Jangan Heran Pulpen Hilang | #3 Tessa’s POV

Previous : Jangan Heran Pulpen Hilang – #2 Dikta’s POV

(sehari sebelum hari itu…)

Tessa’s POV

“Jika arah arus listrik menuju ke sini… hmm, ya yaa… OHHH… yaaa… berarti arus medan magnet ke arah sini? Eh bukan, ke sono…” kata gue sambil mainin jari gue. Gue emang dah kebiasaan kalo belajar perlu diucapin. Makin keras makin hafal gue.

“Etdah ya… diem napa!” kata cowok di sebelah gue dengan nada keras.

“Yaaa.. maap Co, gue kalo belajar emang harus kayak gini.. hehe” bales gue sambil membentuk huruf V dengan kedua jari gue.

Dia hanya memutar bola mata.

Yaa mungkin dia lagi kesel, nggak bisa sama temen-temennya, pikir gue.

Gue lalu mengecilkan volume suara gue biar nggak ganggu ni orang.

Lagian kenapa coba nih guru ngasih ulangan hari ini? Aturan tadi gue bilang aja dah kalo hari ini bahas PR. Huft.

Gue melihat jam tangan gue, 5 menit lagi ulangan dimulai. Gue langsung ngebut bacanya. Apalagi materi ini bukan hanya hafalan tapi juga harus pake pemahaman.

Fisika gitu loh.

“Emm.. Tess..” katanya lembut, nggak kayak tadi.

“Apa?” bales gue. Bagus deh dia udah nggak marah. Nggak enak banget jadinya gue kalo dia marah.

“Nomer 5 halaman 76 jawabannya apaan?” tanyanya.

Gue lalu membalikkan beberapa halaman buku paket gue.

“Lo belom kelar latihan soalnya? Kan ini PR” kata gue.

“Semua udah gue kerjain, tapi ya soal itu doang sih yang belom. Nggak ada yang tau lagian, kebanyakan ngasal” jawabnya.

Gue melihat soal itu.

Ahh, soal kumparan listrik di magnet sementara. 

“C, jawabannya. Utaranya yang di sebelah kanan” jawab gue.

“Caranya emang gi-”

“Iya anak-anak, sekarang tutup bukunya kemudian keluarkan kertas ulangan” kata Pak Farhan sambil mulai membagikan soal.

Mampus.

“Yaa pokoknya gitu dehhh.. Udah yaa, maaf” kata gue buru-buru.

Dia kelihatan kecewa. Dia menutup buku paketnya lalu menaruhnya ke dalam tas.

“Sorry ya, Co… Dah mulai ulangannya” kata gue berharap dia nggak marah untuk kedua kalinya.

“Iya, gapapa kok. Semoga aja soalnya nggak keluar” katanya sambil menghadap ke belakang, seperti ingin meminjam sesuatu.

Gue lalu mengeluarkan kertas ulangan gue dari dalem tas lalu mengambil pulpen gue dari dalem kantong cela-

Et? Pulpen gue mana ya?

Gue memasukkan tangan gue ke dalam kantong celana yang kiri. Nggak ada. Yang kanan, juga nggak ada. Kantong baju? Nggak ada juga.

Yah elah, kenapa ilangnya nggak tau waktu sih?

Karena mencari di dalem tas akan membutuhkan waktu lama maka gue mencoba meminjam pulpen dari Frasco.

“Co, ada pulpen lagi nggak?” tanya gue penuh harap.

“Yah, nggak ada. Cuma satu. Itu pun minjem” katanya sambil mulai menuliskan identitasnya di kolom pada kertas ulangan.

Gue melihat Dita di kanan meja gue, dia sudah mulai menulis pada kertas ulangannya.

Ck, satu-satunya cara cuma minjem dari Agata. Huh.

Gue lalu menghadap ke belakang untuk bertanya pada Agata, “Oi Gat, ada pulpen nggak?” kata gue dengan sangat malas.

“Oh, ada kok Tes” katanya sambil membuka tempat pensilnya.

Gue sebenernya agak nggak suka sama Agata. Bukan karena ada masalah apa-apa. Dia baik, walaupun agak cengeng, cakep lagi. Nah cakepnya itu yang bikin gue kesel. Sampe-sampe Satrio suka sama dia.

Satrio adalah mantan gue sampe akhirnya dia mutusin gue beberapa bulan yang lalu tanpa sebab yang jelas. Sangat kelihatan dia berusaha mendekati Agata namun ditolaknya. Itu yang menjadikan alesan gue nggak suka, bukan.. iri sama Agata. Untungnya Agata nggak tau kalo gue iri sama dia. Bagus lah.

“Nih Tes” katanya sambil memberikan gue sebuah pulpen.

“Oke, nanti gue kembaliin” bales gue sambil menghadap ke depan kelas.

Gue mulai menuliskan identitas gue pada kolom yang tersedia di kertas ulangan sambil menunggu kertas soal dibagikan oleh Pak Farhan.

“Makasih, Pak” kata gue saat Pak Farhan meletakkan kertas soal di meja gue yang selanjutnya dia balas dengan senyuman.

“Ingat, setengah 2 selesai!” teriak Pak Farhan sambil berjalan lagi.

Gue melihat ke jam tangan gue. Berarti gue punya waktu 70 menit lagi sebelum bel pulang.

Side Quest

Pukul berapakah pelajaran Fisika seharusnya dimulai jika menurut jadwal?

Next : Jangan Heran Pulpen Hilang – #4 Riki’s POV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s