku pergi ke Ruang Penyimpanan, Ruang Furnace, Lahan Pertanian Bawah Tanah, Balkon, dia tidak ada! Aku lalu berlari ke luar rumah sambil menyalak. Mencoba mencarinya.

Lalu aku melihat sekelompok player berkumpul di pendopo yang dibangun oleh Muname. Syukurlah, ternyata dia ada di sana. Tapi aku penasaran, sedang apa mereka? Jarang-jarang mereka berkumpul seperti itu.

Kemudian mereka mulai berjalan ke arahku, maksudku, ke arah rumah ArtaBio. Saat mereka melewatiku, ArtaBio berhenti dan memberikan sebuah Steak kepadaku. Aku memang sudah lapar. Dia berjalan di sampingku, masuk ke dalam rumah kami. Mereka lalu pergi ke ruang bawah tanah. Aku mengikuti mereka. Rio lalu dengan beliungnya membuat sebuah lubang di dinding. Dia lalu meletakkan beberapa buah Obsidian seperti bentuk sebuah portal. Apa itu?

Mereka lalu bubar dan pergi dari rumah kami. ArtaBio juga pergi ke kamarnya. Aku masih mengikutinya. Dia mengenakan armornya, seluruh armornya. Dari Helmet, Chestplate, Leggings sampai Boots. Dia memakai armor terbaik yang ia punya. Armor itu terbuat dari Diamond dan sudah di enchant. Dia mengambil pedangnya yang juga terbuat dari Diamond, busur serta beberapa panah yang jumlahnya lumayan banyak. Itu semua juga sudah di enchant. Apa yang mau ia lakukan? Berburu? Mengapa ia melakukan ini? Apakah dia ingin ngajak ribut Raja Zombie? Atau apa? Yang pasti.. aku khawatir terhadapnya.

Aku menyalak ke arahnya. Menyadari kehadiranku, dia menatapku. Dia lalu pergi ke Ruang Penyimpanan. Aku mengikutinya. Ia memperlihatkan sebuah Chest yang isinya berbagai macam makanan yang menggiurkan. Jadi di sini toh tempat ia menyimpan makanannya? Tapi kenapa ia memperlihatkannya kepadaku? Keempat temannya tiba-tiba datang dan mengajaknya ke ruang bawah tanah. Mereka semua juga memakai armor terbaik seperti yang dipakai ArtaBio.

Saat kami sampai di depan Obsidian-Obsidian itu, Jeremi menyalakannya dan muncul sebuah… entah apa namanya.. berwarna ungu. Jeremi, Rio, MomoTheFarmer dan Muname duluan masuk ke dalam.. entah apa namanya itu kemudian menghilang. ArtaBio kemudian menyuruhku untuk duduk dan menunggu serta jangan masuk untuk mengikutinya. Aku pun menurutinya. ArtaBio lalu masuk ke dalam benda itu. Sebelum ia menghilang.. Ia tersenyum padaku.

Dia lalu menghilang. Aku pun sendiri. Aku belum pernah sendiri seperti ini. Kenapa aku tidak diperbolehkan mengikutinya? Selama ini aku dan dia selalu bersama-sama. Kenapa dia menyuruhku untuk diam di sini? Aku untuk pertama kalinya… merasa sendiri.

***

Sudah malam, ArtaBio belum juga kembali bersama teman-temannya. Aku lapar. Aku ingat tadi pagi ArtaBio memperlihatkanku Ruang Penyimpanannya. Aku ingin sekali mengambil Steak enak itu. Tapi ArtaBio menyuruhku untuk tetap tinggal di sini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba muncul namun aku tidak ada di tempatnya? Mungkin dia akan marah padaku dan mengusirku. Aku tidak mau itu terjadi. Aku memutuskan untuk tetap di sini. Tiba-tiba dari atas, aku mendengar suara mengeong. Oh aku tau siapa itu.

“Hey, Rudolf… meow.. apakah ArtaBio ada di sini? Meow…” kata Jane saat turun ke ruang bawah tanah ini.

“Tidak, dia tidak ada di sini” kataku dengan muka datar. Jane lalu melihat sesuatu yang berwarna ungu yang berada persis di depanku. “Itu apa? Meow…” tanyanya lagi.

“Entahlah, semua player masuk ke dalam sesuatu ini lalu tiba-tiba menghilang. Mereka memakai armor dan senjata terbaik mereka” jawabku mengingat kejadian tadi pagi.

“Mungkin mereka mau berburu sesuatu? Meow..” katanya sambil duduk di sebelahku.

“Entahlah. Apapun itu, pasti sangat kuat” balasku sambil menundukkan kepalaku.

“Hey, janganlah sedih. Mereka pasti akan kembali. Ya kali mereka mau meninggalkan kita begitu saja? Meow..” hiburnya seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.

“Tapi ini sudah malam, Jane. Aku takut ada yang terjadi dengan mereka” balasku sambil menatap Jane. “Tapi tidakkah kau ingat ketika mereka mengalahkan Wither itu? Mereka jago sekali.. meow.. sampai-sampai Withernya nggak bisa berbuat apa-apa.. meow”

Hehe, aku mengingat kejadian itu. Memori indah ketika aku sudah bersama dengan ArtaBio. Kami, para mob teman-teman mereka (bukan peliharaan mereka loh) mempunyai kesempatan untuk melihat mereka bertarung dengan Wither secara langsung, walaupun dengan jarak yang lumayan jauh.

“Iya, aku ingat!” kataku bersemangat. Kata-kata Jane sangat menghiburku. Tak mungkin mereka kenapa-kenapa, mereka adalah player terbaik di seluruh Minecraft!

“Betul kau! Meow.. karena kau sekarang tidak sedih lagi, aku akan pergi. Aku hanya ingin memberitahumu kalau Sektor 4 aman dari serangan Creeper hari ini. Aku akan melapor ke Pak Golem setelah ini. Lalu beristirahat. Aku letih sekali berjaga dari tadi pagi. Bye, Rudolf!” katanya ceria sambil pergi dari ruang bawah tanah. Dia memang Ocelot yang baik. Dia mau menghiburku malam-malam begini. Seharusnya aku tidak lagi bersedih! Mereka pasti akan kembali besok pagi. Aku yakin!

***

Aku… sangat… lapar… aku hanya duduk di sini, tidak bergerak satu inci pun dari tempatku semula, menatap ‘entah apa namanya yang berwarna ungu’ itu. Sudah berapa malam lewat? Aku tidak mengingatnya lagi. Badanku sudah cukup lemah untuk berpikir.

Bagaimana keadaan mereka? Aku hanya ingin tahu jawaban itu lebih dari apapun. Aku sudah menjadi teman ArtaBio selama 3 tahun dan lihatlah sekarang.. dia meninggalkanku begitu saja tanpa adanya kepastian.

Kepastian itu emang mahal harganya.

Aku tidak percaya mereka tidak kembali. Apakah mereka tersesat? Apakah mereka melawan banyak sekali musuh? Apakah mereka.. ma….

TIDAK! AKU TIDAK MAU BERPIKIR SEPERTI ITU! MEREKA ADALAH PLAYER TERBAIK SEPANJANG MASA! TERUTAMA ARTABIO! MEREKA TAK MUNGKIN MA….

Aku menatap benda ungu itu lagi untuk kesekian kalinya.

..ti…

Tiba-tiba, air mataku jatuh. Aku menangis? Aku tak boleh menangis! Aku adalah Rudolf si Wolf! Aku tak mungkin menangis… hanya karena….

ArtaBio tak kembali…

Sepertinya, menangis itu diperbolehkan asal untuk orang yang kita sayangi.

Aku menangis senangis-nangisnya namun tetap menjaga suaraku agar tidak ketahuan yang lain. Kan malu kalo si Jane dateng terus ngeliat aku na-

“Hai Rudolf! Meow.. Eh kamu kenapa!?” Ocelot kuning itu langsung mendatangiku dan menjatuhkan Cooked Fish-nya. “Hey! Meow! Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan nada perhatian.

“Aku.. tidak apa-apa. Hanya.. ArtaBio dan teman-temannya belum kembali juga” jawabku pelan. Aku sama sekali tidak ingin memikirkan hal terburuk yang dapat terjadi pada mereka.

“Iya, sudah 5 hari mereka belum kembali-”

“LIMA HARI? KENAPA KAU TIDAK MENGUNJUNGIKU DAN MEMBERITAHUKU?!” teriakku penuh amarah. Sangat aneh mengingat Jane selalu perhatian kepadaku dan faktanya ia tidak mengunjungiku 5 hari sangatlah mengganggu pikiranku.

“Maafkan aku, Ru-Meow-Dolf. Aku selalu menjaga pagar setiap waktu bersama teman-temanku. Meow. Dan karena persediaan makanan hampir habis untuk kita semua, para Ocelot pun terpaksa harus mencarinya sendiri, juga teman-teman Wolfmu. Mereka menanyakan keberadaanmu tapi hanya kujawab kalau kamu menjaga tempat para player menghilang jadi mereka nurut-nurut aja” jelasnya panjang lebar.

Aku hanya termenung, memikirkan antara aku egois atau tidak. Di sini aku sangatlah aman, di tengah-tengah komplek, hanya menatap benda berwarna ungu itu sedangkan teman-temanku harus mencari makanan bagi mereka sendiri.

“Kau bisa mengambil makanan di Ruang Penyimpanan milik ArtaBio di atas” aku memberitahu Jane agar makanan itu nggak mubazir.

Aku melihat Jane, dia terlihat sangat cemas. Ada apa?

“Rumahmu.. Rumahmu dan ArtaBio, meow. Sudah hancur seperempatnya….” katanya dengan sangat pelan.

“APA?!” Aku berdiri namun kemudian jatuh lagi karena aku sudah sangat lemah. Apakah aku begitu lemah sehingga pendengaranku begitu jelek? Sampai-sampai tidak mendengarkan suara ledakan dari atas?

“Saat ledakan itu, para mob penjaga sektor dalam langsung berhamburan ke rumahmu. Frederick serta Lasimov langsung pergi ke Ruang Bawah Tanah untuk menemuimu namun mereka melihatmu tertidur sangat lelap di depan portal itu. Meow” jelas Jane dengan detail.

Ia kemudian melanjuti perkataannya, “Sangat mereka ingin membangunkanmu, Pak Golem mencegah mereka agar kamu dibiarkan seperti itu. Teman-teman Wolfmu itu pun setuju dengan terpaksa dan meninggalkan Ruang Bawah Tanah dengan kepala tertunduk. Saat kami lihat seberapa besar kehancurannya, Ruang Penyimpananmu sudah rusak total. Tidak ada yang tersisa. Semuanya hancur berkeping-keping bahkan makanannya pun tidak bisa dimakan lagi. Meow” Sudah menjadi kebiasaan Jane kalau sedang menjelaskan sesuatu yang serius, meongannya selalu berada di akhir.

Setelah mendengar penjelasan panjang kali lebar itu, aku mulai merasa sangat egois karena tidak pernah ke luar rumah. “Tapi, apa penyebab ledakan itu?” tanyaku.

Jane terdiam sebentar, sepertinya memikirkan jawaban yang tepat. “Creeper.. Semahluk Creeper meledak.. meow”

Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Tidak mungkin Creeper bisa masuk ke tengah komplek tanpa diketahui oleh para penjaga pagar maupun penjaga sektor dalam! “Tidak mungkin…”

“Itu mungkin, Rudolf. Saat kami cek, sektor 2 telah hancur. Pagarnya hancur terkena ledakan. Dan.. dan.. Lily serta Jessie…. mati” kata Jane sambil mulai menangis.

Aku tidak percaya.. kita telah kehilangan dua dari teman-teman mob di komplek ini. Lily dan Jessie adalah teman-temannya MomoTheFarmer. Walaupun aku tidak dekat dengan mereka namun aku merasa kesedihan yang luar biasa dari dalam diri Jane. Mereka adalah sahabat-sahabatnya Jane dan kehilangan mereka, pasti membuat Jane merasa terpukul.

Aku berdiri dan merangkulnya dengan satu kakiku. Kasihan dia. “Ayolah, Jane. Janganlah menangis. Kamu adalah Ocelot yang kuat. Mereka pasti sedih jika melihatmu seperti ini. Jangan buat pengorbanan mereka sia-sia” Entah dari mana, aku tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk berbicara seperti itu. Seharusnya kan aku lemah.

“Iya, Rudolf. Hanya saja… Aku hanya berharap mereka pulang dari entah di mana. Jika mereka pulang lebih awal, tentu semua ini tidak akan terjadi-”

Tiba-tiba, alarm berbunyi. Alarm itu sebenarnya hanyalah sekumpulan Noteblocks yang akan berbunyi jika sinyal Redstone dibunyikan dari kantor Pak Golem. Pasti ada musuh memasuki area komplek!

“Ada apa ini.. Meow..” kata Jane dengan nada takut dan khawatir.

Aku kemudian mendengar suara para Wolf menyalak dan berlarian di sepanjang lahan pertanian milik ArtaBio. Aku yakin Frederick, Lasimov, Roger dan Kristoff sudah mencoba menghalau para penyusup agar tidak memasuki komplek lebih dalam lagi.

“Rudolf, aku akan segera pergi. Meow. Teman-temanku pasti kewalahan jika harus pergi menghalau Creeper tanpaku. Aku harus memberi bantuan semampuku. Meow. Ini ada beberapa Steak untukmu, makanlah, kau kelihatan seperti orang mati. Ohya, jaga tempat ini dengan hidupmu! Aku yakin mereka akan kembali!” kata Jane bersemangat sambil ke luar dari Ruang Bawah Tanah.

Aku melihat Steak-Steak itu dan langsung melahapnya. Energiku serasa kembali terisi. Aku mendengar beberapa suara ledakan dari arah Sektor 2. Aku harap mereka baik-baik saja tanpaku. Aku ingin sekali ke luar sana dan membantu para mob penjaga tetapi aku juga ingin menunggu ArtaBio di sini.

Sistem pertahanan komplekku dipimpin oleh Pak Golem, semahluk Iron Golem yang dibuat beberapa tahun yang lalu, sebelum aku ada di sini. Ada dua tim: Tim Penjaga Pagar, Tim Penjaga Sektor Dalam dan Tim Patroli.

Tim Penjaga Pagar terdiri dari sekumpulan Ocelot. Jane, Jessie dan Lily termasuk di dalamnya. Mereka bertugas menjaga pagar agar tidak diledakkan oleh Creeper. Secara natural, Creeper akan pergi menjauhi Ocelot. Jika Creeper berhasil diusir maka mahluk lain yang dapat merusak pagar adalah Enderman. Namun Enderman juga jarang terlihat sehingga tidak begitu menjadi ancaman.

Tim Penjaga Sektor Dalam terdiri dari sekumpulan Wolf. Aku, Frederick, Roger, Lasimov dan Kristoff termasuk di dalamnya. Kami bertugas menjaga sektor dalam dan kami harus menjadi berisan terdepan jika ada penyusup masuk ke dalam komplek.

Tim Patroli terdiri dari Wolf dan Ocelot yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jane, aku, Kristoff dan Jessie termasuk di dalamnya. Kami bertugas untuk berpatroli di luar pagar saat malam hari. Namun kami hanya bertugas seminggu sekali, mengecek jika ada sesuatu yang mencurigakan. Tugas yang berbahaya memang, makanya hanya yang berkemampuan lebih lah yang dipilih.

Tiba-tiba aku mendengar suara Wolf menyalak dari atas. Itu suara Frederick! Sepertinya dia sedang melawan beberapa Zombie yang telah menyusup ke rumahku. Aku harus membantunya! Aku berdiri dan siap-siap untuk berlari ke atas.

Kemudian terdengar suara ledakan dari atas, menghancurkan lantai sehingga terbentuk sebuah lubang. Aku melihat Frederick jatuh ke Ruang Bawah Tanah dari lubang yang terbentuk itu. Dia terbaring tak bergerak.

“FREDERICK!” teriakku sambil berlari menghampirinya. Namun sekumpulan Zombie jatuh dari lobang itu. Mereka lalu menyerangku. Langsung saja aku mencakar mereka sampai mereka mati untuk menyelamatkan Frederick.

Tapi terlambat, dua Zombie memakan tubuh Frederick. Mereka mencabik-cabik dagingnya. Darah segar ke luar dari sisa-sisa tubuh Frederick.

Aku terdiam. Mematung menatap ke pandangan yang mengerikan itu. Frederick mati. Dia mati di depanku. Dia mati karena aku terlambat menolongnya.

Aku hanya mematung saat semahluk Skeleton turun. Dia melihatku dan mengarahkan busurnya ke arahku. Ia menarik anak panahnya seakan ia akan memanah sebuah target yang tak hidup.

Namun aku tidak peduli. Aku melihat ke arah benda ungu itu lalu melihat Skeleton itu dengan jelas. Skeleton itu lalu menembakkan anak panahnya ke arahku. Aku bisa saja menghindar dengan cepat namun aku tidak peduli. Aku akan membiarkan anak panah itu menusuk tubuhku.

Aku telah kehilangan kepercayaan akan mereka. Mereka sudah mati. Aku tahu kalau mereka akan mati. Mereka mati. Mereka mati. Sama seperti teman-temanku yang lain. Kita semua akan mati. Kita mati. Kita mati.

Rasa penyesalan itu memenuhi pikiranku, menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Seharusnya tak kubiarkan ArtaBio masuk ke dalam benda aneh itu. Seharusnya aku ke luar menjaga komplek bersama teman-temanku. Jika aku melakukan itu semua, pasti semua ini tak akan terjadi.

Aku menoleh, melihat benda ungu itu untuk terakhir kalinya.

“Apakah dia masih di dalam sana?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s