Teka-Teki Lucu Kampret Bareng Temen

Lu tau masa kecil lu kurang bahagia ketika lu udah kelas 12 SMA, SBMPTN bentar lagi, pas pulang sekolah bukannya les, belajar atau pulang ke rumah tapi malah duduk melingkar bareng 8 temen lo, di koridor sekolah, main tebak-tebakan.

SELAMA SATU SETENGAH JAM PENUH!

Ini sebenernya bukan sembarang tebak-tebakan yang kayak:

“Kenapa dinosaurus nggak bisa tepuk tangan?”

“Karna mereka udah mati YHAAAA”

Tebak-tebakannya lebih masuk ke kategori ‘teka-teki’ atau riddle yang lebih bikin mikir, butuh kemampuan analisa yang mumpuni, serta kesiapan untuk dibego-begoin kalo nggak bisa jawab.

Main teka-tekinya gampang. Kami berdelapan duduk melingkar, ada satu orang yang bakal pertama kali mengajukan sebuah teka-teki memiliki dua struktur bagian: petunjuk dan pertanyaan. Teka-tekinya lalu dijawab oleh orang lain (kalo udah tau). Nah buat mereka yang kaga ngerti, temen-temen yang udah tau bakal terus ngasih pertanyaan yang berbeda beserta jawabannya ampe kita berdelapan ngerti semua.

Ada teka-teki yang baru sekali ditanya, udah sebagian besar ngerti. Ada juga yang udah berulang kali ditanya ampe maghrib, masih aja ada satu orang bala yang kaga ngerti-ngerti.

Langsung cek bae dah beberapa teka-tekinya:

1. Bumi itu bulat (Gampang bat) Continue reading

Advertisements

One Piece | Apa Buah Iblis yang Paling Berbahaya?

Dalam serial One Piece, Buah Iblis adalah salah satu sumber kekuatan utama yang dimiliki oleh tokoh-tokohnya, bahkan tokoh protagonis kita pun adalah seorang pengguna Buah Iblis. Artikel ini bukan tentang Buah Iblis terkuat (karena mainstream abis) namun Buah Iblis paling berbahaya yang sudah kita ketahui sejauh ini.

Kalo pertanyaan pertama lo adalah, “Wey, ‘terkuat’ sama ‘paling berbahaya’ bedanya apa?” maka tolong berhenti membaca sejenak dan renungkan dulu pertanyaan lo itu, atau lo bisa baca terus artikel gue dan buang jauh-jauh pertanyaan itu. Pada akhirnya, gue jamin lo bisa ngerti apa maksud gue.

Ketika berbicara apa Buah Iblis yang paling kuat maka kita tentu saja bisa menjawabnya dengan mudah. Di artikel mana pun di Internet, buah-buah Iblis di bawah ini sudah sangat mainstream dianggap sebagai yang terkuat:

  • Gura Gura no Mi (Gempa-Gempa); milik Marshall D. Teach, dicipet dari Whitebeard
  • Yami Yami no Mi (Gelap-Gelap); juga punyanya Marshall D. Teach
  • Goro Goro no Mi (Petir-Petir); milik Enel
  • Ope Ope no Mi (dari kata operasi); punyanya Trafalgar Law
  • Pika Pika no Mi (Terang-Terang); Admiral Kizaru punya
  • Magu Magu no Mi (Magma-Magma); kepunyaan Admiral Akainu
  • Hito Hito no Mi, Model: Daibutsu (Manusia-Manusia, Model: Patung Buddha); milik Sengoku
  • Hie Hie no Mi (Es-Es); Admiral Aokiji punya
  • Gomu Gomu no Mi (Karet-Karet); yakali lu gatau punya siapa
  • Buah Iblisnya Marco, yang membuatnya dapat berubah menjadi seekor Pheonix

Buah-buah tersebut ada yang terkenal karena tingkat kehancurannya yang amat besar, kecepatan yang dihasilkan, jurus-jurus mematikan yang bisa dipakai, dsb. Tetapi, saudara-saudariku terkasih, ada satu Buah Iblis yang amat mematikan, amat berbahaya bahkan efek yang ditimbulkan lebih berbahaya daripada bikin orang mati.

Buah Iblis ini sangatlah underrated; tidak banyak orang yang pernah membahasnya ataupun sampai memasukkannya dalam daftar Buah Iblis terkuat di Internet. Bahkan lo mungkin saja tidak familiar dengan Buah Iblis ini. Continue reading

Berpikir Positif: Masih vs Tinggal

Bosan.

Walaupun tubuhku berada dalam ruang sempit ini, pikiranku berkelana bebas di dunia lain. Bukan di alam bawah sadar atau dimensi lain yang diceritakan dalam film horor, Insidious namun di sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dan tidak akan pernah aku lihat dengan kedua mataku, yakni Inggris pada tahun 1800-an.

Sedikit misterius memang bahwa 300 lembar kertas yang sangat tipis dan rapuh bisa membawamu ke dunia yang takkan pernah disentuh manusia mana pun. Dunia itu hanya ada dalam pikiran manusia; muncul saat kita membaca kata pertama dan hilang seraya kita berhenti mengucap.

Petualangan duo Sherlock Holmes dan Dr. Watson tidak akan pernah berhenti untuk membuat diriku terus membaca, terkagum dan terheran-heran. Bagaimana Holmes dapat memecahkan kasus-kasus sulit dengan kemampuan nalar serta logika yang di luar batas, dengan ditemani seorang sahabat sekaligus rekan kerja yang setianya bukan main.

Aku memuji diriku karena dapat duduk di bangku paling belakang sehingga bisa bertemu dengan dua orang hebat dari masa lalu tersebut. Persaingan di kelas memang bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan nilai paling bagus atau prestasi terbanyak namun justru persaingan terketat dari semua kompetisi mana pun di dunia adalah mendapatkan bangku sebelakang mungkin dari papan tulis.

Terkesan agak hiperbola tetapi bukanlah omong kosong. Aku harus bersaing dengan 15 teman laki-laki di kelasku setiap pagi hari selama 3 tahun untuk dapat menaruh tasku di bangku paling belakang dan dengan bangga mendeklarasikan, “Ini bangku gue, lu pindah”

Buku mata pelajaran PKN terbuka lebar di atas meja namun perhatianku tetap tertuju pada novel yang secara sembunyi-sembunyi aku buka di bawah meja. Samar-samar aku mendengar 3 orang temanku sedang presentasi di depan kelas, entah kepada siapa. Siapapun pasti sependapat bahwa tidak ada yang memperhatikan.

Malah apa yang mereka lakukan itu tidak layak disebut ‘presentasi’, mereka hanya murni membaca indah slideshow Powerpoint yang diperlihatkan dengan proyektor di depan kelas tanpa bermaksud menjelaskan apapun. Ditambah lagi, materi yang mereka baca hanya copy-paste dari buku paket sehingga apa yang mereka ‘presentasi’-kan sudah lengkap ada di buku.

Ya bagaimana orang  mau memperhatikan kalau begitu.

Aku duduk bersama dengan temanku, Julio, yang juga sedang membaca buku tetapi buku itu berbanding terbalik dengan apa yang aku baca. ‘Avatar: The Last Airbender’ judulnya. Aang dan Holmes berasal dari tempat yang berbeda, umur mereka layaknya seorang kakek dan cucu, kemampuan mereka pun bagaikan pikiran tercerdas melawan hembusan angin terkuat namun petualangan mereka berdua sama-sama dapat menceritakan kisah yang menarik hati sekaligus menggugah jiwa.

Aku dan Julio adalah dua dari korban kebosanan dan ketidakpedulian yang melanda kelas saat ini, menjadikan kami lebih memilih menjelajahi serunya dunia fantasi ketimbang belajar di dunia nyata.

Sherlock Holmes sedang mencari petunjuk di Baskerville ketika bel sekolah berbunyi pendek, menandakan pelajaran telah berjalan selama 45 menit. Bel itu seakan menarik Julio dari Kerajaan Bumi kembali ke ruang kelas XI MIPA 3. Ia melihat jam tangannya lalu kemudian mengeluh kecewa, “Yah, masih satu setengah jam lagi”

Aku menghentikan Holmes yang sedang menjelaskan hasil penyelidikannya dan tanpa berpikir panjang berkata kepada Julio, “Bukan masih satu setengah jam lagi, tinggal satu setengah jam lagi, Jul”

Tanpa menatapnya secara langsung, aku bisa merasakan hawa kebingungannya karena mendengar aku berkata seperti itu. Tentu saja, aku meneruskan, “Kalau kita berkata masih satu setengah jam lagi, waktu akan berjalan lebih lama. Beda kalau kita berkata tinggal satu setengah jam lagi. Waktu itu relatif, Jul. Cepat-lamanya waktu bergantung pada konsep pemikiran kita terhadap waktu itu sendiri.”

“Sebenarnya nggak selalu soal waktu tetapi lebih kepada bagaimana kita berpikir positif. Contohnya kita punya segelas es teh manis lalu kita minum setengahnya. Kalau kita berpikir negatif, kita akan mengatakan, ‘Yah, tinggal setengah’. Tetapi kalau kita berpikir positif, kita harus mengatakan, ‘Yes, masih setengah’. Dengan kita memakai kata ‘masih’, kita mengakui bahwa ada masih ada kesempatan untuk menikmati setengah gelas es teh itu, bukan justru kecewa karena kita telah meminum es teh itu sehingga tinggal setengahnya.”

Aku mengatakan hal itu panjang lebar dan Julio mengangguk, mungkin ia mengerti, mungkin saja malah tidak sama sekali. Kemudian, aku mempersilahkan Holmes untuk melanjutkan penjelasannya. Aku tidak percaya bahwa kata-kata yang baru saja aku ucapkan tadi, yang tidak kupikirkan sebelumnya, justru membuatku dan Julio memahami bagaimana mudahnya berpikir positif terhadap kehidupan.

(Cerita ini merupakan cerita nyata dengan sedikit perubahan)

Doa untuk Mereka yang Celaka

Sudah pukul 5 sore dan saya masih mengendarai mobil tua ini di jalan yang sudah saya kenal 30 tahun lamanya. Agak terasa nostalgia memang, jalan yang dulunya sepi, tidak terjamah malah beberapa tahun terakhir ini dikuasai oleh ‘mesin-mesin berjalan’ akibat banyak pabrik yang dibangun di sana dan sini.

Saya masih ingat betul betapa jalan ini sangatlah sepi sampai-sampai saya dan teman-teman saya bisa duduk di tengah jalan selama 10 menit sambil bermain kartu tanpa satu kendaraan pun membunyikan klakson.

Kiri-kanan ditumbuhi kelapa sawit, udaranya sejuk-sejahtera dan angin memeluk nyaman. Kalau sekarang, jalan yang dahulu jarang orang lewat berubah menjadi jalan lintas provinsi dengan debu yang amat kental di udara. Alhasil, kelilipan adalah hukuman bagi mereka yang membiarkan matanya terbuka bebas sebebas-bebasnya.

Agaknya, perkembangan kota ini selayaknya patut menerima penghargaan namun polusinya, ya Tuhan, juga satu di antara yang terparah.

Entah mengapa saya jadi merenungi sejarah dari jalan ini, mungkin karena merasa bosan. Di kelas mengemudi, saya paham betul kalau sedang mengemudi, kedua mata dilarang keras mengkhianati jalan. Tetapi kalau berhentinya lebih lama daripada bergeraknya ya apa boleh buat.

Saya tidak heran mengapa jalan pada sore hari ini begitu macet tetapi berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun menjadi pelanggan setia jalan ini, seharusnya tidak semacet ini. Sudah lebih dari 5 menit saya berada di posisi yang sama.

“Kok lama banget toh ya…” keluh saya dalam kebosanan yang luar biasa. Dalam keadaan seperti ini lah saya memarahi diri saya sendiri karena tidak segera membetulkan radio mobil yang telah lama rusak.

Selain bosan, saya juga kangen dengan keluarga di rumah. Biasanya jam segini, saya sudah berada di rumah, menonton berita di TV sambil minum teh hangat dan mendengarkan ributnya kedua anak saya yang berisik minta ampun. Lebih baik saya mendengarkan ocehan mereka daripada mendengarkan berisiknya kendaraan lalu-lalang, klakson dan para supir angkot yang mengumpat bersahutan.

Lama-lama berdiam di sini, rasa kesabaran saya juga diam-diam hilang. Tanpa berpikir panjang, saya bunyikan klakson saya, menandakan bahwa saya ikut berpartisipasi dalam pesta klakson yang sudah dimulai dari tadi. Walaupun tidak ada faedahnya sama sekali, paling tidak rasa kekesalan saya bisa diluapkan dengan bunyi klakson itu.

Kemudian saya melihat tiga orang anak SMA berjalan dengan gelisah di trotoar jalan. Saya dari dalam mobil hanya bisa mendengarkan secara samar-samar namun mereka mengatakan sesuatu tentang ‘kecelakaan’.

Oh, kecelakaan. Jadi itu yang menjadi penyebab kemacetan ini. Kecelakaan memang kerap terjadi di jalan ini, kebanyakan kecelakaan motor namun jarang yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin karena sudah bertahun-tahun melewati jalan ini, mendengar kabar bahwa ada kecelakaan yang terjadi tidaklah mengejutkan.

Saya menghembuskan napas panjang lalu meletakkan kepala saya di atas stir mobil, berusaha untuk santai sedikit. Dalam hati, saya hanya berharap agar macetnya cepat selesai, saya bisa sampai di rumah dan beristirahat dengan enak.

Tiba-tiba suara ketukan membangunkan saya. Saya melihat ke arah jendela mobil dan mendapati ada seorang anak berseragam SMA sedang berdiri di samping mobil. Saya menurunkan kaca jendela dan anak itu membungkukkan badannya agar kami bisa bertatap muka.

“Ada apa, Dek?” tanya saya dengan nada agak kesal, mungkin karena saya tiba-tiba dibangunkan olehnya atau macet yang berkepanjangan ini.

“Permisi, Pak, maaf. Saya hanya ingin memberitahu saja bahwa di depan ada kecelakaan, mobil nabrak motor. Seorang bapak yang naik motor itu meninggal di tempat” kata anak itu.

Saya jelas sangat terkejut mendengar penjelasan anak itu. Ternyata kecelakaan tersebut memakan korban jiwa. Saya merasa sedikit bersalah karena saya sudah membunyikan klakson dan kesal karena kemacetan ini, padahal ada seseorang yang meninggal tanpa sepengetahuan saya.

“Mm, mohon maaf, Pak, jika saya bertanya ini tetapi… apakah Bapak seorang Islam?” tanya anak itu dengan hati-hati, mungkin takut menyinggung tetapi tetap saja saya terkejut mendengar pertanyaan pribadi-agak-sensitif seperti itu.

“Oh, bukan, Dek, saya seorang Katolik” jawab saya mantap.

“Oh… Katolik, ya. Sebentar, Pak” katanya lalu berdiri dan celingak-celinguk mencari sesuatu atau seseorang. “Kristo! Kristo! Sini!” teriaknya. Setelah memanggil nama tersebut, ia lalu berkata kepada saya, “Bapak, silahkan berdoa dengan sepenuh hati bersama teman saya ini. Terima kasih, Pak” katanya dengan tersenyum lalu berjalan ke arah mobil di belakang saya.

Setelah ia pergi, seorang anak SMA lain mendatangi saya. “Selamat sore, Pak, nama saya Kristo. Bapak seorang Katolik? Mari, Pak, kita berdoa bersama untuk para korban kecelakaan di depan, khususnya untuk seorang bapak yang meninggal agar jiwanya dapat kembali ke sisi Allah Bapa dan yang ditinggalkan dapat menerima dengan tabah”

Saya amat sangat terkejut mendengar perkataan Kristo. Namun sebelum saya berpikir lebih panjang, Kristo membuat Tanda Salib. Secara spontan, saya pun juga mengikuti dirinya dalam doa dengan membuat Tanda Salib. Kristo memimpin doa dengan hikmat di tengah hiruk-pikuk jalan ini.

Kami memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas berkat dan hidup yang boleh kami terima sampai sekarang ini serta doa permohonan atas para korban: kesembuhan bagi yang terluka dan keselamatan jiwa bagi yang meninggal lalu menutupnya dengan doa Bapa Kami.

Kekesalan yang saya rasakan lama-kelamaan hilang selama saya berdoa bersama Kristo. Saya terjerumus dalam kekuataan doa yang damai dan menyejukkan. Sekiranya anak-anak SMA ini tidak datang menghampiri saya, mungkin saya akan tetap kesal dan lupa akan kewajiban saya sebagai orang yang beragama untuk mendoakan mereka yang tertimpa musibah. Seakan-akan Tuhan mengingatkan saya dengan mengirim anak-anak ini.

Setelah kami sama-sama mengakhiri doa dengan Tanda Salib, saya memandang Kristo sejenak lalu mengucapkan terima kasih. Saya lalu memuji Kristo dan temannya tadi yang telah berinisiatif untuk mengajak para pengendara yang terjebak macet untuk mendoakan para korban daripada menyimpan kemarahan di dalam hati.

“Terima kasih, Pak, ini sebenarnya inisiatif Rasyid, itu teman saya yang tadi pertama kali mennghampiri Bapak. Kami ada 9 orang, tadinya sedang berjalan pulang dari sekolah lalu kami sadar ada kecelakaan makanya macet. Kami berniat menolong tapi sudah ada banyak orang lain yang menolong. Nah, si Rasyid merasa kesal sendiri karena ada kecelakaan kok orang-orang malah membunyikan klakson lah, yang mengumpat lah. Jadi, dia berinisiatif untuk mengajak para pengendara untuk berdoa bersama sesuai agama masing-masing. Makanya tadi Rasyid memanggil saya karena Bapak dan saya sama-sama beragama Katolik sehingga doanya lebih hikmat. Seperti itu, Pak” jawabnya panjang lebar.

Saya sangat terpukau mendengar penjelasan Kristo, luar biasa bahwa mereka bisa membawa kedamaian di hati para pengendara dengan perbuatan yang suci pula. Setelah itu, Kristo undur diri dan berjalan ke belakang antrian kendaraan.

Kemudian, saya menutup kaca jendela saya dan melihat ke arah mobil yang ada di depan saya. Suara-suara klakson itu sudah mulai berhenti. Rasyid, Kristo dan teman-temannya sungguh melakukan perbuatan yang mulia. Saya membuat Tanda Salib lagi dan berdoa mohon ampun atas kesalahan yang telah saya perbuat di hari ini.

(Cerita ini tidak mengandung unsur SARA dan bukan cerita asli)

One Piece | Buah Iblis Jack Tidak Sehebat yang Diperlihatkan di Anime

Yap, gua berani nulis gitu pada judul artikel pada hari ini.

Salah satu cerita yang baru-baru ini terjadi adalah bagaimana Jack, atau “Jack the Drought” memporak-porandakan rumah dari suku Mink, yaitu Zou. Jack, seperti yang kita tahu, adalah seorang anak buah dari Kaido dan memiliki bounty yang sangat tinggi, sampai ke angka Beli1.000.000.000. Sejauh ini, bounty Jack adalah bounty tertinggi yang pernah diperlihatkan dalam serial One Piece, baik di manga maupun di anime.

Jack Anime Infobox

Jack adalah petarung yang amat kuat. Bounty-nya yang tinggi sudah menjadi bukti yang cukup bahwa Pemerintahan Dunia menggangap dirinya sebagai ancaman yang besar dan berbahaya.

Ia berhasil menenggelamkan 2 dari 4 kapal perang yang digunakan untuk mengawal Doflamingo, bertarung secara seimbang dengan kaum Mink, terutama para penguasanya: Inuarashi dan Nekomamushi selama 5 hari 5 malam berturut-turut tanpa berhenti (itu pun Inuarashi dan Nekomamushi selalu bergantian 12 jam sekali).

Bisa dibilang, dia emang monster. Ia memiliki kekuatan fisik serta daya tahan yang selevel dengan monster.

TAPI TAPI TAPI TAPI, tunggu dulu, yang mau gue bahas di artikel ini bukanlah mengenai Jack, melainkan tentang Buah Iblis yang ia makan, Zou Zou no Mi (Gajah-Gajah), Model: Mammoth. Buah Iblis tersebut adalah tipe Zoan Kuno, yang keberadaannya sangat langka. Continue reading

One Piece | Evaluasi AL #2 – Respon Masalah

<– Evaluasi AL #1 | Imigrasi Bajak Laut

Mari kita lanjutkan membahas tentang Angkatan Laut bodoh ini.

Masalah imigrasi bajak laut dari lautan Blue ke Grand Line atau dari Grand Line ke New World bukanlah yang terpenting yang harus diatasi oleh Angkatan Laut. Iya penting tapi ada yang lebih penting lagi.

Apakah personil Angkatan Laut telah mengambil langkah tepat dalam mengatasi para bajak laut tersebut?

Tindakan mengatasi yang sering dilakukan oleh para bajak laut adalah pertempuran, konfrontasi atau perlawanan secara langsung antara personil Angkatan Laut dengan para bajak laut tersebut.

Apakah sudah berhasil baik? Apakah responnya sudah tepat?

Monkey D. Luffy masih hidup. Nilai merah untuk Angkatan Laut. Continue reading