Topeng dan Mbah Prayit

Saya waktu itu adalah seorang anak kecil yang duduk di bangku kelas 6 SD. Ketika ibu mengajak saya pergi ke Bali, saya senang bukan kepalang. Itulah kali kedua saya pergi ke Bali, setelah setahun sebelumnya pergi ke pulau yang sama. Walaupun tujuan utama kami ke Bali bukan untuk berlibur namun ibu merencanakan untuk pergi ke destinasi wisata yang tahun sebelumnya belum sempat dikunjungi. Yap, saya makin senang bisa mendapatkan kesempatan emas itu dibanding kedua adik perempuan saya yang masih kecil-kecil.

Salah satu destinasi wisata yang belum sempat dikunjungi pada tahun sebelumnya adalah Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma (RTWSD) yang berlokasi Gianyar, dekat dengan Ubud. Setia Darma merupakan objek wisata budaya Bali yang terkenal. Sebelumnya, ibu menjelaskan bahwa kita akan bertemu dengan seseorang yang dulunya adalah guru seni tari ibu saya sewaktu kuliah di Universitas Udayana. Beliau sekaligus adalah pemilik dari Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma ini. Wah wah wah …

Saat kami sampai di Rumah Topeng tersebut, kami mengunjungi sebuah rumah tradisional Bali. Ibu saya berkata bahwa orang tersebut tinggal di dalamnya. Saya melihat sekeliling. Tidak tampak seperti rumah kebanyakan. Malah rumah ini terkesan kosong dan tak berpenghuni. Rumah ini juga kecil, kira-kira hanya muat 1 ruangan dengan 1 kamar mandi. Jelas rumah ini hanya didiami oleh 1 orang saja. “Maaf Ida, tadi baru siap-siap” kata seorang tua keluar dari dalam rumah. Saya melihat sekilas ke dalam rumah. Hanya ada 1 tempat tidur single, 1 buah TV, 1 kursi dan 1 meja. Sederhana sekali. Bapak tua ini kelihatan sehat dan kuat. Masih bisa berdiri tegap, memakai kacamata dan topi “pelukis” serta mempunyai jenggot serta kumis putih yang lumayan lebat. Namun, siapakah sebenarnya bapak tua ini? Beliau adalah Agustinus Prayitno (baca : Prayetno), biasa dipanggil Mbah Prayit. Beliau adalah seorang seniman topeng Bali asal Jawa Timur. Umurnya kira-kira 67 tahun. Beliau terlihat fasih berbahasa Jawa saat berbicara dengan ibu. Kami pun diajak oleh Mbah Prayit untuk melihat-lihat koleksi topeng yang ada di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma. Beliau bercerita bahwa dirinya dulu hanyalah seorang “pemulung” topeng. Beliau suka mengumpulkan topeng-topeng yang dibuang ke dalam tempat sampah. Karena kecintaannya pada topeng, beliau mulai mengumpulkan topeng-topeng tersebut sampai beliau bisa mendirikan Rumah Topeng ini. Satu kata yang menggambarkan kepribadian Mbah Prayit, ramah. Hanya beberapa saat, saya sudah tidak canggung lagi berbicara dengan Mbah Prayit. Satu hal yang unik dari Rumah Topeng ini adalah pengunjung tidak dipungut biaya apapun untuk masuk ke dalam rumah ini.

Wow.

“Uang bukan segalanya to. Uang bisa dicari. Rumah ini untuk semua orang yang ingin belajar” kata Mbah Prayit. Satu lagi yang membuat saya kagum dengan Mbah Prayit, kesederhanaannya. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma terdiri dari 4 rumah joglo. Semuanya memiliki ukuran yang berbeda dari yang besar sampai yang kecil. Kami diajak masuk satu per satu oleh Mbah Prayit. Ketika saya iseng untuk melihat buku tamu, betapa kagetnya saya. Hampir semua orang yang berkunjung ke sini adalah wisatawan asing. Malaysia, Perancis, Jerman, Amerika Serikat, Singapura dan masih banyak lagi. Jumlah orang Indonesia kalah jauh dibanding dengan jumlah wisatawan asing. Miris sebenarnya namun sekaligus juga bangga melihat jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke sini.

Wow… Tak seperti yang kubayangkan, topeng-topeng di keempat rumah joglo ini SANGAT BANYAK. Ribuan mungkin jumlahnya. Koleksinya juga sangat lengkap. Dari topeng yang dipakai untuk upacara adat sampai topeng keagamaan. Mereka semua digantung di dinding rumah. Banyaknya topeng yang ada juga menimbulkan rasa paranoid sendiri bahwa topeng itu memiliki jiwa. Serasa mereka akan bergerak sendiri saat malam tiba. Topeng-topeng tersebut banyak yang berupa sumbangan oleh pihak tertentu dan ada pula yang harus mendapatkannya dengan susah payah. Keren!

Setelah kami selesai melihat-lihat, Mbah Prayit memberitahu kami bahwa pada malam nanti akan ada pertunjukkan Tari Topeng yang akan diselenggarakan di Rumah Topeng itu. Pertunjukkan ini diminta sendiri oleh wisatawan asing asal Australia! Betapa beruntungnya saya! Beliau mengatakan bahwa pertunjukkan seperti itu tidak dilakukan secara rutin melainkan hanya jika ada permintaan dari orang tertentu. Kemudian ibu saya bertanya mengenai rekomendasi tempat makan di Ubud. Kami memang sudah lapar dari tadi karena hari sudah siang dan kami belum makan. Mbah Prayit merekomendasikan sebuah tempat makan bernama “Warung Pulau Kelapa” yang berada di Ubud. Kami pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Mbah Prayit.

Setelah dari Rumah Topeng, kami langsung menuju tempat makan yang direkomendasikan Mbah Prayit. Bangunan rumah makan ini bercirikan Bali yang sangat kental. Kami pun makan di situ dengan lahapnya seraya ibu bercerita tentang Mbah Prayit. Setelah makan, kami pergi ke kasir untuk membayar dan betapa terkejutnya kami. Biaya makan kami sudah terbayar! Ibu tidak percaya dan memaksa untuk membayar makanan dengan uang kami sendiri namun sang penjaga kasir menolak. Kami pun penasaran dan sang penjaga kasir mengantar kami ke bagian belakang restoran. Yap, siapa lagi kalau bukan MBAH PRAYIT! Ternyata selama makan, kami telah di”intai” oleh Mbah Prayit dari ruang CCTV. Mbah Prayit menceritakan bahwa setelah kami pergi, Mbah Prayit pun juga langsung berangkat ke restoran dengan lewat jalan yang lebih cepat. “Tapi kok bisa Mbah ada di ruang CCTV?” tanya saya waktu itu dengan polosnya. Mbah Prayit hanya enteng menjawab, “Wong saya yang punya”

WAHHHHHHHHHH!

“Tapi kok bisa Mbah Prayit tau kalo kami bakal ke sini? Kan bisa aja kita makan di tempat lain” tanya saya lagi. “Tau dehh, mungkin hanya beruntung” jawab Mbah Prayit dengan memasang senyum. Mbah Prayit kemudian mengajak kami ke bagian paling belakang restoran. Di sana terdapat sawah yang sangat luas. Juga terdapat kebun sayuran dan buah-buahan di bagian pinggir. Pemandangan alam Ubud yang begitu indah menghiasi bagian belakang sawah ini. Mbah Prayit mengatakan bahwa sebagian bahan makanan dari restoran dihasilkan sendiri oleh kebun serta sawah ini. Wahh.. sejak saat itu saya mulai mengagumi sosok Mbah Prayit.

Pada malam hari, kami sudah duduk di depan salah satu rumah joglo di mana akan diadakan pertunjukkan Tari Topeng tersebut. Kami dibagikan nasi box bertuliskan “Warung Pulau Kelapa”. Saya hanya tertawa sendiri mengingat kejadian siang tadi. Pertunjukkan dimulai. Awalnya, tarian diiringi narasi yang memakai bahasa daerah Bali yang tidak saya mengerti. Namun kemudian narasi memakai Bahasa Indonesia, lalu Bahasa Inggris. Gamelan khas Bali juga mengiringi pertunjukkan tersebut. Setelah pertunjukkan, wisatawan asing asal Australia itu mulai bertanya-tanya mengenai bermacam hal.

Saya dan ibu bertamu ke rumah Mbah Prayit yang “sebenarnya”, yang ternyata sangat dekat dengan rumah tempat tinggal ibu saat masih kuliah di Universitas Udayana. Di dalam rumah, banyak sekali artefak-artefak, kerajinan tangan tradisional dan pastinya.. topeng. Saya pun juga menjadi berhati-hati untuk tidak sembarangan bergerak karena takut merusak sesuatu.

Saat Mbah Prayit berbicara dengan ibu, saya pun melihat-lihat sekeliling rumah. Mata saya tertuju pada sebuah artikel koran yang telah digunting rapi dan ditempel pada papan kayu. Artikel koran itu menceritakan tentang Mbah Prayit. Salah satu kalimat yang sangat mengena adalah ketika Mbah Prayit tidak ingin disebut sebagai “seniman” melainkan hanya ingin disebut sebagai “kolektor” topeng atau bahkan “pemulung” topeng. Sejak saya itu, Mbah Prayit adalah sosok yang selalu ada di pikiran saya. Betapa beruntungnya saya bisa bertemu dan bercengkerama dengan seorang kolektor topeng Bali yang terkenal dan tentunya memiliki filosofi hidup yang sangat bermakna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s