How I Study – Belajar dengan Strategi!

Ulangan dan ujian.

Setali tiga uang. Sama saja.

Ulangan dan ujian merupakan dua hal yang mirip yang tidak pernah bisa kita hindari sebagai pelajar. Ulangan dan ujian merupakan ‘ajang’ pembuktian hasil belajar kita selama kurun waktu tertentu.

Dan persiapan ulangan serta ujian itu lah yang kadang membuat pelajar penet kepala.

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam belajar. Sama halnya dengan gue. Gue memiliki cara belajar  sendiri yang berbeda dari temen-temen gue dan cara belajar ini lah yang membuat gue bisa mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan buat gue.

What’s the important things for me?

Pertama, banyak pelajar yang menganggap belajar adalah beban hidup. Walaupun merupakan kewajiban tetapi tetap saja, beban hidup ya beban hidup. Jangan dianggap remeh ini beban hidup!

Dalam tuas, ada yang dinamakan beban (W) dan kuasa (F). In order to lift the beban, kita harus punya cukup kuasa. Kalo kita nggak punya kuasa yang cukup maka beban kita nggak akan terangkat. Lebih parahnya, jika kuasanya kita hilangkan alias nyerah maka beban itu selamanya tidak akan terangkat dan yap.. lebih parah lagi.

Nah untuk menghilangkan atau minimal, meringankan, beban hidup tersebut, ada tiga cara. Entah kita menambah kuasa, mengurangi beban atau menggeser titik tumpu.

Menambah kuasa berarti menambah orang-orang yang ikut untuk mengangkat beban. Artinya, ‘beban’ belajar itu nggak hanya melulu kita sendiri yang perlu mengangkat. Ya iya kalo pelajarannya gampang, lah kalo susah? ‘Beban’ nambah kan? Cara menambah kuasa tersebut adalah mengikutsertakan orang lain dalam usaha ‘mengangkat beban’, atau.. bertanya kepada orang lain, meminta bantuan orang lain, dll. Dengan begitu, orang lain tersebut telah membantu kita ‘mengangkat beban belajar’.

Mengurangi beban berarti mengurangi materi pelajaran yang harus dipelajarin. Caranya? Kalo materi ulangan tuh 12 halaman maka lo harus pinter-pinter ngeringkas atau ngerangkum yang penting-penting doang. Dari 12 halaman ternyata yang penting cuma 6 halaman yang perlu dipelajarin. Berkurang kan ‘beban belajar’-nya?

Menggeser titik tumpu gue asumsikan dengan merubah standar hasil. Maksudnya begini. Lo belajar karna lo mau ngejar tujuan nilai kan? Katakanlah lu belajar biar nilai lu minimal 85. Tiba-tiba lu menganggap kemampuan lo cuma sampe 80. Nah itu dia yang namanya menggeser titik tumpu, geserlah standar kalian menjadi lebih rendah. Misalnya, besok ulangan Biologi tentang Pewarisan Sifat. Diliat-liat, njir susah banget. Padahal bab sebelumnya gampang-gampang aja. Bab sebelumnya lu mau ngejar nilai 90 tapi karena bab ini susah jadi ngejar 85 aja. Jadi beban plus tanggungjawab lo untuk meraih tujuan nilai itu akan menjadi lebih ringan.

Namun cara terakhir ini nggak gue rekomendasikan karena akan membuat lu menjadi mudah menyerah. Soalnya susah langsung turun standar, nggak ada usaha sama sekali untuk mengejar standar nilai yang pengen lo kejar sebelum-sebelumnya. Namun karena ini lagi ngomongin cara meringankan ‘beban belajar’ maka yaaa… gue masukkin aja, hehe. Not recommended.

Kedua, adalah rasa persaingan yang tinggi. Gue goldarnya O dan menurut informasi dari Internet, orang dengan goldar O memiliki rasa persaingan yang kuat dan tidak mau kalah dari orang lain. Itu gue banget. Rasa persaingan dan tidak mau kalah itu lah yang memotivasi gue untuk belajar agar bisa ngalahin saingan gue.

Dalam otak gue, gue sudah punya daftar nama anak di kelas gue yang harus dikalahin. Ada dua daftar, daftar prioritas utama dan daftar berbahaya. Orang-orang yang termasuk dalam daftar prioritas utama adalah orang-orang yang gue anggep bener-bener menjadi ‘musuh’ dan harus dikalahkan karena kemampuannya yang melebihi gue atau sama dengan gue. Sedangkan daftar berbahaya berisi orang-orang yang pinter di kelas gue yang harus diperhatikan namun tidak menjadi prioritas utama untuk dikalahkan. Orang-orang di daftar berbahaya ini nggak selalu ngalahin gue dalam setiap pelajaran namun mereka bisa sangat hebat dalam satu atau dua pelajaran.

Cara menggeser titik tumpu bisa direalisasikan dalam hal yang kedua ini. Standar yang digunakan adalah, nilai lawan lu, bukan KKM ataupun nilai tertentu seperti 90 atau 95. Nilai lawan lu lah standar lu.

Ketiga dan adalah lanjutan dari yang pertama adalah menjadikan belajar sebagai suatu kebutuhan, bukan kewajiban. Beda ya beda. Kebutuhan tuh sesuatu yang bener-bener harus kita penuhi dan kewajiban tuh sesuatu yang wajib kita lakukan. Konteksnya beda kan? Walaupun kebutuhan dan kewajiban sama-sama bisa dalam keadaan ‘terpaksa’ tapi… emm.. gini… uhh.. aduh susah..

Gini aja deh, perhatikan dua kalimat aktif berikut:

1. Saya wajib belajar untuk ulangan besok.

2. Saya butuh belajar untuk ulangan besok.

Enakkan mana? Lebih terpaksa yang mana?

Atau gini aja, kita gabung dengan cara kedua tadi:

1. Untuk mengalahkan Mawar, saya wajib belajar.

2. Untuk mengalahkan Mawar, saya butuh belajar.

Lebih keliatan kan perbedaannya kalo ditambah dengan motivasi? Nah karena itulah, dari pertama sampai ketiga ini harus saling berkaitan dan tidak boleh ilang atu. Ketika lo menganggap sesuatu sebagai suatu kebutuhan daripada suatu kewajiban maka ‘beban’ yang lo tanggung seakan-akan berkurang karena ini adalah kebutuhan lo.

How do I study?

Bukan mau bermaksud sombong tapi gue pernah dapet pertanyaan kayak gini beberapa kali dan selalu aja… gue bingung mau jawab apa. Gue bukanlah tipe orang yang belajar tekun dan giat, bangun pagi jam 4 buat belajar walaupun nggak ada ulangan atau menghabiskan waktu 2 jam baca buku.

Yap, gue bukan orang yang tekun.

Tapi orang tetep aja bingung kenapa gue bisa bersaing atau istilahnya, selevel, dengan orang lain yang belajarnya tekun. Gue nggak pernah nganggep diri gue sendiri sebagai seorang jenius yang sekali baca langsung apal. Nope. Gue sama kayak yang lain tapi mungkin.. gue punya cara tersendiri.

Strategi dalam belajar.

1. Best time to study

Dalam satu hari, ada waktu-waktu tertentu di mana otak kita akan bekerja secara maksimal sehingga menyerap informasi pun bisa menjadi cepat dan tahan lama. Nah, waktu tersebut, menurut gue, bisa beda-beda setiap orang. Ada orang yang otaknya bekerja secara maksimal di malam hari, ada pula yang pagi hari.

Malam hari karena didukung oleh sepinya… gelapnya… heningnya malam sehingga membantu orang untuk belajar. SKS atau Sistem Kebut Semalem adalah cara yang jitu untuk orang-orang yang otaknya bekerja maksimal pada malam hari.

Sore hari merupakan waktu paling jitu untuk me-review ulang informasi yang telah kita terima sebelumnya. Nah, kenapa kita sekolah di pagi hari? Bukan di siang atau sore hari?

Saat kita bangun tidur, itulah saat di mana otak kita (kalo berdasarkan pengalaman gue sih) bener-bener relax setelah mengistirahatkan tubuh kita selama kurang lebih 8 jam. Nah, otak kita udah nggak penet lagi. Itu lah kenapa tidur bisa menenangkan hati orang. Saat otak udah nggak penet, otak siap untuk menerima berbagai informasi baru.

Jadi, pagi hari adalah waktu terbaik untuk belajar, alias memberi informasi baru atau sekedar menghafal materi. Dan pada waktu ini lah gue biasanya belajar (jam 4 pagi). Namun karena kebanyakan orang jarang banget yang bisa bangun pagi jadi ya banyak orang juga yang kebiasaan belajar malem.

2. Always pay attention in class

Ketika kita bener-bener memperhatikan sungguh apa aja informasi yang kita dapet saat itu juga maka daya ingat akan bekerja lebih efektif. Kalian jadi lebih bisa memahami karena selalu memperhatikan. Nah ini juga gue (walaupun nggak sepenuhnya bener sih).

Karena ini lah, walaupun gue nggak belajar, gue tetep bisa dapet nilai yang lumayan, minimal sih di atas KKM.. karena informasi yang gue terima saat gue memperhatikan bener-bener udah terekam jelas. Kebutuhan belajar gue udah keisi 75%, nah sisanya tinggal belajar di rumah.

Intinya, belajar di sekolah dah cukup kalo kalian bisa memperhatikan bener-bener.

3. Stay connected

Belajar nggak melulu harus mantengin buku. Ada saatnya ketika lo dapet soal dan nggak tau jawabannya. Inilah salah satu keuntungan memiliki banyak teman: nanya jawaban atau cara. Ini juga gue banget.

Satu pengalaman gue ketika gue menghadapi Ulangan Akhir Semester (UAS). Dari sekian pelajaran, gue lemah di Matematika. Maksud kata lemah di sini adalah nilainya paling rendah. Jadi saat gue IPS bisa dapet 90 ke atas, nilai Matematika gue hanya dapet 80. Saat Ulangan Tengah Semester (UTS) yang lalu, nilai Matematika gue 86. Jelas, buat gue itu nggak cukup. Saingan prioritas utama gue bisa dapet 92, bahkan orang-orang yang nggak gue masukkin di Daftar Berbahaya pun bisa dapet 96. Gue kecewa dengan nilai gue sendiri (yap, kalo rasa persaingan lo tinggi, lo pasti bisa ngerasain hal ini).

Gue bergabung dengan grup LINE se-angkatan gue. Gue nggak les Matematika sehingga gue belajar dari buku apa adanya: catetan, paket. Ngerjain soal? Gue terlalu malas untuk itu (Not recommended). Dan lo tau apa? Selama 1 jam belajar, hampir 3 per 4-nya gue pake buat mantengin grup LINE angkatan gue itu. Segala macam rumus dan teori udah gue afalin sendiri tapi kalo buat soal penerapannya, gue belum siap.

Banyak temen gue yang les Matematika dan mereka saat itu sedang membahas satu demi satu soal Matematika yang mereka dapet dari les, ataupun dari sekolah. Nah itu tuh. Gue pantengin bener-bener tuh pembahasan mereka. Gue cuma jadi silent reader. Sesekali gue membalas dengan pertanyaan-pertanyaan yang gue nggak ngerti atau cara yang mereka gunakan terlalu ribet.

Dari itu, banyak soal Matematika yang gue nggak bisa, jadi tau jawabannya. Dan lu tau apa? Gue dapet nilai maksimal di UAS Matematika, cepek. CEPEK DI UAS MATEMATIKA. Gue nggak bermaksud sombong, tapi buat gue yang rasa persaingannya begitu tinggi, inilah suatu pencapaian yang luar biasa. Bisa menjadi peringkat pertama dari murid seangkatan 😀

Thank you, angkatan!

4. Trik menghafal ala gue

Sebutkan mata pelajaran yang memerlukan daya ingat yang luar biasa!

Geografi, Sejarah, PKN, Agama, Biologi, Fisika, dan lain sebagainya.

First Student’s Problem: Ngafal.

Nggak semua anak memiliki kemampuan untuk menghafal kesekian banyak materi. Banyak cara dilalui, salah satunya yaitu meringkas hal-hal yang dianggap perlu. Ini salah satu cara gue untuk belajar lebih baik.

Simulasi Soal #1: Prediksi Soal

Materi: Contoh Unsur dalam Tabel Periodik Unsur

Table Periodik Kimia

Indikator Soal: Disajikan Nama suatu unsur, siswa dapat menyebutkan Lambang, Massa Atom dan Nomor Atom dari empat baris pertama

Oke, ini soal yang gue ambil dari dunia nyata. Soal ulangan Fisika gue waktu kelas 7 (atau 8 gue lupa). LIHAT BETAPA BANYAKNYA UNSUR YANG HARUS DIHAFAL SAUDARA-SAUDARA. ADA 36 UNSUR. Kita harus tau Nama, Lambang, Massa Atom dan Nomor Atom sekaligus sehingga 36 x 4 =  144. 144 HAL YANG PERLU DIHAFAL. MAMEN.

Dan gue, hoho, tentunya nggak bisa ngehafal segitu banyaknya jadi gue berusaha memprediksi soal yang akan keluar. Gue mulai berpikir selayaknya gue adalah guru yang memberi soal. Jika guru itu rasional maka dia tidak mungkin memaksa anak didiknya untuk menghafal segitu banyaknya. Maka gue, mulai menebak-nebak unsur mana yang akan dijadikan soal.

Gue berpikir jika gue adalah sang guru maka gue mau memberikan soal semudah-mudahnya biar anak didik gue bisa bagus nilainya. Jika gue liat ke-36 unsur itu maka gue berusaha mikir mana unsur yang memiliki probabilitas yang besar untuk keluar sebab terlalu banyak unsur untuk dihafal.

Maka gue mulai dengan menghafal unsur yang PALING BANYAK DIKENAL oleh murid. Inilah satu-satunya cara bagi sang guru untuk mempermudah soal. Bagi gue, sebagian unsur tersebut udah gue kenal sehingga gue nggak bisa pake standar otak gue sendiri untuk dapat memprediksi soal. Maka gue berpikir jika gue adalah anak-mempunyai-daya-ingat-terburuk-di-kelas. Kira-kira, apa yang dia bakal inget? Kira-kira, apa yang dia kenal?

Namun gue pikir, sang guru tentunya nggak akan memberikan soal yang mudah semua. Minimal ada satu soal yang levelnya lebih tinggi daripada soal yang lain. Maka gue berpikir sebagai anak-yang-sedeng-sedeng-aja. Begitu terus prosesnya sampai gue bisa menemukan prediksi soal yang keluar.

Hidrogen, Helium, Nitrogen, Carbon, Ferrum, Natrium, Magnesium, Phosporus, Clorin, Calsium, Cuprum dan Zinc. Itu prediksi soal gue. Dan sejak itu, belajar gue terfokus untuk prediksi soal-soal tersebut. Jika gue sudah menghafal betul unsur-unsur tersebut maka gue bisa belajar unsur-unsur yang lain.

Untuk gue, proses-yang-kelihatannya-lama-sekali-ini tidak memakan waktu yang lama. Gue hanya butuh pemahaman temen-temen dan guru gue serta kemampuan mengambil tingkat probabilitas yang handal.

Simulasi Soal #2: Persamaan

Materi: Negara-Negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Barat

Arab Saudi, Irak, Yaman, Iran, Turki, Afghanistan, Oman, Suriah, Uzbekistan, Yordania, Israel, Turkmenistan, Palestina, Kuwait, Qatar, Siprus, Lebanon, Bahrain, Uni Emirat Arab, Azerbaijan, Kirgistan dan Tajikistan

Indikator Soal: Menyebutkan negara-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Barat

Ada 22 negara di dalam materi dan tentu saja, menghafalnya butuh waktu lama, bahkan nggak bisa afal sama sekali. Untuk itulah, cara simulasi soal pertama tadi dapat diwujudkan dalam bentuk soal seperti ini.

Jika gue membayangkan sebagai gurunya, gue bakal mikir kalo nggak semua anak didik gue bisa ngehafal ke-22 negara ini. Pernahkah anda berpikir, “Mungkin nggak sih nih guru saking kejamnya bakal nyuruh kita nyebutin 22 negara sekaligus?” Nah itu lah kuncinya.

Guru pun tau kemampuan setiap murid masing-masing berbeda. Ada murid yang bisa menghafal semuanya namun ada murid yang hanya bisa menghafal 5. Nah guru tersebut nggak akan mungkin ngasih soal, “Sebutkan SEMUA negara di kawasan Asia Barat dan Asia Tengah!”. Nggak mungkin gue berani taruh. Guru pasti akan menetapkan jumlah minimal seperti, “Sebutkan minimal 7 negara di kawasan Asia Barat dan Asia Tengah!”.

Karena itulah, kita nggak perlu NGEHAFAL semuanya. Malah bikin otak penet serius. Mending, kita ngehafal hanya beberapa. Prediksikan jumlah minimal negara yang akan ditetapkan oleh gurumu.

Nah, untuk kasus soal yang di atas. Gue punya cara tersendiri untuk bisa ngehafal hampir semuanya!

Perhatikan, dalam ke-22 negara tersebut dapat kita kategorikan menurut persamaan masing-masing. Gue akan menghafal mereka berdasarkan kategori persamaan.

i. Afghanistan, Turkmenistan, Kirgistan, Tajikistan, Azerbaijan, Uzbekistan

ii. Arab Saudi, Uni Emirat Arab

iii. Irak, Iran

iv. Yaman, Oman

v. Lebanon, Bahrain

vi. Israel, Palestina, Suriah

vii. Turki, Qatar, Siprus, Kuwait, Yordania

Kategori i adalah negara-negara yang memiliki akhiran -stan, kecuali Azerbaijan (tapi karena pengucapannya hampir-hampir sama jadi gue masukkin)

Kategori ii adalah negara-negara yang memiliki kata “Arab” dalam nama negaranya

Kategori iii adalah dua negara yang mirip tapi tak sama namanya

Kategori iv adalah dua negara yang memiliki akhiran -an

Kategori v adalah dua negara yang ada “Ba” dalam nama negaranya

Kategori vi adalah negara-negara yang lagi konflik dan terkenal di berita

Kategori vii adalah negara-negara yang (menurut gue) tidak memiliki kesamaan khusus dengan negara-negara lain.

Begitulah gue menghafalnya. Jadi waktu gue jawab, gue sebutin semua kategori i dulu, baru kategori ii, kategori iii sampai seterusnya. Ini membuat kalian berpikir teratur dan tertata rapi.

Masalahnya, kalo ada temen gue nyebutin negara-negara tersebut secara acak, gue nggak bisa ngafalinnya karena di dalam otak, gue udah terkonsep sama kategori-kategori tersebut. Jika acak, maka bubar dah ingatan gue. Sama ketika lo menyusun kamar lo dengan rapi, lu bisa mencari benda dengan mudah dan mengambilnya tapi pas acak-acakan aja, susah nyarinya.

Simulasi Soal #3: Kata Kunci

Materi: Faktor yang mendorong terjadinya kerja sama antarnegara

  • Adanya hambatan dalam perdagangan antarnegara
  • Kebutuhan masyarakat dunia makin beragam
  • Adanya perbedaan faktor produksi
  • Adanya perbedaan ekonomi, sosial, budaya
  • Kemampuan suatu negara dalam memproduksi barang terbatas

Indikator Soal: Menyebutkan faktor-faktor yang mendorong terjadinya kerja sama antarnegara

Ada kalanya di mana materi yang kita pelajarin harus dihafalin semuanya. Kalau begitu maka tidak bisa memakai simulasi soal pertama. Untuk bentuk materi yang ini, agak susah jika memakai simulasi soal kedua. Maka ada satu cara yang sebenarnya bukan ala gue, tapi cara yang banyak murid lakukan.

Dalam uraian di atas, kita nggak perlu menghafal seluruh kata dalam kalimat. Kita hanya perlu menghafal kata kuncinya saja, kata lain bisa dibuat sendiri. Setelah diringkas, maka kata kunci uraian tadi adalah sebagai berikut.

  • Hambatan perdagangan antarnegara
  • Ragam kebutuhan masyarakat
  • Perbedaan faktor produksi
  • Perbedaan eko, sosbud
  • Terbatasnya kemampuan produksi negara

Nah begitulah kira-kira cara mencari kata kunci, sebenenernya sama seperti meringkas. Ini kadang-kadang juga gue pake.

Simulasi Soal #4: Visualisasi

Ada sebuah mitos atau kepercayaan mengatakan sebagai berikut, “Jika kamu menggunakan pensil saat ujian dengan pensil yang sama dengan yang kamu gunakan saat belajar maka pensil tersebut akan mengingat jawabannya”

Hmm, aneh nggak? Tapi patut dicoba juga. Bukan mitos atau kepercayaan jika belum ada orang yang sungguh-sungguh pernah mengalaminya.

Teori terkuat yang dapat mengungkap mitos tersebut adalah pensil digunakan sebagai media visual saat kita berusaha untuk mengingat materi yang sudah dipelajari.

Begini, jika lu gambar sesuatu, katakanlah pemandangan dua gunung begitu, di buku catetan lo di mana tersimpan semua materi yang kamu pelajarin, ketika lo lagi ulangan dan berusaha mengingat materi, lu pasti bisa nginget pemandangan dua gunung yang lo gambar di buku catetan lo. Seketika lo inget materi yang gue tulis di halaman itu. Ngerti kan apa yang gue maksud?

Kenapa kita inget gambar pemandangan dua gunung itu? Karena gambar tersebut kita buat sendiri, atau kita suka dengan gambar tersebut sehingga kita lebih mudah mengingatnya ketimbang materinya. Ya gini aja, lu gambar Spongebob di buku catetan, lo inget Spongebobnya ato materinya?

Nah itulah maksud mitos itu. Saat kita belajar, kita menggunakan pensil. Jika kita menggunakan pensil itu saat ujian, dengan mudah kita ingat bahwa pensil ini gue gunain waktu gue belajar. Prosesnya sama dengan contoh pemandangan dua gunung tadi. Lo liat pensil itu, lo inget kalo lu gunain pensil itu buat nulis materi dan seketika.. lo inget materinya. Jadi, pensil itu bukan ‘mengingat’ jawabannya tetapi pensil itu lah yang membantu kita mengingat jawabannya.

Materi: Membuka Microsoft Word pada Windows 2007

  1. Klik Start
  2. Pilih dan klik ‘All Programs
  3. Pilih dan klik ‘Microsoft Office
  4. Pilih dan klik ‘Microsoft Word 2007

Indikator Soal: Menyebutkan cara membuka Microsoft Word pada Windows 2007 secara berurutan.

Dalam bentuk soal yang ada tindakan dan perbuatannnya ini, bagi gue, cara visualisasi adalah cara yang paling bagus. Di dalam otak gue, gue menginput informasi itu dan merubahnya menjadi suatu cerita. Cerita itu ada gue, yang sedang mencoba untuk membuka Microsoft Word 2007 di komputer gue.

Gue ngebayangin secara visual tahap-tahapnya, mulai dari gue menggerakkan mouse gue untuk nge-klik Start sampai akhirnya gue berhasil membuka Microsoft Word 2007.

Jadi saat ulangan, gue nggak perlu nginget-nginget hafalan seperti di atas, bikin penet kepala, gue tinggal ngebayangin bener-bener di otak gue gimana cara ngebuka Microsoft Word dan gue tulis dah tahap-tahapnya di lembar kertas gue.

Dan ngebayangin kayak gitu bikin otak gue nggak penet.

5. Perhatikan kondisi tubuh dan otak

Namanya belajar, janganlah terlalu memaksakan diri, yang ada belajarnya nggak maksimal. Itu lah yang selalu gue pegang dalam belajar.

Ibu gue, ketika bekerja, kalo udah yang namanya ngantuk nan capek, pasti bakal berhenti. Nggak bisa dipaksa karena kondisi ibu gue yang sudah cukup tua. Walaupun itu deadline ato apa, tetep aja ibu gue nggak bisa mengorbankan kesehatannya demi pekerjaan.

Nggak seperti temen-temen gue lainnya, kalo gue nggak melakukan aktivitas bergerak maka gue jam 8 bisa udah ngantuk. Aktivitas bergerak misalnya jalan-jalan, lari, bersih-bersih dsb. Namun kalo nggak bergerak misalnya main komputer, nonton TV dan termasuk belajar. Melakukan aktivitas tidak bergerak memang akan membuat tubuh menjadi relax tapi relaxnya bisa keblablasan ampe tidur.

Nah, gue kalo belajar nggak pernah tinggal diam. Gue biasanya duduk di atas tempat tidur gue. JANGAN PERNAH TIDURAN. Ngantuk malah. Setelah gue mencoba menghafal, gue berdiri dan menatap cermin sambil komat-kamit ngomong sendiri tentang materi yang gue pelajarin.

Inilah tips kenapa gue kalo presentasi bisa lancar. Karena gue sudah terbiasa membaca sambil mengeluarkan suara. Nggak diem.

Ketika otak udah mulai penet, janganlah memaksakan diri. Ambil istirahat, beberapa menit cukup. Lakukan apapun saat beristirahat untuk me-relax-kan otak, seperti merenggangkan tubuh, cuci muka, berdiam diri merenung atau tiduran. Iya, tadi gue nyuruh biar lu nggak pernah tiduran. Tapi kadang-kadang, tiduran bikin otak menjadi relax dengan waktu yang cepat. Nah resikonya yang gue takutin, keblablasan.

Jika mata lu udah mulai buka-nutup-buka-nutup maka saatnya lu tidur. Makanya, selalu belajar jauh-jauh sebelum jam tidur lu biar belajar lu nggak usah dipaksa harus begadang semaleman.

***

Mungkin itu aja yang bisa gue bagi dalam artikel ini.

Pernah bertanya-tanya nggak kenapa kebanyakan meja belajar terbuat dari kayu?

Ada satu mitos atau kepercayaan dari Inggris yang berbunyi, “Jika kamu ingin sesuatu yang baik untuk terus berlanjut, cobalah menyentuh kayu”

Di Inggris, mereka percaya bahwa roh baik tinggal di pepohonan. Beda dari yang kayak di sini. Malah sebaliknya.

Jika dalam belajar, baik di sekolah atau di rumah atau di manapun, lu berhasil mengingat sesuatu. Atau di sekolah lu dapet nilai bagus, atau lu berhasil memahami sesuatu yang sulit, sentuhlah kayu. Seperti perkataan mitos tersebut, hal baik tersebut akan terus berlanjut.

Makanya, kalo di sekolah, jangan pernah ngegebrak meja, mukul-mukul meja, nendang meja yang terbuat dari kayu. Jangan sampai roh baiknya pergi! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s