Jangan Heran Pulpen Hilang | #1 Author’s POV

Hey, gue punya sebuah riddle atau cerita teka-teki yang bakal gue post beberapa part di blog ini. Cerita ini adalah yang pertama kali jadi sabar aja ya :p

Pertanyaan utamanya adalah di siapa/mana kah pulpen kesukaan Agata berada dan gimana ceritanya kok bisa nyampe situ?

Selain dua pertanyaan itu, di setiap bagian ada pula pertanyaan lain yang bisa lu jawab atau side quest, bahasa kerennya. Jawaban dari side quest ini tidak hanya dari bagian itu saja namun harus berdasarkan analisa dari bagian-bagian lain pula.

Riddle ini membutuhkan kemampuan analisis yang kuat. Karena terdiri dari beberapa part maka jika lo tertantang untuk memecahkan riddle ini, gue saranin siapin kertas dan alat tulis entah apa. Tulis apapun yang menurut lo bisa jadi petunjuk: karateristik tokoh, peristiwa, dll.

Kalimat atau kata yang gue cetak miring berarti adalah perkataan tokoh dalam hati atau pikiran tokoh yang nggak dia sebutkan secara lugas.

Mulai aja ya…

Author’s POV (Point of View/Sudut Pandang)

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” teriak seorang perempuan remaja di dalam kelas yang sukses membuat semua mata tertuju padanya.

“Etdah Gat! Nggak usah teriak juga bisa kali!” kata Tasya yang duduk di sebelahnya. Dia mengusap-usap telinga kanannya yang pasti kesakitan setelah dihantam gelombang ultrasonik dalam jarak dekat.

“Iniiii…. pulpen gue….” kata Agata sendu.

“Wey, pulpen lo kenapa? Ilang?” tanya Liroy yang duduk di belakang mereka dengan penasaran.

“Iya….” kata Agata sambil menundukkan kepalanya.

“Yailah. Gue kira kenapa ampe teriak-teriak begitu” kata Tasya memasang muka-bodo-amat.

“Bener noh, kalo lo tiba-tiba positif ngisep ganja baru dah boleh teriak” kata Liroy sambil tersenyum jahat.

“Tapi kan… ini pulpen kesukaan gue….”

“Ohh, yang tabung tintanya warna-warni itu?” tanya Tasya.

Pulpen kesukaan Agata memiliki satu karakteristik spesial yakni tabung tinta yang berwarna-warni seperti pelangi. Walaupun luarnya sama seperti pulpen pada umumnya. Dan karena berwarna itu lah tinta di dalam tabung itu tidak kelihatan. Biasanya kan tabung pulpen tuh transparan sehingga dapat terlihat tintanya, ini nggak.

Lagi yang bikin pulpen ada-ada aja, gumam Tasya.

“Iya… itu kan pemberian ibu gue sebelum dia meninggal….” ucap Agata sambil ingin menangis.

“Yahyahyahyah, jangan nangis do- Et, malah nangis” kata Liroy.

Agata yang mulai terisak langsung dipeluk oleh Tasya yang walaupun kesel namun tetep peduli sama Agata.

“Gue… gue nggak bisa jaga hadiah ib-”

“WEY MINGGIR LO SEMUAAAAAAA!” teriak Satrio sambil ngibasin ikat pinggang ke seluruh penjuru kelas, disusul oleh dua sohibnya, Riki dan Arvy.

Yah, si kampret dateng di waktu yang nggak bener, gumam Tasya.

Satrio langsung menghampiri Agata. “Kamu, nggak pa-pa kan?” tanya Satrio memasang muka penuh belas kasihan.

Agata masih terisak, diam seribu bahasa.

“Gat, aku di sini ko-”

“Oi, udahlah. Dia lagi nangis. Lu dateng malah tambah nangis dia” kata Liroy berusaha menjauhkan Agata dari pengaruh ‘jahat’ Satrio.

“Ya gue kan cuma mau nanya, Lir” kata Satrio sambil mundur ke belakang, menjauhkan diri dari Agata.

“Ngomong-ngomong, emang kenapa si?” tanya Riki sambil melipat tangannya.

“Itu.. pulpennya dia ilang” jawab Liroy tenang.

“Astaga gue kira kenapa. Pulpen kan bisa dibeli lagi. Murah juga di koperasi sekolah” kata Arvy ikut-ikutan.

“Ya, pulpennya yang ini pemberian ibunya sebelum dia meninggal”

Arvy, Riki dan Satrio pun terdiam.

“Woles aja Gat. Entar gue bantu nyarinya” tiba-tiba sang ketua kelas 9C, Rory, duduk di samping Liroy.

“E-emang…. lu tau… di mana pulpen gue?” tanya Agata masih terisak.

“Gue bilang kan cuma bantu nyari, bukan berarti gue tau”

“WUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Agata makin menjadi.

“ETDAH ELO. MENDING LO GAUSAH NGOMONG DAH AH!” teriak Tasya sambil memeluk Agata erat-erat.

“Ya kan gue sebagai ketua kelas yang baik hanya menawarkan pelayanan terbaik untuk para anggotanya” jelas Rory kayak kampanye.

“Hehe… pelayanan…..” Arvy malah mikir yang nggak-nggak.

“Gini aja. Ini kan baru masuk sekolah, nggak mungkin pulpennya Agata tiba-tiba ilang gitu aja. Gue rasa ilangnya pasti kemaren” tutur Rory.

“Oh iya, kemarin kan banyak yang minjem alat tulisnya Agata” kata Riki. “Nggak modal emang”

“Lo bukannya juga minjem, tong?” tanya Satrio.

“Ohya” jawab Riki langsung diem.

“Yaa, diliat-liat juga ada benernya. Agata kan kotak pensilnya penuh banget sama pulpen-pulpen. Tapi yang dia pake cuma pulpen tabung tinta warna-warni itu” kata Tasya yang tau benar barang-barangnya Agata karena mereka duduk semeja.

“Mungkin di antara orang yang minjem, belum ada yang ngembaliin kali” kata Liroy membuat hipotesis.

“Dia nggak pernah minjemin pulpen kesukaannya itu Roy” jawab Tasya.

“Untuk amannya kita tanya aja. Gat, lu merasa pernah minjemin seseorang pulpen kesukaan lo itu nggak?” tanya Satrio.

Agata yang sudah mereda isakannya menjawab, “Gue… lupa… Lagian luarnya sama aja sih, gua nggak pernah ngasih tanda gitu”

Mereka semua langsung menepok jidat mereka masing-masing.

“Lo pinter tapi pe’a. Gimana coba?” kata Riki penuh sarkasme.

“Ya kan udah kemaren, gue gampang banget lupa sesuatu yang kecil. Lagian kan kemarin banyak tuh yang minjem pulpen gue jadi ya gue lupa siapa aja yang gue pinjemin” kata Agata berusaha membela dirinya sendiri.

“Gini aja, lu inget nggak siapa aja yang pernah lo pinjemin pulpen?” tanya Rory berusaha menarik informasi.

“Hmm.. Gue ingetnya, elo Rik. Terus, si Tessa. Hmmm.. siapa lagi ya? Ohya, Yohana, Frasco sama Dikta. Eh, gue nggak tau deh Frasco sama Yohana minjem apa kagak. Kayaknya Elis sama Bram juga minjem. Eh.. Ah tau ah gue lupa!” Agata kesel sendiri.

“Hm, banyak yang harus kita selidiki. Perkiraan gue yang paling gue yakin tuh lu nggak sengaja minjemin pulpen kesukaan lo ke orang lain. Lo kan orangnya ceroboh noh ya jadi gitu. Dan orang itu nggak atau lupa ngembaliin ke elu ” kata Satrio mencoba menarik hipotesis.

“Lo ngembaliin nggak, Rik? Jangan-jangan pulpen kesukaannya Agata kemarin di elo lagi” tanya Arvy penuh curiga.

“Eh, gue ngembaliin ye. Gue inget kalo gue dipinjemin pulpen item merk Standard. Gue aja nggak tau pulpen kesukaannya Agata yang mana. Coba aja cek” jawab Riki.

Agata lalu mengecek ke dalam kotak pensilnya. Kemudian menarik tabung tintanya.

“Iya lo ngembaliin tapi bukan ini pulpen kesukaan gue”

“Nohkan, nggak usah nuduh gue deh..” kata Riki ke Arvy.

“Ya siapa tau” balas Arvy.

“Kalo gitu, kita musti tanyain satu-satu mereka yang minjem pulpennya Agata kemarin. Lo seharusnya punya berapa pulpen, Gat?” tanya Rory mencoba untuk mengambil kesimpulan.

Agata mengangguk, lalu mengambil secarik kertas dari dalam kotak pensilnya dan memberikannya pada Rory.

Rory dan Liroy lalu membacanya bersama-sama.

“Dua pulpen Faster, yang satu hitam yang satu biru, dua pulpen Standard hitam, dua pulpen Pilot, hitam dua-duanya, pulpen multiwarna dan pulpen pemberian ibu” kata mereka.

(Jangan samakan merk pulpen tersebut dengan merk pulpen di dunia nyata. Gue cuma make nama ini gara-gara males mikir nama lain)

“Rajin ya lo sampe punya daftar inventarisnya gitu” komentar Riki.

“Hmm, semuanya ada?” tanya Rory lebih lanjut.

“Hm, gua belum ngecek lagi sih, bent-”

“ANAK-ANAK! KALIAN TIDAK BERBARIS DI DEPAN? TIDAK DENGAR BEL?!” teriak seorang guru.

Mereka ternyata terlalu asik membahas tentang masalah Agata sampe-sampe mereka tidak mendengar bel. Maklum, ruang kelas mereka ada di ujung koridor sedangkan bel terletak agak jauh.

“ET?! Udah bel?!” Riki panik.

“Anjir gue nggak denger” kata Arvy.

“Ayo dah cepet! Mana gue ketua kelas lagi, kita bahas nanti lagi ya Gat” kata Rory buru-buru sambil berlari ke luar kelas.

Kayaknya ada yang ilang juga deh, gumam Agata sambil mengikuti Tasya keluar.

Next : Jangan Heran Pulpen Hilang – #2 Dikta’s POV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s