What is It Like to Have More Than 1 Family — Part 2

Setelah mengetahui hubungan antar ketiga keluarga maka kita bisa lanjut ke pengalaman liburannya.

Mungkin kalian bertanya, “Kenapa sih musti dijelasin awal perkenalan bla bla bla kalau cuma mau nyeritain pengalaman liburan?” Well, kalo gua nggak jelasin siapa itu Pamali maka cerita mungkin nggak akan seru. Mungkin kalian cuma, “Oh, dia pergi sama Tasya” Padahal kalau kalian tau back story-nya, mungkin impression kalian dapat berbeda 🙂

Liburan Natal kemarin tidak digunakan Pamali untuk bepergian jauh. Sebenernya ada sih rencana untuk pergi ke Thailand atau ke Lombok namun bapak gue ditunjuk sebagai Koordinator Seksi Perlengkapan untuk acara Natal sehingga harus tetep stay agar bisa memonitor segala pekerjaan yang berkaitan dengan perlengkapan.

Karena itu lah, Pamali memutuskan untuk menginap selama 3 hari 2 malam di sebuah villa di Puncak. Ini setelah Natal lewat dan bapak sudah tidak ada pekerjaan lagi. Villa ini pernah digunakan juga oleh Pamali saat liburan tahun lalu. Kita menginap dari tanggal 30 Desember 2014 sampai 1 Januari 2015. Selain membawa main family dari Pamali, ada juga saudara-saudara dari Keluarga Djamil dan Keluarga Muljono. Total ada sekitar 27 orang memeriahkan acara New Year kali ini.

Hari pertama merupakan hari bebas. Semua orang bisa melakukan apa saja karena acara dimulai pada hari kedua, saat New Year’s Eve. Kelompok cowok anak-anak kedatangan 3 anggota baru yakni si kecil Evan, sepupunya Aris dan Ryan serta 2 bersaudara Haikal-Raisyad. Kelompok cewek pun juga kedatangan 3 anggota baru: temen sebayanya Kiara, Jessie, kakaknya yaitu Tania dan sepupunya Tasya dan Frans, Lidya. Sebenarnya ‘anggota-anggota’ baru ini sudah pernah beberapa kali berpergian bersama dengan Pamali, kecuali keluarganya Lidya. Dalam waktu yang tidak begitu lama pun, kita semua sudah akrab.

Bapak gue sampe repot-repot membawa satu set Home Theatre untuk mengusir kebosanan saat tidak ada kerjaan dan memenuhi permintaan para ibu-ibu. Ohya satu lagi kesamaan di Pamali, semua ibu-ibu suka banget yang namanya drama Korea. Hadeh.

Untuk kelompok cowok-cowok, kecuali Evan yang masih kecil, kita habiskan sore hari dengan bermain futsal. Kelompok kita melawan penghuni villa lain yang umurnya sudah besar-besar. Frans tidak bisa ikut bermain karena masih dalam tahap pemulihan dari ‘ritual pendewasaan diri bagi para lelaki’. Lucu juga melihat dia harus jalan ngangkang :v

Bapak-bapak dari grup kita pun juga nggak mau kalah. Achong dan Om Titi pun ikut dalam permainan. Achong adalah ayah (atau kakek?) nya Tania dan Om Titi adalah ayah dari Evan, saudaranya Keluarga Muljono.

Pada malam hari, kelompok cewek dan kelompok cowok bersatu untuk bermain kartu. Permainan 41 menjadi pilihan. Walaupun main 41, kita bermain sampai dengan 7 orang. Hoki-hoki aja tuh milih antara Hati, Daun (Kebo), Wajik (Diamond) sama Keriting. Berbagai strategi harus dijalankan, antara lain Formasi Mutualisme Pemain, sebuah strategi untuk bekerjasama dengan pemain di sebelahnya. Formasi Yang Penting Nggak Belang juga digunakan setiap pemain. Strategi di mana menyamakan kartu agar tidak belang menjadi prioritas utama (karena banyak pemain). Formasi Pasrah Sudah juga digunakan.

Hari kedua adalah hari persiapan untuk acara New Year’s Eve malam hari nanti. Saat kelompok orang dewasa memasak, kelompok anak-anak pun berbelanja. Ini lah challenge. Anak-anak yang nggak pernah memiliki pengalaman berbelanja diharuskan untuk memilih buah dan sayur terbaik, pandai menghitung harga dan latihan fisik berjalan jarak menengah. Dari villa, tempat untuk membeli sayur dan buah terdekat lumayan bikin capek kaki.

Malam hari tiba, bapak gue memandu acara yang sebenernya adalah gabungan beberapa permainan. Bapak telah mempersiapkan berbagai permainan.

1. Jidat Angka

Masing-masing orang dipasangkan sebuah angka di jidatnya, entah itu 5, 10, 20, 25, 50 ataupun 100. Bapak gue akan meneriakkan sebuah angka seperti 125. Nah, pemain harus mencari pemain lain agar jumlah angka di jidat mereka sama dengan apa yang diperintahkan bapak gue. Tentu saja, permainan ini memerlukan kejelian mencari dan matematika. Wohoho…

2. Suit Alkitab

Di Alkitab, ada yang namanya Delila, Singa dan Samson. Dikisahkan Samson memiliki badan kuat yang bisa mengalahkan Singa namun kekuatannya hilang saat Delila mengkhianatinya. Permainannya sama seperti suit, Gunting-Batu-Kertas, hanya saja diganti dengan Delila-Singa-Samson. Samson kalah dari Delila dan menang atas Singa, Singa kalah dari Samson dan menang atas Delila dan Delila kalah dari Singa dan menang atas Samson. Nggak begitu saja permainannya.

Bapak gue membagi grup menjadi 2, lelaki dan perempuan. Mereka berhadap-hadapan. Pada hitungan ketiga, mereka harus membuat gerakan entah itu Delila, Singa atau Samson sehingga harus direncanakan dalam kelompok terlebih dahulu. Ya sama kayak suit biasa cuma pake gerakan :v

3. Kejar Ulet

Permainan ini terdiri dari 2 kelompok yang beranggotakan 5 orang. Lima orang ini berbaris dan tangan masing-masing orang harus memegang pundak orang di depannya kecuali orang terdepan. Permaniannya simple, orang pertama harus menangkap orang terakhir di kelompok lain dan begitu juga sebaliknya. Kejar-kejaran pun terjadi.

Permainan harus dihentikan gara-gara si Frans kesakitan. Tahap pemulihan ‘ritual pendewasan diri para lelaki’ juga ada sakitnya ternyata. Ya jelas, dia jalan-jalan lah, main lah padahal baru tahap pemulihan :v.

Jam menunjukkan angka 12 dan kembang api pun dinyalakan di mana-mana. Villa kita pun juga menyalakan kembang api sehingga kita pergi untuk melihatnya. Keren juga.

Kebersamaan tuh indah, betul nggak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s