Jangan Heran Pulpen Hilang | #2 Dikta’s POV

Previous : Jangan Heran Pulpen Hilang – #1 Author’s POV

Gue mau mengingatkan bahwa lo harus mengikuti setiap POV semua orang yang ada dalam cerita ini. Semua POV ini memiliki hubungan satu sama lain.

Jika kalian dah baca betul-betul Author’s POV sebelumnya maka kalian akan menyadari bahwa pulpen kesukaan Agata memiliki tabung tinta berwarna pelangi namun jika dilihat dari luar akan tampak sama seperti pulpen lain. Ingat! Bahwa merk pulpen-pulpen yang ada di cerita ini memilki karakteristik sangat mirip sehingga tokoh tidak bisa membedakan antara satu merk pulpen dengan merk yang lain.

(sehari sebelum hari itu…)

Dikta’s POV

“Teeee….riiii…maaa…kaaa..siihhhh, Buuuuuuuuuu!!!”

“Iya, sama-sama. Jangan lupa kerjakan PR kalian!” sahut Bu Santi seraya keluar dari ruang kelas.

Akhirnya selesai juga Ekonomi. Huft. Ngantuk banget.

“Cuy, lu Fisika dah ngerjain PR?” tanya Rio yang duduk di sebelah gue.

“Udeh, ambil aja di tas gue kalo mau nyontek. Gue mau tidur bentar dulu” jawab gue males banget. Rasanya kalo dah siang tuh bawaannya pengen tidur. Enak gitu rasanya.

“Sip, Bro” kata Rio sambil ngorak-ngarik tas gue. Dia emang dah kebiasaan nggak ngerjain PR. Ya gini-gini walaupun gue sering tidur di kelas tapi kalo urusan PR ya gue tetep ngerjain. Emak gue galak, coy.

“Ngomong-ngomong, lu dah ngucapin si Diah? Dia kan ultah hari ini” kata Rio memulai pembicaraan.

“Belom. Males jalan gue” jawab gue males.

“Yaelah bro. Dia kan jaraknya cuma dua meja di belakang lo. Kayaknya lu ma-”

“WEY DI, HAPPY BIRTHDAY YA!”

“IYA DIK. MAKASIH!”

“Noh selesai” kata gue ke Rio sambil naroh kepala gue di atas meja.

“Kayaknya lo emang males jalan ya? Wkwkwk” Rio malah ketawa.

Gue hanya tersenyum. Gue emang tipe paling males di sekolah. Tapi gue nggak males-males amat kalo di rumah.

Meja rasanya enakk banget.

Gue ngeliat jam kelas.. udah 5 menit Pak Farhan telat. Entah tuh guru lagi ngapain ato emang dah lupa kelas gue di mana.

Ah sudahlah, yang penting gue bisa tidur dengan te-

“WOY WOY PAK FARHAN DATENG!” teriak si ketua kelas, Rory. Otomatis semua anak-anak langsung duduk di kursinya masing-masing.

Yah, Pak Farhan dateng. Kelar dah tidur gua.

“Sip, pas banget gue selesai. Thanks ya Dik!” kata Rio sambil menyerahkan buku latihan gue yang gue jawab dengan anggukan.

“Berdiri! Beri salam!” teriak Rory.

“Seee…laaaa…maaattt…siii..annggg, Pakkkkk!”

“Siang, anak-anak. Sudah siap untuk ulangan?”

HAH?! ULANGAN?!

“Lah, Pak. Emang jadwal kita ulangan hari ini?” teriak Maya, cewek paling berisik dikelas.

“Bukannya iya?” kata Pak Farhan sambil melihat buku catatannya.

Seisi kelas langsung berdiskusi nggak jelas. Ada yang mengutuk Pak Farhan ada pula yang santai-santai aja.

Anjir, ulangan?! Mati gue. Gue nggak belajar lagi. Moga-moga si Arvy ora belajar. Nggak sudi nilai gue lebih rendah dari dia!

“Hmm.. jadi seharusnya hari ini ngapain?” kata Pak Farhan malah balik nanya ke murid. Gurunya siapa sih sebenernya?

Nggak ada yang jawab. Jelas lah. Hari ini seharusnya ngumpulin PR dan bakal dibahas sendiri sama Pak Farhan. Tentu aja pada nggak jawab karena pasti banyak yang nggak ngerjain.

“Yasudah, karena tidak ada yang tau maka saya putuskan hari ini ulangan. Belajarlah 15 menit bab 5 tentang Kemagnetan”

Mati gue udah. Gini nih kalo punya guru dah tua. Hadeh.

Gue langsung mengambil buku paket Fisika kelas 9 dari dalam tas gue dan mulai membaca. Keasikan baca gue sampe lupa kalo gue lupa bawa pulpen.

“Iya anak-anak, sekarang tutup bukunya kemudian keluarkan kertas ulangan” kata Pak Farhan sambil mulai membagikan soal.

Gue pun berinisiatif meminjam pulpen.

“Rio, bawa pulpen nggak?” tanya gue.

“Cuma satu sih. Pinjem si Agata coba”

Iya ya, dia kan punya banyak pulpen.

“Gat, pinjem pulpen dong. Apa aja” kata gue ke Agata, yang duduknya tepat di samping kiri meja gue.

“Ohh, ini” katanya sambil memberikan sebuah pulpen.

“Thanks ya” kata gue. Dia emang baik ceweknya. Cakep lagi. Pantes aja Satrio suka sama dia.

“Lu berhutang gue sekali jadi sekarang lu harus bantuin gue, oke?” kata gue ke Rio yang tadi nyalin PR gue.

“Iye, dia ikutan juga kan?” tanyanya.

“Iye, woles” jawab gue singkat.

Gue ngerjain soal-soal Fisika ini dengan semampu gue, berharap Arvy nggak bisa ngerjain soal ini. Bodo amat kek kenapa, mau diare kek atau tiba-tiba jempolnya keram, yang penting nilai gue nggak boleh di bawah nilai dia.

Ora sudi!

Et, saking cepetnya gue nulis, pulpennya jatoh.

Mana jatohnya ke belakang lagi.

Gue menunduk dan melihat ke bawah. Ada dua pulpen di situ.

“Eh sorry, Dik. Punya gue… yang mana ya?” tanya Yohana yang duduknya di belakang gue.

Merknya sama lagi. Siake dah.

“Lu Faster yang mana?” tanya gue.

“Mana gue tau. Sama aja sih lagian. Ambil aja ngacak” katanya.

“Masalahnya gue minjem” jawab gue.

“Dasar cowok nggak modal. Coba liat tintanya” kata dia sinis.

Gue langsung mengambil kedua pulpen tersebut lalu membukanya.

“Oh, yang penuh punya gua” kata gua sambil memberikan pulpen yang satunya ke Yohana.

“Oke, thanks” jawabnya.

Gue pun melanjutkan mengerjakan soal sampai waktu selesai.

Side Quest

Kok bisa Dikta mengambil pulpen yang benar?

Next : Jangan Heran Pulpen Hilang – #3 Tessa’s POV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s