Minecraft | PoopCraft and Flashback

Gue mau nyeritain pengalaman pribadi gue tentang game ini… yep, Minecraft. Mungkin kalian pernah ngerasain perasaan sedih, sesek di dada atau bahkan pengen nangis ketika lo nginget pengalaman indah di masa lalu. Gue selalu begitu. Kadang gue menerawang, lalu timbul gambar-gambar yang menceritakan suatu peristiwa seneng yang pernah gue alami di masa lalu. Gue senyum.. tapi habis itu langsung sedih. Why?

Those moments will never happen again in our life.

Walaupun sekarang lu lagi meniti pengalaman baru, nginget pengalaman masa lalu rasanya pengen minjem Mesin Waktunya Doraemon, lalu pergi ke masa itu. Ngerasain sekali lagi perasaan seneng saat itu.

***

Gue dikenalin game bernama Minecraft saat gue kelas 7 SMP, yaa sekitar 2 tahun lalu. Gue udah nyeritain di artikel sebelumnya kalo gue punya temen namanya Rio. Gue sama Rio udah temenan sejak kelas 6 SD. Waktu itu gue sekelas sama dia. Walaupun di SMP gue nggak sekelas sama dia, gue dan dia tetep jaga hubungan pertemanan walaupun nggak seintens dulu (ini apaan sih-_-).

Rafael, temen satu angkatan gue dan Rio, juga sering ke rumah Rio. Dia lah yang awalnya ngenalin gue dengan Minecraft. Waktu itu, Rio dah tau duluan tapi gue nggak begitu tertarik dengan game tersebut. Gue lebih memilih main Left4Dead2 di rumah Rio sedangkan Rafael main Minecraft di laptopnya Rio.

Suatu hari, gue, Rio, Rafael dan Bhima (temen satu angkatan juga) sepakat nyoba main Minecraft bareng. Berbekal pengetahuan dari Youtube yang dimiliki oleh Rio, dia berhasil menghubungkan Komputer serta 2 laptopnya dengan jaringan LAN sehingga kami bisa bermain Minecraft bersama. Simple, gue cuma naroh lava di atas pohon-pohon dan nontonin satu hutan terbakar.

Jahat nggak gue?

Dari situ gue berpikir, “Ini game seru juga”

Sejak saat itu, gue sering banget main ke rumah Rio untuk sekedar bermain Minecraft bersama. Gue juga lama-lama diajarin cara main Minecraft yang bener karena selama ini gue hanya bermain di Creative Mode.

Gue, Rafael dan Rio juga pernah membuat sebuah desa kecil yang kami beri nama ‘Pamulang Lava Island’ karena banyak lava yang gue taroh, entah di atas pohon atau atas perairan. Kami bahkan me-recordnya-nya dan menguplotnya ke Youtube^.

Video itu sebenernya aib gila. Itu yang ngomong sebagian besar adalah Rafael. Ada suara Rio juga. Dan gue adalah player yang terbang nggak jelas bikin ‘pelabuhan’ dan lempar snowballs.

Entah nggak ada yang bener.

Waktu pun memisahkan kita sehingga kita nggak sering lagi ke rumah Rio. Minecraft jadi terkenal dan mulai banyak temen kita yang main Minecraft sehingga Rio mempunyai satu ide untuk membuat server kecil-kecilan. Yaa buat main-main aja.

Berbekal tutorial bagaimana cara membuat server Minecraft yang tidak memerlukan akun asli (karena kita nggak punya kartu kredit untuk beli akun yang asli jadi pake yang gratis), Rio membuat sebuah server berkapasitas 20 orang yang diberi nama ‘PoopCraft’. Dengan server ini, kami bisa bermain Minecraft di rumah kami masing-masing. Komputer yang kami gunakan harus terhubung dengan sebuah program jaringan bernama Hamachi, barulah dapat bermain Minecraft bersama-sama.

Kerugian menggunakan cara ini sebenarnya banyak: segalanya tergantung host yakni Rio. Kita hanya bisa bermain dalam server jika server itu diaktifkan alias Rio harus menghidupkan komputernya terlebih dahulu. Kalo komputernya Rio mati atau Rio offline maka kami nggak bisa main bareng. Ngelag atau tidaknya server sangat tergantung kecepatan koneksi Internet Rio. Apesnya lagi kalo Rio ngidupin server sambil main yang lain atau nonton video atau lagi download/upload sesuatu, udah pasti, buka chest aja perlu beberapa detik.

Kami nggak pernah ngeluh atau complaint soal ngelag karena yaa.. ini cuma main-main. Jika kami saling berhubungan dengan skype maka pasti akan keluar kata-kata berikut jika server ngelag, “Ri, lagi ngapain, Ri” atau “Ri, kok ngelag” dan Rio menjawab, “Lagi nonton sesuatu”. Dia mengatakan kata ‘sesuatu’ dengan ambigu. Sampe sekarang pun kita nggak tau apa yang Rio tonton sehingga mengakibatkan server ngelag.

Misteri hingga sekarang.

Map pertama server PoopCraft beneran cuma main-main. Modenya masih creative dan kita bebas ngapain aja di server. Karena laptop gue yang parah abis jadinya gue gabung ke server tersebut baru beberapa hari setelah server diaktifkan untuk pertama kali. Telat banget gue. Semua orang udah bangun sesuatu. Rumah, menara, redstone contraptions, dll. Bentuknya sama seperti satu desa.

Temen-temen yang ikut di world tersebut adalah Rafael, Jonathan (mereka kembar), gue, Rio, Bhima dan Samuel. Semua orang punya building skill yang hebat kecuali gue, yang paling parah. Hal yang paling gue inget dari world itu adalah.. gue nge-spawn Blaze di deket rumah Rafael yang seluruhnya terbuat dari bahan wood. Karena gue nggak tau apa yang dilakukan Blaze alhasil gue di-kick dari server beberapa kali.

Setelah beberapa lama bermain di situ, timbul keinginan untuk bermain Minecraft secara sesungguhnya, survival. Inilah tantangan buat gue yang bisanya cuma nyusahin orang di server. Gue belajar dengan membaca di Minecraft wiki (cie elah kayak mau ujian aja) tentang banyak hal sehingga gue siap. Server reset dan kita tiba di world baru.

Spawn point kali ini berada di swamp biome. Kami berusaha untuk tidak bangun rumah jauh-jauh sehingga nyusahin orang untuk jalan. Di world inilah gue menemukan hal yang nggak gue suka dari Minecraft… mining.

Yap, gue secara pribadi nggak suka mining. Walaupun itu adalah hal terpenting di Minecraft namun gue nggak tahan mining lama-lama. Dapetin ore-nya susah kayak apaan tau dan suasana cave yang gue nggak suka, sumpah. Akibatnya, gue nggak punya tool apapun kecuali yang terbuat dari stone. Gue dapet diamond shovel dari Rafael dan lainnya, gue minta-minta.

Hal yang paling gue inget dari world ini adalah, gue dapet permintaan untuk bantuin Samuel ngebuat underwater house. Dulu, slime block belum ada sehingga ngebuat underwater house adalah sesuatu yang sangat, sangat, sangat melelahkan.

Gaji gue adalah steak, porkchop, chicken, bread, apple….

Dan gue mau-mau aja.

Begonya gue.

Entah kenapa, Rio memutuskan untuk reset server mendadak. World yang ini jauh banget dari apa yang kami harapkan. Spawn point berada di pinggir laut persis. Isinya hanyalah taiga biome. Kami kekurangan makanan karena satu-satunya yang ada adalah chicken. Kita masih noob saat itu sehingga nggak tau harus berbuat apa. Kita cuma tahan beberapa hari karena tempat yang nggak begitu strategis. Reset server.

Setelah pengalaman yang tidak mengenakkan di world sebelumnya, gue bertekad untuk menyelesaikan masalah pangan di server ini. Ohya, pemain aktif berkurang world demi world. Di world baru ini, pemain aktif adalah Rio, Bhima, Rafael dan Debar. Debar adalah anggota baru di PoopCraft. World kali ini menurut gue adalah world paling strategis letaknya. Ada danau yang begitu luas yang gue jadikan lahan pertanian. Gue merubah nama akun gue menjadi ‘MomoTheFarmer’. Farming akhirnya menjadi kegiatan yang paling gue suka di Minecraft.

Nggak kayak anggota lain, Debar lebih suka menyindiri dan tinggal jauh dari kami. Rio, Rafael, Bhima dan gue pun sering nge-troll dia dengan ngebunuh binatang kesayangannya. Dia kadang menyimpan satu ekor cow atau pig di rumahnya untuk di-breed. Tanpa rasa bersalah, kita bunuh binatang tersebut. Lalu pernah kita membawa creeper masuk ke dalam rumahnya, begitu dia masuk, BOOM. Hancur. Sejak saat itu, Debar males main di server kami.

Entah kenapa world yang gue suka itu di-reset, sekarang kami berada di sebuah world baru. Spawn point kami berada di tempat bersalju, di sampingnya terdapat sebuah gunung batuan yang lumayan luas kemudian ada forest di sampingnya lagi. Di world ini, datanglah Jeremi dan Jose dalam server kami. Karena ‘anak’ baru, Jose sering kita kerjain dengan kita bunuh berulang kali. Kasian emang.

Walaupun sekarang PoopCraft udah nggak aktif, gue tetep kangen main di PoopCraft. Kangen lag-nya, kangen ngerjain orang, kangen nge-build dan masih banyak lagi. Mungkin saja suatu hari nanti kami bisa main lagi…

PoopCrafters!

Itu yang paling depan gue, Jeremi, ArtaBio itu Bhima dan paling belakang si Rio.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s