Jangan Heran Pulpen Hilang | #4 Riki’s POV

Previous : Jangan Heran Pulpen Hilang – #3 Tessa’s POV

(sehari sebelum hari itu…)

Riki’s POV

“Gat, boleh pinjem pulpen lu? Pulpen gue abis nih tintanya” kata gue ke Agata sambil menunjukkan pulpen gue yang emang tintanya udah habis padahal baru dibeli kemaren. Abal emang.

“Ohya, boleh kok” katanya sambil membuka kotak pensilnya.

Gue melihat ke belakang, tampak temen-temen gue lagi main Jempol, ya sejenis permainan jari gitu di mana lu harus teriak, “Satu!” lalu boleh mengangkat jari atau nggak mengangkat jari. Gue sebenernya nggak tau nama aslinya apa tapi ya gue buat asal aja namanya.

“Nih, kembaliin ya nanti” katanya sambil memberikan sebuah pulpen Standard yang masih kelihatan baru. Mungkin karena jarang dipake.

“Thanks ya, nanti gue kembaliin kok” kata gue sambil berjalan ke arah temen-temen gue.

“JEBOT!” teriak Arvy kenceng banget.

“Mampus, ngangkat semua” kata Satrio setelah menghitung jumlah jempol yang diangkat.

“Etdah, giliran gue jebot aja lu pada ngangkat. Gue nyebut angka aja lu pada nggak ada yang ngangkat” sungut Arvy.

Gue langsung menempati tempat duduk gue di sebelah Satrio.

“Udah minjem pulpen lu?” tanya Frasco tiba-tiba.

“Udeh” jawab gue singkat.

“Siapa?” tanyanya lagi.

“Aga-”

“LIMA!” teriak Satrio kali ini.

Anjir, pengang telinga gue kata gue dalem hati sambil nabok pipinya Satrio pake tangan kanan gue.

“Tiga noh” kata Arvy setelah menghitung.

“Ett, nggak-nggak-nggak. Tadi Frasco lagi ngobrol sama Riki. Nggak aci-nggak aci!” kata Satrio ngotot.

“Yaelah, sapa suruh lu nyebut duluan? Udah tau gue lagi ngobrol sama Riki” kata Frasco membela diri.

“Mampus lo” ejek gue sambil mengambil botol minum dari dalem tas gue. Aus banget.

“Gara-gara elo tong!”

Si Satrio masih aja ngotot.

“Udeh-udeh, sekarang giliran lu Co” kata Arvy untuk menenangkan amarah Satrio.

Tiba-tiba bel berbunyi.

“YAH KALAH KAN GUE!” teriak Satrio.

Kami berempat hanya tertawa saja.

***

“Seee…laaaa…maaattt…siii..annggg, Buuuuu!”

“Selamat siang anak-anak. Silahkan duduk” balas Bu Santi.

Semua anak pun duduk.

“Cuy cuy, ada yang bawa pulpen lebih nggak?” kata Frasco diem-diem.

“Gue cuma satu bro” jawab Arvy.

“Punya gue yang satu lagi udah mati” jawab Satrio juga.

“Gue aja minjem” jawab gue.

Gue kayaknya nggak modal banget ya.

“Yah yaudah deh, moga-moga aja nggak nya-”

“Ya anak-anak, siapkan buku catatan kalian. Kita akan melanjutkan materi minggu lalu mengenai Badan Ekonomi Internasional”

“-tet…. Mati gue” kata Frasco. Dia langsung menghadap ke arah kirinya untuk meminjam pulpen.

“Gat, pinjem pulpen dah” katanya.

“Ben-”

“EH ITU NGAPAIN FRASCO! BARU MULAI UDAH NGOBROL AJA!” teriak Bu Santi menggelegar.

“Yah Bu, cuma minjem pulpen. Nih” katanya sambil menunjukkan pulpen yang baru ia pinjam.

“Kamu itu niat sekolah apa nggak?! Bawa pulpen aja nggak, gimana mau belajar?! Daripada di belakang kamu berisik mending kamu duduk di depan aja sini sama Tessa!” perintah Bu Santi yang sudah mutlak hukumnya.

“Yah tapi Bu..” Frasco mencoba menawar. Tetap saja walaupun dalam pelajaran Ekonomi ada yang namanya negoisasi harga namun kalau sudah Bu Santi, mutlak.

“CEPAT ATAU KAMU KELUAR!” teriak Bu Santi makin menjadi-jadi.

Frasco pun dengan berat hati membawa tasnya lalu berjalan ke depan kelas, duduk di sebelah Tessa yang kosong karena Ryan sakit hari ini.

“Kamu di sini sampai pulang sekolah! Siapa ketua kelas di sini?!”

Rory mengangkat tangannya, “Saya Bu!”

“Ya, kamu jaga Frasco agar tetap di sini sampai pulang sekolah. Mengerti?”

“Iya!” jawab Rory tanpa menawar.

Baru mulai dah marah-marah aja nih guru. Gila.

“Baiklah anak-anak kita lanjutkan….”

Frasco melirik ke arah kami.

Kami hanya melambaikan tangan.

Dia lalu mengangkat jari tengahnya.

Kami ketawa aja diem-diem.

***

“Anjir, cepet banget dah Bu Santi ngomong. Sat, lu dah selesai nyatetnya?” tanya gue sambil garuk-garuk kepala. Tangan gue dah mulai nggak kerasa gara-gara nyatet ngebut kayak apaan tau.

“Belom, daritadi gue udah nyerah. Gue minjem Agata aja deh entar, sekalian modus, hehe” jawabnya asal-asalan.

Siapa ya yang mungkin selesai?

Lalu gue menoleh ke kanan, Liroy kelihatannya udah selesai.

“Lir, boleh pinjem bentar catetannya?” tanya gue.

“Oh, nih” kata dia sambil memberikan buku catetannya.

Yes.

Gue ngambil bukunya dia lalu meletakkannya di atas meja gue.

“Eh emang boleh ya nulis catetan pake tinta warna biru?” tanya gue saat melihat catatannya Liroy.

“Entahlah, kalo ulangan sih nggak boleh” jawabanya.

“Iya, kalo itu gua juga dah tau” bales gue sambil menyalin catetan Ekonomi ini.

Side Quest

Sebentar, Agata sebenernya duduk di mana? (Yang memperhatikan dengan betul-betul pasti ngerti :v)

Next : Jangan Heran Pulpen Hilang – #5 Dita’s POV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s