Jangan Heran Pulpen Hilang | #5 Dita’s POV

Previous : Jangan Heran Pulpen Hilang – #4 Riki’s POV

(sehari sebelum hari itu…)

Dita’s POV

Ini nih kenapa gue paling nggak suka duduk paling depan, hadeh…

Ulangan Fisika tentang bab Kampretnetan ini telah berjalan 15 menit dan gue bener-bener nggak bisa ngerjain.

Gue melihat soal ini sekali lagi.

“Perhatian gambar berikut…. jika kumparan begini.. berarti utara menghadap ke…. sini dong? Eh bukan, situ kayaknya. AH ELAHHHH!!!” gue lalu meletakkan kepala gue di atas meja.

Gue melihat ke sebelah gue, Bram sedang mengerjakan soal dengan serius.

Dan di sinilah gue, udah 8 nomer gue lewatin. 12 gue jawab, 9-nya ngasal. Gue pikir nomer 20 bisa lebih mudah namun…. nope. Gue malah tambah nggak ngerti.

Pak Farhan hanya melotot, melihat ke penjuru kelas.

Kenapa juga Pak Putut ngatur tempat duduk di mana gue persis di depan meja guru? Kan nyebelin padahal gue udah enak-enak duduk deket Preta sama Anne, jauh dari guru bisa kerja sama pula sama mereka. Untung aja waktu itu Rory nggak macem-macem ngadu ke guru. 

Ehem.

Tiba-tiba Bram berdehem sekali. Keliatan banget kalo itu hanya batuk boongan. Entah apa maksudnya.

Ehem-ehem.

Tiba-tiba Rio duduk di belakang kita juga berdehem namun dua kali.

Kayaknya mereka kerja sama.

Lalu Bram mengetukkan pulpennya ke meja sebanyak 2 kali lalu diam sebentar lalu mengetuk lagi. Tapi sekarang 7 kali.

Dan gue nggak tau kenapa Pak Farhan nggak bisa denger, entah mungkin karena tua atau memang nggak peduli.

Beberapa saat hening, Rio mengetukkan pulpennya sebanyak 2 kali.

Lalu Bram menulis sesuatu pada kertas ulangan.

2 kali.. pasti B. Nomer 27!

Gue lalu membalikkan halaman kertas soal, mencari nomer 27. Gue membaca soalnya kemudian melihat jawaban B.

Wih bener. Kata gue sambil menuliskan jawaban itu.

Dari hasil pengamatan itu, gue mengerti cara mereka berkomunikasi tanpa mereka harus berbicara bahkan melirik satu sama lain.

Gue mengetukkan pulpen gue 1 kali ke atas meja.

Tidak ada jawaban dari Rio.

Kok nggak dijawab? Apa jangan-jangan salah?

Gue mengetukkan pulpen gue 1 kali lagi ke atas meja.

Tanpa jawaban.

Gue yakin Rio denger ketukkan pulpen gue dan gue yakin dia nggak bisa bedain antara ketukkan pulpen gue dengan pulpen Bram karena pulpen kita sama aja bentuknya.

Gue kemudian mendengar suara orang di belakang gue berdehem-dehem. Yap, itu deheman cowok.

Rio kah itu? Entahlah, gue nggak berani liat ke belakang, suaranya lumayan keras.

Bram tidak memberikan respon apa-apa.

Gue rasa itu deheman Dikta.

Dikta nggak ikutan kerja sama? Nggak mungkin ah.

Gue akhirnya menyadari kalo gue buang-buang waktu mikirin soal cara ‘komunikasi’ Bram sama Rio, atau Dikta termasuk.

Gue lalu meletakkan pulpen gue di pinggir meja dan itu adalah ide yang buruk. Pulpen gue menggelinding dengan sendirinya sehingga jatuh ke lantai.

Gue lalu melihat ke bawah dan berusaha ngambil. Tapi tiba-tiba Agata jalan dan nggak sengaja nendang pulpen gue sehingga menjauh.

“Et, maaf Dit” Agata meminta maaf.

“Iya nggak pa-pa” jawab gue.

Yah tapi sekarang gue kehilangan pulpen gue, gerutu gue dalam hati. Gue lalu ngecek kotak pensil gue, mengambil satu pulpen dan melanjutkan pengerjaan ulangan gue.

Tetep aja gue nggak bisa ngerjain.

“Oi Dit” panggil seseorang.

Gue menoleh ke kiri, “Kenapa?”

“Dipanggil Frasco”

“Heyhey, ada apa ini?” kata Pak Farhan.

“Ini Pak, mau ngembaliin pulpennya si Dita aja. Dit, nih pulpen lu” kata Frasco sambil menyerahkan pulpen itu ke Tessa lalu ke gue.

“Makasih ya” kata gue. Gue udah berpikir nggak bakal nemu pulpen ini lagi karena… kau tau lah… lantai adalah pintu dimensi lain. Pulpen bakal langsung hilang ke dimensi lain kalo dah jatoh.

Gue kembali melihat kertas soal.

Satu pun nggak ada yang gue ngerti.

Gue lalu iseng-iseng membuka pulpen untuk melihat tintanya. Lalu gue mengernyitkan dahi gue.

“Ini kayaknya bukan pulpen gue. Sama-sama Pilot tapi nih tinta penuh amat, kayak nggak pernah dipake”

Bodo ah.

Side Quest

Jelaskan bagaimana Bram dan Rio bekerja sama dalam ulangan! Apakah Dikta ikutan? Jika iya, bantu Dita dalam kebingungannya!

Next : Jangan Heran Pulpen Hilang – #6 Tasya’s POV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s