Through Many Universes

Dari yang bayar sampe I Gusti Ngurah Rai  dengan layar besar-nan-lebar, beli CD hanya dengan Tuanku Imam Bondjol berkolaborasi dengan Pangeran Antasari ato download dan streaming dari Internet, ada banyak cara yang bisa menjadi alternatif pilihan untuk nonton film kesukaan. Apalagi kayak gue yang suka banget nonton film.

Hampir semua genre film gue suka, kecuali drama. Mungkin karena pewarisan sifat dari ayah gua yang tergolong dominan. Bapak dan gue nggak begitu suka yang namanya film drama. Bagaikan kutub utara magnet ketemu kutub selatan magnet, ibu dan adik gue yang tertua suka banget film drama (+Korea). Sedangkan adik gue yang paling muda? She prefers cartoons. Walaupun begitu, keluarga gue bisa ngumpul bareng dan bersama-sama nonton film yang semua anggota suka. Gatau deh ada film kayak gitu apa nggak.

Sudah mengalir di DNA keluarga yang namanya jatuh cinta sama film. Terhitung antara 1-2 bulan sekali, kami bisa pergi ke bioskop untuk nonton film terbaru. Atau hanya sekedar nonton CD bajakan yang dibeli di abang-abang di rumah. Semuanya sama-sama satisfying, selama kualitas gambar bagus dan sub Indo-nya nggak ngaco, sudah cukup buat gue.

Dipikir-pikir, banyak orang seusia gue yang lancar Bahasa Inggris karena terbiasa nonton film berbahasa Inggris tanpa sub. Gue nggak bisa begitu. Telinga gue agak terganggu sehingga gue nggak mau buang-buang energi untuk fokus nonton+understand what they mean. Denger aja susah, apalagi ngerti. Bahkan kalau filmnya punya plot yang membingungkan. Dah tuh.

Walaupun gue penggemar film, gue bukan tipe-tipe orang yang suka nge-kritik film: gimana aktornya acting lah, character develeopment-nya lah, pelatarannya lah. I have only two opinions: it’s good or it is not. And confusing plot, so let’s make it three.

Confusing plot tuh misalnya film kayak “The Captive” ato “Lucy”. Film-film tersebut berhasil membuat gue bertanya-tanya, “Itu siapa?”, “Loh? Kok gini?”,
Lah tuh siapa lagi?”, “Kok gue ngabisin 25 ribu gue buat film ginian -_- (so true)” It makes me think, or should I say.. it forces me to think.

Separah-parahnya film yang punya confusing plot, lebih parah lagi film yang PHP. Salah satunya, “Hunger Games: Catching Fire”. Film “Hunger Games” sebelumnya membuat saya tertarik untuk menonton sekuelnya karena saya nggak pernah baca novelnya. Gue pikir di film kedua bakal banyak action so I was really looking forward to this movie. Permainan Hunger Game di film “Hunger Games” muncul setelah 5 jam berjalannya film. Hadeh..

Kita ke bagian serius aja dah, apa sih yang bikin gue suka film? Ketika gue nonton film, gue merasa gue masuk ke dalam film itu sendiri. It feels like I’m going to an adventure with the characters. Jadi udah berapa banyak ‘dunia’ yang udah gue jalani sampe saat ini? Banyak. Mulai dari dunia Narnia, Middle-Earth dalam trilogi “Lord of the Rings” dan “The Hobbit dan berjibun lainnya. Gue udah bertemu dengan banyak mahluk: Zombie, Dwarf, Elf, A Talking Tree (Groot), Alien, Monsters dan karakter fiksi dan nyata lainnya. Gue udah berada dalam segala situasi: berada di sebuah stasiun di Jepang bersama seekor anjing yang selalu menunggu pemiliknya, berada di dalam sebuah rumah gelap-tak berpenghuni-seorang berdiri di ujung koridor, berada dalam sebuah bank dengan AK47 di tangan menembaki polisi yang berada di luar.

I have been to various universes, with each own beauty, story and curiosity (?)

Have you?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s