Social Life In Real Life

“Masa remaja adalah masa yang paling indah”

Agree, definitely. I love being a teenager, it’s like I don’t want to be an adult or go back to be a ‘hopeless’ childThere are so many things that you can do when you are in ‘teenager age’. Bandel-sebandelnya sampe survive dari ceramah mulai dari guru WK, BK, Kesiswaan, Kepala Sekolah, Kepala Yayasan sampe satpam sekalipun. Kepala mulai ‘durhaka’ kepada hati nurani hingga berubah menjadi ‘batu’ ato bisa gue bilang diamond saking kerasnya. Kisah percintaan bak “Winter Sonata” ataupun jurus kombinasi kombo UH, UTS, US, UP, UAS, UN, TO, SUP (?). And last but not leastschool life. Bukan pelajarannya tetapi kehidupan sosialnya.

Cie elah.

Sejak kecil, gue udah diajarin oleh kedua orangtua gue untuk selalu bersosialisasi. Ajaran itu terbukti. Bapak gue adalah seorang yang sangat disegani oleh orang-orang sekitarnya.. di RT, di RW, di sekolah gue, di tempat kerjanya bahkan di Gereja pun, bapak gue sangat dikenal dan sangat dihormati. Since that, I’ve decided that I want to be like my father.

Dan sekarang pun, gue bersyukur punya banyak temen. Nggak hanya yang cowok, juga yang cewek. Punya temen dari kedua belah pihak sangat bermanfaat daripada hanya dari satu pihak. Sama cowok terus, nggak pernah bisa mempelajari cewek lebih dalam. Sama cewek terus, dikira banci. Apalagi kalo sendiri…

Nyinggung tentang ‘kesendirian’, masa remaja seharusnya menjadi masa di mana kita berteman dengan banyak orang kan? How about ‘those’ people? 

Ironis memang. Saat guru BK dibuat puyeng dengan kelakuan geng-geng beranggotakan 5-10 personil yang solid-nya kayak apaan tau. Di bagian cermin yang lain, ada banyak orang yang bahkan dianggap nggak ada di kelas, atau gue nyebutnya ‘banyangan’.

Kenapa gue nyebut ‘bayangan’? Bayangan itu ada di sekitar kita, tidak banyak pengaruh ke kita dan ada-tidaknya bayangan pun nggak akan kita pedulikan. It’s like ‘those’ people. Katakanlah mereka sekelas dengan kita, selalu ada di kelas saat kita datang, selalu duduk di barisan depan… but we never noticeThey don’t talk much, or even they don’t talk at all. Never contribute in the class. Passive-being and always don’t want to get in too much trouble. For example, when they were absent today, did you realize? When they left, did you notice?

Memiliki teman seharusnya menjadi bagian dalam hidup seorang remaja. Bersama teman, kita dapat bermain, belajar dan melakukan hal-hal gila bersama. Hidup nggak akan selalu kaku. Dateng ke sekolah, duduk anteng di kelas, merhatiin guru, pas istirahat makan anteng, belajar lagi fokus, pulang tanpa kesan berarti.

How was school?

As usual

Pernah merasakan diri lu sendiri walaupun lu berada di tempat ramai sekalipun?

Maybe, it’s what it feels like.

Menjadi sendiri pun jelas-jelas bukanlah sesuatu yang bagus. Ketika mengalami masalah ataupun depresi berat, seseorang membutuhkan seorang teman yang bisa mendukungnya, walaupun hanya sebagai tempat curhat. Manusia itu bagaikan danau dan masalah adalah kotoran yang ada di dalamnya. Semua manusia punya masalah masing-masing sehingga semua ‘danau mempunyai kotoran’. Oleh manusia itu, masalah itu dipendamnya. Ada saatnya ketika ‘danau’ mencapai kapasitasnya sehingga nggak bisa bertahan lagi. Hal itu dapat berakibat sesuatu yang lebih buruk… narkoba, rokok, minuman keras, pergaulan bebas, bunuh diri…

Tetapi, ‘danau’ tersebut tidaklah sendiri. Masih ada ‘danau-danau’ lainnya. Seseorang yang memiliki masalah dapat mencurahkan isi hatinya ke siapapun yang bisa dipercayainya. That’s essential. Ketika seorang curhat ke orang yang lain, maka ‘danau’ tersebut mengalirkan ‘kotorannya’ ke ‘danau’ yang lain, yang bisa menampungnya hingga pada waktunya akan hilang.

Curhat adalah ‘sungai’ nya.

Tidak ada orang yang membutuhkan teman, semua orang BUTUH teman.

Ketika gue jadi seorang bapak nanti, gue akan seneng ketika anak gue pergi ke rumah temennya, atau sekadar bermain di luar bersama teman-temannya. That means he/she has friends. I, as a father (one day), doesn’t want my children to be alone. Gue akan seneng banget jika anak gue menjadi seorang yang aktif di kelasnya. Dia banyak ngobrol pun gue akan seneng. At least he/she isn’t living in such a boring life.

Now, look at around you. Is there any lonely people there?

Or, it’s you?

Doesn’t matter now… MAKE FRIENDS! That’s what important 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s